
Hari ini— atau mungkin setiap harinya— merupakan waktu yang sangat berharga bagiku.
Semakin lama aku berada di sini, semakin buruk kejadian yang akan menimpaku.
Dari catatan milik Kakek, masa lalu yang sedang terhubung dengan masa yang akan datang, memiliki sebuah keterbatasan hubungan.
Setiap hubungan itu, memiliki sangkut pautnya dengan sebuah teori "Perjalanan Sang Penjelajah Waktu" dan dalam teori itu, semakin lama kau menjelajah waktu maka tubuhmu juga akan mengalami keadaan "Penghapusan" atau lebih tepatnya kau akan menghilang dari seluruh masa yang ada.
Musuhku adalah waktu.
Aku selalu membenamkan kalimat itu di dalam kepala agar tidak lupa bahwa di sini, ada sebuah misi yang harus diselesaikan.
Secara pribadi sih ini bukan untuk menyelamatkan orang lain, hanya saja ini merupakan bentuk dari rasa penasaranku.
"Jika Kakek berada di sini, apa dia juga akan berpikir sepertiku?"
Aku berusaha membayangkan Kakek yang merupakan sebuah legenda di daftar keluarga kami berada di dalam situasiku, namun bayangan itu segera hilang setelah seseorang mengetuk pintuku.
Tok tok tok
"Masuk."
"Permisi."
Dari balik pintu, munculah seorang pria yang selama ini masih jadi misteri tersendiri buatku.
Dia yang aku tidak tahu namanya, orang yang memberikan tempat tinggal gratis dan tidak peduli dengan latar belakangku.
"Jika kau sudah bangun, tolong segera ke lantai bawah."
"Untuk apa?" tanyaku sambil melirik wajahnya yang datar
"Sebagai sesama penghuni, kau juga harus bekerjasama dengan kami."
crack crack crack
__ADS_1
Dia membunyikan lengannya dengan sangat terampil.
"Ja—jangan dekat!" teriakku.
"Eh?"
"Eh?"
Setelah sadar bahwa dia tidak pernah sedikitpun mendekat ke arahku, aku segera menundukkan kepala dan meminta maaf.
"Ma—maaf, aku sedikit trauma."
"Tidak apa, kalau sudah bersiap, tolong segera ke lan—"
Sebelum dia selesai aku segera bangun dan menyela.
"Aku akan pe—"
Dia kembali menyelaku.
"Maaf, kau tidak bisa dengan kondisi seperti itu."
Merasa aneh dari tingkah lakunya, aku segera melihat ke bawah dan—
Aku masih memakai pakaian dalaaammm!!!!
Menyadari bahwa aku sudah mengerti dengan maksudnya, ia segera berbalik pergi.
"Aku permisi."
Dumb!
Pintu segera ditutup dengan keras dan aku masih bisa merasakan rasa malu dari pengalaman pahit ini.
"Kyaaaaaa!!!! Ada orang meeeesuuuummmmm!!!"
__ADS_1
Aku berteriak sekencang mungkin, tapi tetap saja tidak ada respons dari orang lain dan meninggalkanku sendiri dalam sunyi di kamar ini.
"A—aku sudah tidak bisa menikah lagi."
Sial sial sial siaaallll!!!!
Dari semua orang, ke-ke-ke—kenapa harus diaaa??!!!
Padahal dari kecil aku sudah bermimpi ingin dimiliki oleh seorang pria tampan yang kaya raya dan mau menjadi budakku!!!
I—ini tidak bisa dibiarkan.
"Aku harus membalasnya nanti."
Aku segera bangun mengganti pakaian yang sudah mereka siapkan.
Sebenarnya aku ini bukan keluarga, rekan maupun seseorang yang penting bagi mereka.
Tapi ....
"Kenapa mereka begitu baik kepadaku?"
Ini cukup aneh, padahal mereka juga tidak kenal denganku.
Daripada memikirkan itu, aku bingung harus mencari tahu situasi yang akan menyebabkan sesuatu yang abnormal di masa depan nanti.
Aku ragu dengan tinggal bersama mereka apa akan membuatku aman ataupun menemukan apa yang ingin aku cari.
Aku juga takut ini akan membahayakan mereka.
Bu—bukannya aku ini peduli, hanya saja mereka adalah orang yang baik dan mau menerimaku dengan hangat.
"Baiklah! Kalau begitu, seperti ini saja .... "
Di dalam hati aku berjanji.
__ADS_1
Aku, Risha Kall, cucu dari David Kall, tidak akan menyakiti mereka.
Setelah memantapkan tekadku, aku segera turun ke lantai bawah.