Pembunuh Bayaran Lanjut Sekolah

Pembunuh Bayaran Lanjut Sekolah
39


__ADS_3

Jika kalian pernah menonton film aksi dan melihat bagaimana pemeran utamanya bertarung babak belur lalu menang, itu hanyalah fiksi. Pada kenyataan, tubuh manusia itu cukup rapuh dan sangat mudah hancur. Layaknya butiran debu, begitulah hidup dan alur yang membawamu ... dikenal sebagai hembusan anginnya.


Di tempat ini, dua orang yang masih saling tatap satu sama lain. Mempelajari berbagai macam informasi tentang lawan yang ada di hadapannya. Pergerakan tubuh, postur tubuh, pikiran, mental dan besar-kecilnya kemungkinan membunuh lawan.


David Kall— yang katanya merupakan pembunuh bayaran muda tampan, katanya sih— sedang berhadapan dengan lawan tangguhnya yaitu Gilbert. Bukan hanya itu, Gilbert merupakan masa lalu yang sangat ingin David hapus dari kehidupannya. Akan tetapi, semua kenangan buruknya kembali ia rasakan saat ini.


David cukup lelah hanya demi memperkuat bagian wajahnya, ia rela memberikan 20% tenaga yang tersisa. Meskipun sudah menerima pukulan telak di wajah, David masih bangkit walaupun itu terasa cukup sulit baginya. Ia menatap dalam mata Gilbert sambil terengah-engah.


"Haaahhh ... haaahhh .... "


"Hanya segitu kemampuanmu?" Gilbert dengan sombongnya menatap rendah David.


"Ini cuma permulaan, persiapkan dirimu."


"Huh?"


Tanpa ragu, David mengaktifkan tahap lanjut dari Death Zone-nya.


"Death Zone - Tahap II !!!"


Death Zone - Tahap II, merupakan tingkatan lanjut dari tahap sebelumnya dan akan mengeluarkan 50% kekuatan asli seorang David Kall. Biasanya tahap ini tidak memerlukan proses maupun biaya stamina yang cukup banyak. Namun ada persyaratan yang David tetapkan yaitu : ia harus terluka; staminanya hampir habis dan yang terpenting, lawan memiliki daya tempur yang lebih kuat dari tahap pertama.


"Heh! Apanya yang Death Zone? Itu hanyalah— !!!"


Bruuukkk!!! Brukkkk!!!


Tanpa memberi aba-aba, David segera menyerang Gilbert dengan pukulan yang bertubi-tubi menuju titik vitalnya. Gilbert terlihat cukup kesulitan menahan serangan David karena kecepatan yang ia lihat di depan matanya, berbeda dari terakhir kali mereka bertarung. Karena terus menerima ratusan pukulan yang super cepat dan sangat kuat, Gilbert dipaksa masuk pada posisi bertahan.


"Kau, ... bagaimana kau bisa secepat dan sekuat ini?" tanya Gilbert.


"Urus saja kont—mu sendiri\, Br*ngs*k!" bersamaan dengan balasan itu\, David menendang pedang Excalibur milik Gilbert dengan sangat keras.


"Uhhnnggg!!!"


Gilbert tersungkur ke tanah karena David menyerang bagian yang tidak pernah ia sangka akan kena dan terasa sangat menyakitkan.


David menatap rendah Gilbert, seakan membalasnya tadi.

__ADS_1


"Bagaimana rasanya kedua biji berhargamu ditendang?"


"B-brengg ... sek ...."


"Itu untuk anak-anak yang kau bawa semenjak puluhan tahun lalu."


David mengambil sebuah pisau kecil dan menusuk bagian titik vital pada kedua paha Gilbert dan membuatnya meronta kesakitan.


"Aarrrgghhhh!!!"


"Itu untuk dua orang teman sekamarku, Alan dan Bernard."


Sekali lagi David menusuk titik vital Gilbert pada bagian bahunya.


"Aarggghhh!!!"


"Ini untuk Meida kecil yang saat itu kau siksa."


Brrukkkk!!!


David menampar wajah Gilbert dengan sangat keras hingga ia terlempar beberapa meter ke belakang dan terhenti karena menabrak pohon.


Lebih dari apapun, sepertinya David memang membenci orang yang menyerang wajah tampannya. Baginya, itu sama saja seperti melanggar sebuah titah kerajaan. Orang yang melanggar itu, wajib dieksekusi mati.


David berjalan perlahan mendekati Gilbert.


"Kenapa kau tidak membunuhku?" tanya Gilbert lirih.


"Ada yang ingin aku tanyakan kepadamu."


"Cuih! Khusus kali ini, aku akan menjawabnya."


Meskipun terlihat tak senang, jauh di lubuk hatinya Gilbert sebenarnya merasa puas. Bukan dalam hal menang-kalah, tapi ia akhirnya benar-benar dikalahkan tanpa tipu daya oleh lawan terakhirnya. Tidak lupa juga, ia sudah menepati janji 18 tahun lalu dan bersiap menunggu Si Malaikat Maut Kecil mencabut nyawanya.


"Siapa orangtuaku?" tanya David.


Mendengar itu, Gilbert tercengang. Matanya terbelalak menatap terkejut David. Tubuhnya gemetar dan keringat basah dingin mulai melewati punggungnya. Meskipun begitu, Gilbert tetap memberanikan diri untuk menjawabnya.

__ADS_1


"A- ... aa-aa-aku tidak tahu."


"Kalau begitu aku ganti pertanyaannya, dimana kalian memungutku?"


"Entahlah, saat itu kau sudah ada di tempat kami," jawab Gilbert tanpa jeda.


"Lalu, siapa dalang di balik insiden Putri Emas?"


Gilbert terdiam.


"Ada apa? Kau tidak mau memberitahuku?" tanya David kesal.


Bukannya tidak ingin, tapi ia tidak dapat melakukannya. Pasalnya, ia menyepakatinya bahwa akan dipertemukan kembali dengan David asal mengikuti syarat tertentu. Itu termasuk tidak membocorkan apapun tentang rencana mereka dan membuat David dalam bahaya yang sebenarnya.


'Maaf, kecerobohanku selama 18 tahun lalu, akan benar-benar aku bayar saat ini juga,' batin Gilbert.


Gilbert mulai melihat kondisi sekitar dan mempertajam indera pendengarannya. Setelah beberapa saat, ia merasa aman. Gilbert langsung bicara.


"Pelakunya adalah orang yang sama."


Mendengar jawaban yang setengah hati begitu, David merasa kesal dan mengarahkan pisaunya tepat di depan lensa mata Gilbert. Meskipun begitu, Gilbert tak goyah dan masih melanjutkan penjelasannya.


"Berhati-hatilah, dia akan me—!!!"


Door!!! Splaaasshhh!


Sebelum Gilbert selesai bicara, peluru yang berkaliber 7,72 mm menembus kepelanya. Kepalanya pecah tak berbentuk hingga mengeluarkan isi di dalamnya. Tak lupa juga cipratan darahnya, berhamburan di sekitar dan tubuhnya tergeletak mati begitu saja.


Meskipun hanya sekilas, David sudah mengetahui asal peluru itu saat melihat arahnya. Itu tepat pada arah jam 1 yang tidak lain mengarah ke sisi terdalam hutan. Dia menatap tajam sumber itu namun sayangnya, penglihatan manusia tidak akan mencapai jarak yang sejauh itu.


Tak dapat dihindari, dikarenakan sikap Gilbert yang sangat berbeda membuat David sangat terkejut hingga ia tak sadar bahwa posisi mereka sangat mudah diserang oleh seorang pengecut seperti, Sniper. Saat David ingin meninggalkan jasad Gilbert, ia terhenti sejenak dan melihat sesuatu yang sangat tidak manusiawi. Darah mayat Gilbert yang awalnya merah cerah, berubah menjadi hitam dengan sangat cepat dan menguap.


Kedua kepalan tangan David mulai mengeras.


"Jadi, bukan dia. Lalu siapa Baj*ngan yang sudah mensukseskan eksperimen kami?"


Siapa? Dimana orang itu? Kenapa?

__ADS_1


Banyak pertanyaan yang masuk ke benak David namun ia menyimpan semua itu terlebih dahulu karena musuh utama, kini tepat berasa di depan matanya. David memantapkan pikirannya da mulai saat ini ia aka masuk dalam mode pembunuh bayaran. Dia berlari kencang menuju ke arah terdalam hutan dengan perasaan yang amat sangat marah.


__ADS_2