
(Risha POV)
Ciuman itu selalu terbayang di kepalaku.
Belakangan ini dia selalu saja berkelakuan aneh, entah dari bagaimana ia memperhatikan hingga akhirnya menciumku.
Itu adalah hal yang sangat absurd.
Bagaimanapun juga, aku tidak dapat menerima ataupun menolak perasaannya.
Dia memiliki hak untuk menyatakan, tapi tidak untuk jawaban.
Aku dan dia— kami berbeda dan akan seperti itu hingga akhir perjalanan ini.
Mungkin di akhir nanti ....
Aku akan mengutarakan semuanya, dimana saat itu juga kami akan berpisah.
__ADS_1
Aku bukan seorang ratu drama, hanya saja begitulah takdir kami memaksaku.
Jika dia tak menerimanya, itu juga tak akan ada pengaruhnya terhadap diriku.
Aku memang egois, jadi semua ini adalah kesalahanku yang membuat ia jadi begini.
Kehidupan bukanlah hal yang bisa kau tentukan seenak jidatmu, tapi hal tersebut harus kau lawan sekuat tenaga. Akan terlihat sekali itu adalah sebuah kebohongan apabila aku menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban tidak. Karena pada dasarnya, aku dan dia—ya, kami sudah sama-sama mengetahui itu semua lewat sebuah kontak mata.
Gerakan tubuh, lidah dan ekspresi wajah bisa menipumu. Akan tetapi, tidak pada tatapan mata. Sekali saja orang lain merasakan tatapanmu, maka sekejap saja mereka akan mengerti entah apapun itu yang kau rasakan hingga alami dari dulu sampai sekarang.
Suatu kebohongan jika itu tak dapat diartikan melalui kata. Namun di lain sisi, kesempatan tersebut tak akan pernah datang untuk keduakalinya. Mereka datang dan berlalu pergi begitu saja tanpa sepatah kata, lalu menyisakan luka pada lubuk terdalam hatimu.
Tak ada yang akan menyangka bahwa alasan mereka hidup di dunia ini sangat sederhana hingga satu alasan kecil ini seringkali dilupakan. Hal kecil saja bisa mereka abaikan, apalagi hal besar yang sebenarnya diawali dengan hal kecil tersebut. Layaknya perasaan ini, dimana berawal hanyalah sebuah kekaguman menjadi sesuatu yang tak aku ketahui akan mengarah kemana.
Kebohongan.
Kebencian.
__ADS_1
Kekerasan.
Semua itu akan menjadi satu. Membuat hal yang tak pernah sama sekali diinginkan menjadi terjadi. Menyisahkan sebuah perpisahan tak terelakkan dan hanya berakhir dengan kesedihan mendalam. Salah satu rasa yang paling aku benci, kesedihan.
Apa kau pernah berpikir bahwa kesedihan adalah awal dari sebuah tumor yang ada di hatimu sendiri?
Konyolnya aku berpikir seperti itu. Tapi memang benar adanya, bahwa kesedihan itulah tumor pada hati yang suatu saat akan membunuh dirimu sendiri. Saat kau hancur karenanya, kau akan berharap untuk memutar waktu kembali dimana bisa memilih hal lain, akan tetapi kesempatan itu tak kunjung datang hingga akhirnya hayatmu.
Semua itu adalah kekonyolan yang ada di dunia ini.
Dunia ini memang tidak salah, takdir kami juga tidak salah hanya saja ... mana keadilan yang tepat bagi kami?
Dimana kami dapat menemukannya?
Itu adalah hal yang absurd, tak akan pernah ada kata adil jika kau tak memperjuangkannya.
Sekali lagi, semua itu tak akan pernah ada.
__ADS_1
Entah itu bagiku, kami, hingga seluruh manusia yang ada di dunia ini.