Pembunuh Bayaran Lanjut Sekolah

Pembunuh Bayaran Lanjut Sekolah
29


__ADS_3

Tidak sampai 6 menit aku menuruni lantai 3 hingga ke lantai dasar gedung khusus dan kembali lagi. Jika aku berjalan dengan santai, mungkin pembicaraan mereka berdua sudah selesai ketika aku sudah kembali.


Well, aku tidak peduli gadis itu seperti apa, tapi nona V adalah klien pertama kami. Dengan kata lain, kemunculannya itu menandai permulaan pertempuran antara diriku dan nona Rose.


Yah, bukannya aku sudah berpikir akan kalah jika aku dari saat ini memikirkan bagaimana untuk meminimalisir damage-nya sebisa mungkin, kurasa itu lebih baik.

__ADS_1


Di depan kantin sekolah, ada sebuah mesin penjual minuman kaleng. Mesin itu menjual berbagai aneka minuman yang rasanya mirip dengan minuman yang biasanya kau temui di minimarket. Tampaknya minuman-minuman ini rasanya tidak jauh berbeda dengan minuman aslinya.


Aku sendiri tertarik dengan minuman kaleng yang memiliki rasa jus apel, dimana ini tidak seperti diriku yang biasanya. Minuman itu punya rasa seperti permen murahan dan mampu bersaing dengan minuman populer sejenis yang memasang tulisan ‘zero calories’ dan ‘tanpa gula’. Ternyata, rasanya memang benar-benar sangat enak.


Aku menggesekkan kartu saldo belanja siswa ke mesin itu, menggerutu seperti melihat sebuah benteng angkasa yang sedang runtuh ke tempat ini, lalu aku menekan ‘Susu Beruang - Bear Land’ dan ‘Jus Apel’. Setelah pembelian selesai, aku menggesekkan kartunya lagi dan menekan ‘Top Ice - Vanilla Blue’.

__ADS_1


Well, sekolah kami, SMA Swasta Brown, memiliki sebuah sistem transaksi jual-beli yang bisa dibilang cukup unik dan jarang terlihat pada kalangan masyarakat umum. Sistem tersebut bernama, "Kartu Saldo Belanja Siswa", sebuah kartu— seperti kartu rekening bank—yang perlu kau gesekkan saat melakukan transaksi apapun. Bisa dibilang, saat ingin melakukan transaksi, siswa akan membayarnya dengan saldo pada kartu tersebut dan juga, setiap transaksi akan didata oleh pihak sekolah. Lebih tepatnya, apapun transaksi yang kami lakukan, wajib menggunakan kartu itu dan akan selalu dibawah pengawasan pihak sekolah.


Aku sih, setuju saja dengan pola pikir mereka. Coba kalian bayangkan saja, zaman sekarang sudah canggih, tentu perlu kita manfaatkan untuk hal-hal penting, seperti ini contohnya. Saat kalian memiliki anak dan kurang cukup percaya diri dalam memberikan hak manajemen keuangan padanya, kartu seperti ini memang sangat dibutuhkan kebanyakan orang tua agar dapat mengendalikan pengeluaran milik anaknya.


Sebenarnya, aku tidak suka menggunakan ini. Dikarenakan keterbatasan dalam pengeluaran saldo, hingga banyaknya yang bisa kau masukkan— pada tahap ini, pihak sekolah juga mengambil sebuah keuntungan dalam transaksi pengisian saldo milik siswa maupun guru—, membuatku merasa sedikit jijik dengan akal yang sangat licik dari pihak sekolah. Meskipun begitu, aku terpaksa menggunakan sistem ini karena mengikuti hukum rimba yang telah ditetapkan oleh pihak sekolah.

__ADS_1


Beginilah ekonomi, deritanya tiada akhir ....


Setelah beberapa saat mengagumi dan menyumpah serapahi sistem sekolah, akupun beranjak pergi menuju ke ruangan itu sekali lagi. Tidak jauh dari posisiku, aku melihat seseorang melambaikan tangannya kepadaku, gerakan itu seakan ia memintaku untuk kesana. Tanpa pikir panjang, aku menuruti kode tersebut.


__ADS_2