
Dear, readers.
Maafkan Author yang plin-plan ini, cerita akan saya lanjutkan hingga berakhir karena request dari seseorang yang tidak dapat ditolak.
Sekali lagi terimakasih karena mau membaca karya ini kembali. Jangan lupa dukung Author dengan memberikan like dan komentar kalian, ya!
...
Akhirnya, malam yang dijanjikan telah tiba. Dimana akan ada darah bersimbah dan tubuh yang terkapar dari dua orang ternama. Malam ini mungkin akan terjadi kejadian yang dapat mengguncang negara.
Masih dimulai dengan persiapan, David dan Risha mengenakan pakaian pesta mereka.
David menganbil berbagai macam set perlengkapan tempur dan beberapa pistol menempel di balik tuxedonya yang mewah dan sinkron dengan cerah kulitnya.
Selama mempersiapkan kebutuhan mereka, hanya Risha saja yang semenjak dari keberangkatan mereka. David berjalan mendekati Risha lalu menyelipkan sebuah senjata dengan lacar di pahanya.
Risha yang mengenakan gaun malam berwarna merah muda sangat cocok dengan wajahnya.
"Apaan sih?!" Risha mendorong David untuk memperlebar jarak di antara mereka.
"Senjata?"
David mengangkat kedua bahunya tanpa peduli.
"Bukankah tidak sopan menyentuhku tanpa izin?"
"Bukankah kita sudah ber— .... " David terdiam karena Risha memegangi kedua bahunya.
Suasana di antara kedua insan itu sangat mencekam. Kau bisa bilang ada seorang pria yang sedang menginjak ekor singa betina, sekarang dia sedang merasakan kemarahan dari Singa dan menjadi calon korban. Tidak seperti halnya kebanyakan kasus, David kali ini benar-benar ceroboh dalam menaikkan bendera kematiannya.
Tatapan mata Risha yang tajam menusuk tulang punggung David dan membuatnya bergidik. Jikalau sesuatu terjadi padanya, David sudah bersiap akan kemungkinan untuk meninggalkan setidaknya kalimat terakhir yang dramatis. Dia senyum lalu memegangi kedua pundak Risha.
"Lakukan dengan pelan."
{Eh?! Apa orang ini sudah gila?} Dalam hati Risha menjadi bingung namun pada kenyataan yang sedang ia hadapi—
"Enyah sana!" Risha menendang keras pada bagian bawah milik David.
David mengerang kesakitan seakan-akan bola dragonball yang sudah ia kumpulkan sekuat tenaga telah dicuri oleh makhluk aneh.
Risha segera berbalik lalu keluar dari kamar dengan suasana hati yang hancur.
{Hancur sudah, semoga Kakek tidak marah atau mandul karenanya(。ŏ﹏ŏ)} begitulah isi hati Risha yang buru-buru meninggalkan David dan kembali fokus pada misi mereka.
__ADS_1
Hidup tak semudah yang dikira, bahkan ada juga yang mengatakan bahwa kesialan itu adalah sesuatu yang sangat dekat pada manusia selain kematian. Antara kematian maupun kesialan, itulah yang dirasakan David saat ini. Perlahan ia mengumpulkan kekuatan untuk berdiri sambil memegangi miliknya yang sudah ditendang dan sambil merasakan apakah ada yang ataupun hilang.
Ketika iya merasa bahwa satu telah hilang, wajahnya menjadi pucat.
"Habis sudah, aku tidak bisa memiliki keturunan-Habis sudah, aku tidak bisa memiliki keturunan-Habis sudah, aku tidak bisa memiliki keturunan- .... " David terus menggumami hal itu sambil berjalan layaknya anak kecil habis disunat.
Daripada dibilang biji telah menghilang, mungkin dia sudah kehilangan nyawa yang berharga dalam kehidupan ini.
...
Sementara David yang masih menggerutu akan hilangnya nyawa yang paling berharga miliknya, Nona Muda—Isabella Rosenberg— masih di dalam kamarnya, bersiap-siap untuk acara formalitas yang dia anggap begitu membosankan.
Dia mengenakan gaun malam dengan warna hitam dan sangat cocok dengan kulitnya yang sangat putih bening nan putri salju.
Tidak lupa juga dia berhias dengan sangat rapi dan menarik agar seseorang yang sudah ia targetkan menjadi terpesona akan kecantikannya yang tiada tara.
"Nona, apa Anda perlu hal lain untuk saya lakukan?" tanya seorang pelayan wanita di belakangnya.
"Ada satu hal yang harus kau lakukan .... " Nona Muda beranjak dari duduknya lalu berjalan melewati pelayan yang bertanya tadi.
Pelayan tadi hanya diam menunggu perintah dari majikannya.
"Cari tahu tentang pria bernama David."
Hanya dengan satu perintah itu, pelayan langsung mengerti bahwa ada seseorang yang sudah menarik minat dari majikannya. Jika itu benar, orang itu adalah seorang predator dan ia harus bersiap mengamankan Nona Muda darinya. Penyelidikan ini pasti harus dilakukan secepatnya karena dia sadar mengapa Nona Muda tak banyak bicara dan ekspresi wajah majikannya agak berubah sedikit, daripada dibilang predator pembunuh ini lebih disebabkan oleh cinta pada pandangan pertama.
Mengingat bahwa umur Nona Muda sudah mencapai waktu puber, dapat dipastikan kalau ini adalah permainan Cupid.
Sang Pelayan membungkuk memberi hormat kepada Nona Muda, setelah itu ia pergi menghilang layaknya ninja.
"Entah kenapa aku merasa ada yang salah dengan pelayan itu."
Nona Muda merasa bahwa perintah itu telah menimbulkan kesalahpahaman antara mereka. Tapi ... karena nasi sudah menjadi bubur, mau dikata apa lagi. Nona Muda menghela nafas dalam dan beranjak pergi dari kamarnya untuk melihat bagaimana kinerja pelayan elite-nya.
...
Secara sembunyi-sembunyi, Nona Muda melihat Si Pelayan mendekati David.
"Permisi, Tuan!" sapa Pelayan kepada David.
"Habis sudah, aku tidak bisa memiliki keturunan-Habis sudah, aku tidak bisa memiliki keturunan-Habis sudah, aku tidak bisa memiliki keturunan- .... "
David menghiraukan sapaan itu dan masih bergumam akan hilangnya kehidupan yang penting baginya.
__ADS_1
Pelayan merasa sangat kesal namun dia harus menahan semua itu demi majikannya dan kembali menyapa David.
"Halo, permisi Tuan!" sapanya kembali dengan senyum yang lebih ramah dan mencondongkan wajahnya ke David.
"Habis sudah, aku tidak bisa memiliki ketu— eh?! Apa kau sedang berbicara denganku?"
"Tentu, saya sedang berbicara dengan Anda. Saya lihat Anda begitu terpukul akan kejadian sesuatu, mungkin ini kurang sopan ... bisakah Anda bercerita sedikit dengan saya?"
{Eh?! Apa pelayan ini adalah seorang suster di gereja yang akan tersenyum kepada mereka yang sedang bersedih?} Keterkejutan akan hal itu membuat David menjadi sedikit bingung namun dia memberanikan diri untuk bercerita kepada Si Pelayan.
"Jadi begini, aku sudah kehilangan nyawaku yang berharga," David tertunduk untuk menyembunyikan ekspresi menyesal yang sangat tergambar jelas pada wajahnya.
"Memangnya, apa yang sudah Anda lakukan?"
"Bijiku ... satu-satunya yang paling berharga di dunia ini, SUDAH HILANG!!!" David terisak seolah dia sudah mengorbankan hal yang paling berharga baginya di dunia ini.
"Eh?"
Pelayan itu tak dapat berkata dan hanya bisa menepuk pundak David untuk menenangkan hatinya.
Setelah David menjadi tenang, dia mulai berbicara mengenai targetnya.
"Jadi Tuan ...."
"Hm?"
"Perempuan seperti apa yang Anda suka?"
David meletakkan salah satu jarinya di bawah dagu lalu bersikap seakan-akan dia sedang berpikir keras.
Nyatanya, perempuan yang dia sukai ini begitu barbar dan cukup tak beretiket. Jika dia mengungkapkan hal ini kepada siapapun, orang-orang mungkin sudah mengira bahwa dia itu adalah budak cinta yang menyedihkan.
David tak memiliki pilihan selain memilih jalan yang cukup sulit.
"Bisa dibilang, tipeku adalah gadis yang pekerja keras."
{Ah, dia benar-benar seperti Nona Muda.} di lain sisi, kesalahpahaman akan majikannya mulai tumbuh lebih besar.
"Begitu ya, semoga beruntung ya."
Pelayan itu menepuk pundak David sambil tersenyum cerah lalu pergi ke sisi Nona Muda.
"Nona, pilihan Anda ternyata tidak salah," gumamnya dengan senyum yang berseri-seri.
__ADS_1