
“Ya sudah, kalau itu request dari Buk Hilda, saya tidak bisa menolaknya ... kuterima requestnya.”
Nona Rose mengatakan itu dengan nada agak jijik terhadap sesuatu.
Buk Hilda tersenyum puas.
“Oke, kalau begitu selanjutnya kuserahkan padamu.”
Setelah itu, dia keluar ruangan dengan terburu-buru.
Dan aku hanya berdiri disini ....
♦♦♦
Sejujurnya, aku akan lebih tenang kalau mereka meninggalkanku sendirian. Tapi berada dalam lingkungan sekolah yang asing, membuatku sedikit gugup. Suara dari detik jam dinding membuatku ketakutan seperti takut tiba-tiba bersuara dengan keras.
Hei, apa ini, serius? Apa ini sebuah perkembangan kehidupan sekolahku? Aku seperti diselimuti sebuah tegangan yang cukup tinggi. Aku tidak mau komplain dengan situasinya.
Tiba-tiba, sebuah memori kelam semasa aku masih menjadi pembunuh bayaran pro muncul di pikiranku.
__ADS_1
Waktu itu sudah cukup larut malam. Ada dua orang yang berada di sebuah kamar bak milik seorang putri dari sebuah kerajaan. Gorden kamar seperti tertiup angin yang lembut, dan cahaya rembulan malam menyinari ruangan itu, seorang laki-laki menembak ke arah jantung si gadis di depannya.
Aku masih ingat betul kata-kata si gadis.
'Jika waktu bisa diulang kembali ... '
‘Apa yang akan kamu lakukan?’
Ah tidak, ini adalah memori buruk. Aku tidak pernah bicara apapun lagi setelah kejadian itu. Karena itulah, aku berpikir kalau menjadi seorang pembunuh bayaran pro bukan lagi jalanku.
Intinya, sendirian ditemani gadis cantik di ruang tertutup adalah semacam situasi Neraka yang harusnya tidak akan pernah terjadi lagi dalam hidupku. Sayangnya, aku sudah terlatih dalam hal ini, jadi aku tidak akan jatuh dalam perangkap ini begitu saja.
Dengan kata lain, gadis-gadis semacam itu adalah musuhku.
Sampai sekarang, aku sudah bersumpah kalau aku tidak akan merasakan pengalaman semacam itu lagi. Cara tercepat agar tidak terjebak dengan situasi Neraka ini adalah dengan menjadi orang yang dibenci. Sengaja kalah agar menang! Aku akan melakukan apapun untuk melindungi ketenangan dunia sekolahku, jadi persetan dengan popularitas!
Kalau begitu, sebagai awalan, aku akan mengintimidasi nona Rose dengan terlihat seperti orang jahat di depannya. Seorang binatang liar akan membunuh orang dari tatapannya!
Grrrr...!
__ADS_1
Nona Rose lalu menatapku seperti sampah. Dia menatapku dengan setengah mata tertutup dan mengembuskan nafasnya.
“...Kenapa kau tidak berhenti berdiri disana, berhenti membuat suara-suara yang menjijikkan, dan duduk?”
“Huh? Oh, yeah. Maaf.”
... Woah, apa-apaan tatapan matanya tadi? Semacam binatang buas?
Mungkin dia habis membunuh 5 orang!
Tu-tunggu dulu! Bukankah aku ini seorang pembunuh bayaran pro?! Kenapa aku malah takut dengan seorang gadis seperti nona Rose!!!
Meski aku seperti berusaha mengintimidasinya, nona Rose masih bersikap ramah kepadaku. Sambil berusaha menghilangkan rasa gugupku, aku menarik kursi kosong terdekat dan duduk.
Setelah itu, nona Rose tidak mengatakan apapun. Dia hanya membalik-balik halaman bukunya. Suara halaman buku yang dibalik seperti menjadi suara latar ruangan ini. Aku tidak tahu apa yang dia baca kalau melihat sampulnya, mungkin semacam literatur. Semacam karya Salinger, Hemingway, atau Tolstoy. Kupikir itu yang bisa kubaca dari ekspresinya.
Hembusan angin sore mulai menemani kesunyian dalam ruangan ini.
Ugh, semoga saja tidak ada hal buruk yang akan terjadi nanti.
__ADS_1