Pembunuh Bayaran Lanjut Sekolah

Pembunuh Bayaran Lanjut Sekolah
21


__ADS_3

Suasana di ruangan terasa cukup berat melebihi dugaanku. Dengan cerita masa lalu yang cukup menyedihkan dari nona Rose dan juga sedikit rasa simpati dari seorang pembunuh tampan sepertiku. Untuk saat ini yang bisa aku lakukan hanyalah bersimpati atas semua penderitaannya.


“Pasti itu sangat berat untukmu.”


“Ya, itu sangat berat. Semua itu gara-gara aku terlihat sangat manis.”


Saat ini, kata-katanya itu tidak sekalipun menggangguku ketika aku melihat nona Rose mengatakan itu dengan senyumnya yang bercampur perasaan depresi.


“Mau bagaimana lagi. Tidak ada yang sempurna. Mereka itu semua lemah, mereka punya pikiran yang jelek dan mereka mudah sekali iri dan berusaha menjatuhkan yang lain. Cukup janggal, semakin kau terlihat superior maka kau akan semakin sulit untuk hidup di dunia ini. Bukankah itu salah? Oleh karena itulah aku ingin mengubah dunia ini dan orang-orang yang ada di dalamnya.” Mata nona Rose ketika mengatakannya terlihat serius dan terlihat dingin, saking dinginnya hingga bisa membakarmu seperti es kering.


“Bukan terlalu gila jika kau mengerahkan seluruh usahamu untuk rencana luar biasa itu?”


“Mungkin. Tapi itu terdengar lebih baik daripada rencanamu untuk diam hingga kering, layu dan mati. Aku sangat benci caramu yang menganggap kelemahan itu sebagai hal yang positif.”


Nona Rose mengatakan itu dan memalingkan pandangannya ke arah luar jendela.


Isabella Rosenberg adalah seorang gadis yang cantik. Sebuah fakta tidak terbantahkan dimana aku sendiri mengakui itu dari hatiku yang terdalam. Dari luar, dia terlihat seperti mustahil untuk didekati, dengan nilai akademis yang sempurna dan tanpa cela. Tapi, sifatnya yang rumit itu merupakan luka yang fatal bagi karakter dirinya. Sebuah kekurangan yang tidak bisa dikatakan manis. Tapi dia memiliki sebuah alasan untuk memiliki luka fatal tersebut.

__ADS_1


Aku tidak mau mempercayai begitu saja apapun yang Buk Hilda katakan, tapi menjadi orang yang punya semuanya, nona Rose juga memiliki penderitaannya sendiri.


Pastinya tidak akan sulit untuk menyembunyikan itu dan menipu dirimu sendiri dan orang di sekitarmu. Itu adalah apa yang mayoritas orang-orang di dunia ini lakukan. Persis seperti orang-orang pintar yang mendapat nilai bagus di ujian dan mereka mengatakan kalau itu hanya ‘beruntung’ saja di ujian. Seperti bagaimana gadis dengan wajah biasa-biasa saja yang iri dengan gadis cantik dimana poin kejelekan mereka ditentukan dari seberapa gemuk mereka.


Tapi, nona Rose tidak melakukan itu.


Dia tidak akan mau membohongi dirinya sendiri.


Bukannya aku tidak mau mengakui tindakannya itu. Karena kami berdua memilih jalan yang sama dalam hal itu.


Sambil melihatnya, aku merasakan sebuah perasaan yang aneh.


Dia dan diriku memiliki kesamaan. Aku memikirkan itu dari harusnya aku yang memikirkan diriku sendiri.


Kesunyian ini ... entah mengapa terasa sangat menyenangkan.


Aku merasa jantungku berdetak sedikit lebih kencang daripada biasanya. Sepertinya jantungku ini mengatakan ingin berdetak lebih kencang lagi.

__ADS_1


Maka ....


Maka dia dan aku, kami berdua ....


“Hei, nona Rose ... kalau kamu mau, aku bisa jadi tema-“


“Maaf. Itu mustahil.”


"Eh?"


"Sudah kubilang, kan? Itu semua adalah hal yang mustahil akan terjadi."


“Apaaa? Tapi, aku bahkan belum menyelesaikan kata-kataku!”


Nona Rose kembali ke buku bacaannya setelah menolakku dengan datar. Terlebih lagi, dia memasang ekspresi seperti jijik akan sesuatu.


Yups, gadis ini tidak ada manis-manisnya. Komedi romantis dan hal-hal sejenisnya seperti meledak begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2