
Sementara David masih terluka akan mentalnya, Risha mengamati berbagai macam jenis tamu yang hadir di sekeliling mereka sambil mencari Mei dan Melida.
Semua tamu memakai pakaian mewah terkecuali Gori yang sudah ditolak David dan akhirnya menyendiri seolah-olah dia sedang mengalami dilema yang begitu berat. Tentu saja kalau ditolak begitu saja oleh cinta pertamanya, rata-rata kebanyakan dari orang seperti ini akan patah hati dan mungkin saja menyerah dibandingkan memilih untuk lebih berusaha lagi. Mengabaikan itu semua, Risha masih melanjutkan pencariannya.
Dia terus menyelinap dari grup-grup para tamu, dari yang biasa saja sampai dengan grup yang sangat mencolok. Saat dia tiba di sebuah grup yang paling tinggi kastanya, seseorang menahan Risha. Dia adalah seorang wanita terkaya dari para tamu yang ada, Driana Drinde.
"Tunggu dulu, Nona," pintanya membuat langkah Risha terhenti.
"Ada apa?"
"Gaunmu sangat indah, siapa yang memilihkannya untukmu Nona?" Driana mengabaikan perlakuan kurang sopan Risha dan masih berbicara seolah mereka itu sahabat dekat.
"Kebetulan, orang itu tidak ada di sini."
{Sebenarnya ini adalah rajutan yang aku buat seharian penuh hingga tidak sadar bahwa kondisi tubuhku sakit.} Karena tidak mungkin rasanya kalau dia bisa menjawab seperti itu, Risha menjawab seadanya saja dan membuat poker face yang sangat sempurna.
Griana menempelkan tubuhnya di lengan Risha dan orang lain menatap mereka seakan berkata "Ah, dia akan melakukannya."— dan entah kenapa, hal tersebut mengganggu Risha.
Driana mendekatkan mulutnya di dekat telinga Risha.
"Bagaimana kalau aku berikan sebuah penawaran .... "
Risha masih diam.
"Tinggalkan kekasihmu yang menyedihkan itu, lalu hidup bersamaku."
Deg!
__ADS_1
Risha mengernyitkan keningnya dan melepaskan pelukan Driana dari lengannya lalu bergegas pergi menuju David.
Semua orang bisa memaklumi hal tersebut, sedangkan Driana yang sudah ditolak dalam diam menutupi sebagian wajahnya karena malu.
...
Menyadari kedatangan Risha, David kembali pada kondisi normalnya dan menunggu kabar yang mungkin dapat membantu misi mereka.
"Tidak ada yang bisa kita lakukan di sini."
"Aku tahu."
David melirik kembali pada tiap tamu VIP yang hadir namun dia tidak menemukan dua orang itu. Ya, mereka adalah Mei dan Melida, sepertinya dua kembar itu memiliki agendanya masing-masing. Selain itu mereka juga tidak memberikan satupun kabar pada saat berpisah menuju peran yang sudah ditetapkan.
Jika mereka adalah penyerang, maka Mei dan Melida ialah sebagai pengalihan. Namun karena berbagai macam alasan dan kejadian, bisa saja peran mereka berganti tanpa pemberitahuan sedikitpun. Guna mengurangi bocornya berbagai macam informasi tentang misi mereka, itu adalah hal yang sangat lumrah.
"Pada dasarnya kita memiliki dua peran, kau pasti tahu akan hal itu bukan? Jika kita dianggap gagal, maka peran akan bertukar dan kita di sini harus selalu menarik perhatian dari yang lain."
"Tapi .... "
Risha terdiam setelah melihat ekspresi wajah David yang seolah mengatakan "Diam dan ikuti saja!" tanpa adanya emosi apapun.
Bisa dibilang ini adalah "Peran Silang" dimana dalam suatu organisasi, saat salah satu dari mereka gagal, maka yang lain akan bertukar tempat dengan mereka lalu menyelesaikan dan menyapu bersih kesalahan yang sudah dilakukan. Dalam pertarungan antara waktu dan tenaga manusia, tentu saja mereka juga searah layaknya jarum jam dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Semakin banyak sumber daya manusia, maka akan semakin cepat pula selesainya pekerjaan tersebut namun dalam hal ini mereka memiliki kekurangan yang cukup fatal.
David memikirkan kembali, apa saja yang dapat membantu dan jadi sumber daya bagi mereka agar bisa menang melawan waktu. Hingga pemikiran itu terus menerus berjalan, seseorang yang sudah mereka tolak berjalan dan menjadi satu grup, dimana grup itu terdiri dari ketua pria dan wanita yang terkuat di antara semua tamu. Balik lagi melihat kondisi mereka, David akan menyimpan opsi itu saat dia melihat kembali apa saja yang dapat mereka lakukan.
"Menurutmu, dimana mereka berdua?" Risha melirik kesana-kemari untuk mencari Mei dan Melida.
__ADS_1
"Entahlah, mungkin saja mereka sudah menjalankan rencananya sendiri. Saat ini kita perlu— .... " David terhenti karena melihat Mei dan Melida turun dari lantai dua dengan gaun yang sangat indah dibandingkan milik tamu gadis lainnya—kecuali milik Risha tentunya.
Si Kembar itu berjalan ke arah mereka dan saat ini, grup ini sudah mendapatkan perhatian yang sangat lebih dari tamu lainnya.
"Kenapa semua orang terlihat begitu menjijikan," ucap Melida yang tak senang dipandang oleh lelaki mata keranjang.
"Ahahaha ... anak ini bisa saja. Tentu karena kita adalah bintang di acara ini," Mei tertawa seakan-akan itu adalah hal yang lumrah karena dia sadar akan peranan mereka berdua sebagai pengalih perhatian.
Sementara pandangan banyak tamu tertuju ke arah mereka, Mei memberikan sedikit kode kepada David.
{Pergi ke taman belakang rumah dan toilet wanita} Itulah yang dibaca oleh David.
David mengangguk dan menarik lengan Risha dengan lembut. Mereka pergi ke arah toilet wanita sebagai target pertama.
"Kenapa kita harus kesini?" Risha memasang ekspresi sulit di wajahnya.
"Yang aku tahu, mereka itu sinting."
David membuka pintu toilet wanita dengan sangat hati-hati dari sisi samping dan benar saja, beberapa pisau beracun terbang mengarah pada orang yang ada di depan pintu. Mereka yang berada di samping selamat dari pisau-pisau itu. Tanpa adanya tanda sedikitpun, David maju duluan di dalam ruangan gelap itu.
David menajamkan kembali seluruh inderanya sambil berjalan dengan penuh kehati-hatian untuk menghindari jebakan yang masih disimpan. Namun dia terkejut karena Risha sudah berada di depannya. Risha langsung melihat ke arah sisi ventilasi bawah pada toilet tersebut, lalu membukanya dan masuk kedalam.
David ingin mengikutinya namun tiba-tiba saja ventilasi itu memiliki penutup lain seakan-akan itu adalah jebakan. Penutup itu tidak dapat ia terobos karena terbuat dari bahan yang tidak David kenali, dicoba dengan berbagai macam benda dari tajam hingga tumpul dan bersuhu panas, tidak ada tanda bahwa penutup itu akan terbuka begitu saja.
David mencoba menguping untuk mendengarkan langkah ataupun kabar dari Risha, terdengar bahwa langkah itu terus menjauh dan sepertinya dia baik-baik saja disana. Tidak ingin membuang waktu mereka lebih lama lagi, David bergegas menuju ke halaman belakang kediaman keluarga Rosenberg. Hanya butuh 10 menit baginya untuk sampai di sana, ia juga disambut oleh beberapa hadiah kecil, yaitu kehadiran kepala keluarga Rosenberg yang tengah memunggunginya dengan senyuman sinis.
"Jadi, ini semua sudah diperkirakan huh."
__ADS_1
Kepala keluarga Rosenberg mengeluarkan dua bilah pisau pada masing-masing lengannya dan bersiap untuk bertarung dengan David. Begitupun untuk David, dia juga sudah mengeluarkan dua bilah pisau seakan menerima tantangan duel yang adil dari lawannya. Mereka berlari ke arah satu sama lain dengan kecepatan penuh dan bertukar beberapa teknik tebasan.