
"Jadi, kita mau kemana?" tanyaku kepada mereka bertiga yang memimpin jalan di depan.
"Ikuti saja," jawab Melida dengan datar seperti biasanya.
"Yang pasti ... ini sesuatu yang menarik lho!" lanjut Mei dengan senyum nakal sambil memainkan jari-jemarinya dengan cepat dan gerakan aneh seakan berasal dari pemuja aliran sesat.
Sebenarnya aku gak pernah nanya ke dua orang idiot ini, lebih tepatnya arah pertanyaan itu ada pada pria yang ada di paling depan kami semua, David. Namun berbalik dari respons yang diberikan oleh Si Kembar idiot itu, David hanya diam sambil memperhatikan kondisi di sekitar kami. Bisa dibilang, dia adalah tipe orang yang selalu waspada terhadap semua objek di sekitarnya.
Dalam aturan untuk bertahan hidup sebagai tentara bayaran, hal yang dilakukan David memanglah sangat tepat. Akan tetapi, aku juga merasa cukup bingung karena dia itu sudah kuat, kenapa juga harus selalu waspada bahkan di depan banyak orang yang akan menimbulkan rasa kecurigaan pada kami semua. Lebih tepatnya, dia terlalu berlebihan hingga bisa saja sikap itu akan membuat kami semua dalam masalah.
Bukan hak-ku sih untuk mengomentari sikapnya itu, tapi bukankah terlalu disayangkan untuk orang sehebat David memiliki sikap waspada begitu hingga lupa daratan. Aku yang cuma orang asing baru masuk ke grup mereka, jadi tak ada yang bisa aku lakukan selain membantu pada sedikit bagian pekerjaan kami. Jika saja aku bergabung dari awal—tidak, bukan berarti aku menginginkannya, tapi grup ini membuatku merasa nostalgia terhadap anggota grup yang sudah musnah tak tersisa itu.
Lupakan, lupakan, lupakan perasaan berat yang menghantuiku dan aku juga harus mencari Kakek lalu menyelamatkan masa depannya. Selain itu, aku tak akan peduli pada milyaran nyawa manusia yang akan melayang akibat butterfly effect nanti. Jika itu adalah bayaran mahal hingga aku juga tidak akan pernah ada di masa depan yang datang nanti, itu hanyalah bayaran kecil akibat semua insiden itu.
Jika ikatan seseorang bisa kau beli dengan uang, mungkin saja aku tidak akan terlahir ke dunia ini dan Kakek ... dia pasti tidak akan menderita karena menanggung semua beban itu sendirian.
Kami terus berjalan sesuai tujuan David dan ia tak pernah sedikitpun berbicara hingga akhirnya, suatu kebetulan dia menghentikan langkahnya lalu berbalik pada kami.
__ADS_1
"Kalian tunggu di sana, aku mau melakukan sesuatu," ucap David sambil menunjuk ke arah toko kue yang ada di sampingnya.
"Apa itu perintah ketua grup?" tanyaku tanpa peduli apa dia akan marah karena ketidaksopananku.
"Bukan, tapi hanya rekomendasi saja," jawab David datar lalu berbalik dan menuju ke sebuah gang tanpa peduli apa kami akan mengikuti ucapannya atau tidak sekalipun.
Huh? Orang itu kenapa sih? Apa dia mau bermain petak umpet lalu nanti menangis sambil pipis di celana gitu? Ahhh ... menyebalkan! Aku sama sekali gak bisa membaca pikirannya!!!
Aku menatap ke arah Si Kembar Idiot, tanpa mempedulikanku mereka langsung pergi ke toko kue tersebut. Dua orang idiot itu benar-benar sudah tak tertolong dan selalu saja membuatku darahku selalu mendidih tiap menitnya, apabila kami diberikan kebebasan memilih maka aku akan mengikuti David. Tanpa pikir panjang, aku mengikuti rute David meninggalkan Si Kembar idiot yang tak pedulian sama sekali itu.
...
Baru kali ini aku melihatnya jadi tegang sampai seperti itu, kemungkinan apa yang ada di balik pintu itu adalah sesuatu yang sangat besar. Besar dalam artian memiliki pengaruh yang mungkin saja bisa menghancurkan satu negara. Daripada memikirkan itu, aku langsung menepuk pundaknya lalu bertanya.
"Jadi, siapa yang mendiami tempat ini?" tanyaku penasaran seraya memperhatikan ekspresi tak biasa milik David.
"Dia adalah Yohan, begitulah kami sering memanggilnya namun dulu sekali dia adalah seorang tentara yang sangat loyal terhadap negara ini," balas David tersenyum kecil lalu segera berbalik meninggalkan gang lusuh ini.
__ADS_1
Meskipun sudah dijelaskan singkat begitu, aku masih penasaran dan melanjutkan observasinya.
"Lalu, kenapa dia menjadi begitu?" tanyaku ringan namun dalam setiap kata yang aku ucapkan, sebenarnya terasa cukup berat untuk dijawab.
"Dia dikeluarkan karena tuduhan sebagai t*eroris oleh presiden yang baru," jawab David yang tak sengaja mencengkram erat lengannya seakan itu adalah hal yang membuatnya sangat marah.
T-tunggu, jika dia dikeluarkan hanya karena alasan itu, bahkan oleh tuan Presiden itu sendiri ... masalah ini cukup rumit dan tak memiliki solusi. Salah langkah, bisa saja kau yang akan dicap sebagai musuh negara karena sudah membantu seseorang yang telah dianggap sebagai pengkhianat negara. Politik da kekuasaan memang sangat mengerikan, tapi jika mereka tak ada maka yang tersisa dari sebuah negara hanyalah masa keb*odohan dimana seluruh rakyatnya akan berbuat semau mereka.
Tapi karena adanya sistem pemerintahan pula, terdapat hasrat tersembunyi dibalik seseorang yang ingin memimpin masyarakat. Jika itu aku, mungin saja aku akan melenyapkan beberapa negara sekitar lalu mengklaim tanah mereka dan membasmi para penduduk asli dan digantikan dengan penduduk setempat yang sudah cukup memenuhi wilayah negara yang aku pimpin. Selebihnya untuk jaga-jaga, aku juga akan mencari kelemahan setiap penguasa di berbagai wilayah agar dapat menekan situasi maupun pergerakan mereka.
Cara yang aku impikan hanya akan membuat suatu konflik besar dan di dalamnya, tentu saja negara yang aku pimpin berada di sektor paling berbahaya, begitulah ucap Kakek. Dalam memimpin dan bersaing, tak ada yang namanya jujur, bersih maupun adil. Hingga yang ada hanyalah siapa menang dan siapa yang kalah lalu cemoohan dari berbagai pihak menunggu untuk siapa yang akan menjadi pecundang.
"Jangan terlalu banyak berpikir," ucap David mengelus kepalaku.
Aku segera menepis lengannya dan berkata, "Bukan banyak berpikir tahu! Aku cuma penasaran, kenapa kamu jadi gelisah tadi!" balasku kesal dan tak sengaja meneriakinya. Hal itu membuat kedua lengan ini segera menutup mulutku dan sedikit melakukan gestur minta maaf kepadanya.
Menanggapi permintaan maafku, David hanya mengangguk dengan ekspresi datar lalu berkata, "Dia adalah orang yang sangat mencintai tanah airnya bahkan, meskipun harus dicap sebagai pengkhianat, dia tetap mempertahankan harga diri tanah air yang membuang pria malang itu. Aku takut, jika tindakan yang akan kita lakukan membuat dia menjadi musuh karena pandangan hidup yang berbeda," ucap David mengutarakan pemikiran yang seakan mengatakan bahwa dia berada di pihak pria itu namun sebagian besar dirinya juga takut, dia takut kalau apa yang kami lakukan tak sejalan dengan pendirian Yohan.
__ADS_1
Begitu ya, sepertinya aku sudah mendapatkan sedikit bayangan tentang apa yang akan kami kerjakan. Bukan masalah sih jika bermain kotor untuk membersihkan beberapa kotoran namun semua itu juga perlu diperhatikan cara kerjanya. Salah sedikit saja, kami semua akan mati dan lebih buruknya, seluruh penduduk di negara ini akan memburu kami layaknya seorang t*eroris.