
Di halaman depan kediaman keluarga Rosenberg, David yang digandeng oleh Risha hanya dapat tunduk mengikuti kekuatan absolut pergelangan kuat tangan itu. Risha membawa David ke taman bunga dan mereka hanya berkeliling saja tanpa berbicara sepatah katapun. David yang merasa keadaan ini cukup aneh, memulai pembicaraan diantara keduanya.
"Risha ... " David berhenti jalan dan mendaratkan sebuah kecupan di bibir basah milik Risha lalu berkata, "Aku menyu—!!!"
"Diam, aku gak bisa menerima perasaanmu."
Risha mendorong David lalu berpaling dan berlalu pergi begitu saja dengan mulut yang ditutupi oleh satu tangannya. Dari belakang David hanya bisa menatap punggung Risha yang pergi tanpa mengatakan alasannya. David hanya terdiam, tak tahu ingin berbuat apa lagi dan di situlah ia bertemu dengan seseorang yang tak diduga melihat kejadian itu.
"Kau memang Si Mesum yang menyedihkan," ucap suara yang tak lain lagi dari Nona Muda—Isabella Rosenberg— dengan nada dingin khasnya. Dia keluar dari balik kumpulan bunga dan berjalan menghampiri David.
"Enyahlah dari hadapanku," gertak David namun Nona Muda tak menyerah.
"Kamu tahu apa yang kurang?" tanya Nona Muda seolah menarik ulur emosi terdalam David sambil menangkup kedua pipinya.
"Apa?" tanya David tanpa emosi.
"Cinta ... " Nona Muda mendekatkan jarak di antara wajah mereka, "Ya ... cintamu, tidak pernah ada cinta dari matamu dan semua itu hanyalah kepalsuan."
David mendorong Nona Muda ke bawah sambil memegangi kedua bahunya, tanpa perlawanan ia rela membiarkan seorang pria tak dikenal berada di atasnya.
"Jika aku tak memiliki cinta, bagaimana denganmu?" ujar David yang berada di atas Nona Muda.
Nona Muda melingkarkan lengannya, "Tatap mataku dan cari tahu itu sendiri."
"K—kau .... " David memperkuat genggaman tangannya yang masih berada di kedua bahu Nona Muda.
"Uhh .... " Nona Muda mengeluarkan erangan namun ia tak menyerah ataupun balik menyerang David karena tindakan yang sudah kelewat batas ini.
__ADS_1
"Apa yang kamu lihat dari kedua mata ini?" David menatap lamat-lamat pada Nona Muda yang masih mengerang pelan kesakitan.
"K—kamu itu ... di dalam mata itu ... ughh! ... Hanya ada ... kesedihan dan ... rasa benci!" ucap Nona Muda yang wajahnya sudah merah merona.
David melepaskan cengkeramannya lalu duduk dengan posisi yang benar. Dia menarik nafas lega bukan karena jawaban yang ia cari sudah didapat, melainkan dia tidak membunuh Nona Muda yang seharusnya dilindungi. Ia menatap wajah Nona Muda yang masih tergeletak dan menawarkan bantuan untuk duduk.
"Cepat duduk." David menjulurkan lengannya kepada Nona Muda.
Nona Muda langsung menangkapnya untuk menyambut niat baik tersebut, "Ternyata kamu orang yang begitu," gumamnya seolah mengatakan bahwa David adalah seorang PK—Penjahat Kelamin— mematikan.
Dimanapun seseorang berasal, tindakan yang dilakukan David memang sangat berlebihan dan terkesan kurang ajar. Apalagi orang yang ia dorong adalah Tuan Rumah itu sendiri, mau dilarikan kemana lagi kepalanya yang sudah menjadi buronan ratusan penjaga Sang Nona Muda. Namun berbanding terbalik dari apa yang seharusnya David tanggung, Nona Muda hanya tertawa kecil seolah itu cuma serangkaian peristiwa biasa saja dan dapat terjadi kapanpun.
"Ma—maaf atas kelancanganku." David menunduk dan juga sedikit merendahkan postur tubuhnya.
Nona Muda hanya melambaikan kedua tangannya seolah mengatakan itu tidak diperlukan, dia juga memperbaiki postur tubuh David agar kembali seperti awal.
"Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Nona Muda dengan ekspresi wajah yang bercampur aduk.
"Apa kalian datang kesini untuk membunuhku?" Nona Muda tersenyum bahagia seolah-olah penderitaan yang terasa begitu panjang, akhirnya bisa diakhiri saat ini juga.
Namun balasan David berbanding terbalik dengan apa yang dia inginkan.
"Bukan, kami kesini untuk melindungimu."
"Kenapa? Bukankah aku ini cuma seorang anak hasil hubungan gelap antara salah satu keluarga besar?"
Ternyata Nona Muda itu tahu segalanya, tentang ayahnya memiliki hubungan gelap bersama istri kepala keluarga Zuvenille dan juga, ia sudah memastikan bahwa dirinya akan menjadi target operasi pembunuhan. Dia juga menjelaskan tentang bagaimana keluarga Rosenberg memperlakukannya seperti boneka, di luar Nona Muda berkuasa layaknya seorang bangsawan namun di balik arogansi itu, dia hanyalah boneka yang harus tampil sempurna di depan semua orang demi menutupi rahasia gelap keluarga Rosenberg. Selama ini dia sudah disiksa dan beberapa luka bekas sayatan di tubuhnya, telah diperlihatkan kepada David dan semua itu benar apa adanya.
__ADS_1
"Ini bukan hasil perbuatan ayahku, tapi mereka yang menganggap bahwa aku hanyalah aib bagi keluarga besar ini," ucap Nona Muda dengan tatapan kosong memandangi bunga bermekaran di dekat mereka berdua.
"Siapa yang mengetahui tentang dirimu?" tanya David datar.
"Hanya aku, pembunuh bayaran dan teman Ayah," balas Nona Muda menyandarkan kepalanya di atas bahu David.
"Maaf?"
David terlihat bingung akan situasi canggung yang sedang ia hadapi. Di satu sisi cintanya sudah ditolak mentah-mentah oleh orang yang pertama kali ia suka, di sisi lain ia juga merasakan sebuah perasaan aneh yang bergejolak seolah meminta dia untuk berperan sebagai pahlawan demi seorang gadis. Namun David menolak perasaan itu karena ia sedang berada di dalam suatu misi dan apapun yang berhubungan dengan emosi, harus dihapuskan agar seluruh orang bisa keluar dengan selamat.
"Jadi, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Nona Muda pada David yang masih belum sadar akan lautan pikirannya.
David tak menjawab karena ia tidak mendengar sedikitpun suara dari Nona Muda.
Cup
Nona Muda mencium bibir David yang membuat ia kembali sadar lalu membalasnya dengan ******* lembut, sekiranya tak ada bekas apapun yang menodai milik Sang Nona Muda.
...
Dari kejauhan, terlihat jelas bahwa David sedang bersama seseorang yang seharusnya akan menjadi miliknya di masa depan nanti. Risha merasa lega karena sejarah tak banyak diubah karena tindakannya dan David yang tidak bisa diduga. Namun jauh di dalam lubuk hatinya, dia merasakan sakit yang begitu perih karena ia tahu, apa yang dia inginkan bisa didapatkan walaupun itu hanyalah kebahagiaan sesaat namun ia berpikir kembali, kebahagiaan sesaat itu hanyalah sebuah kebohongan dan orang yang berada di depan saat ini bukanlah kakeknya.
Aku memang mencintai dia, tapi kami tak bisa lanjut seperti ini.
"Aku tahu tindakanku salah dan seharusnya tadi .... "
Risha memegangi kepala dengan dua lengannya dan sangat ingin berteriak. Dia ingin berteriak sekeras-kerasnya agar seluruh orang tahu bahwa orang yang ia cinta, akhirnya menyatakan perasaan kepadanya namun ia tak dapat menerima hal itu. Dia hanya kabur untuk menyembunyikan rasa senang dan juga sesal, akibat perjalanan yang cukup jauh ini dan tragedi di mana Sang Kakek akan mengalami kematian pahit membuat Risha harus merasakan siksaan dua kali lipat.
__ADS_1
Sekarang dia tidak tahu harus bagaimana saat bertemu David. Bisa saja dia bersikap seperti biasanya namun saat membayangkan wajah pria yang baru saja ia tolak, Risha tak dapat berkata dan lagi-lagi, jantungnya berdetak kencang tak karuan menandakan bahwa gejolak emosi dalam diri gadis itu mulai kacau. Cinta tak terbalas, akhirnya dibalas dengan satu kecupan namun berasa hambar karena dia tak dapat menjawabnya.
Selama itu, akhirnya Risha memutuskan untuk bersikap seperti biasa bagaimanapun jadinya nanti.