
Saat kesadaran Risha pergi dari dunia nyata karena demam, di dunia lain ia bertemu dengan seseorang yang sudah lama diimpikannya.
"Risha," panggilnya dengan nada yang sangat lembut.
"Kakek? Kenapa Kakek ada di sini?" Risha membelalakkan matanya karena terkejut dan tak percaya dengan apa yang dia lihat.
Ya, dia adalah David Kall, kakeknya Risha kall yang sangat ingin dia temui. David Kall kali ini terlihat sangat tua seakan sudah berumur 60 tahunan namun masih memiliki postur tubuh yang kekar. Dari ekspresi wajah David, dia juga terlihat sangat bahagia melihat Risha, setidaknya begitulah yang ada di pikiran Risha.
"Eh? Apa maksudmu? Bukannya aku selalu bersamamu?" David terkejut sambil menggelengkan kepalanya dengan ekspresi lelah seakan yang tadi dia dengar adalah sebuah lelucon mengerikan.
"Bu–bukankah Kakek sudah mati saat itu?" Risha masih terkejut dan sangat kesulitan untuk bicara.
"Ya, memang benar aku sudah mati. Aku yang ada di sini hanyalah bayangan dalam pikiran dan hatimu, saat gelisah mereka akan memanggilku ke alam bawah sadarmu," kata David sembari duduk sambil membetulkan pinggangnya yang sakit—sama seperti kebiasaan David sehari-hari yang dilihat oleh Risha semasa mereka hidup bersama— dan menepuk bagian sebelahnya agar Risha juga duduk di situ.
"Kakek di alam bawah sadar terlihat seperti pecundang ya," Risha tersenyum kecil lalu menyambut undangan David dan duduk di sebelahnya.
Mendengar itu, David hanya tertawa seakan meng-iyakan pendapat Risha.
"Jadi, kenapa Kakek datang kesini?" tanya Risha menatap sinis wajah David yang sudah tua.
"Tentu saja karena kau sedang gelisah akan sesuatu, apa yang kau khawatirkan dengan insiden itu?" David terkekeh seakan dia bisa membaca seluruh pikiran Risha—sebenarnya seluruh tindakan David ini berdasarkan kesadaran dan pemikiran milik Risha dan dia sudah paham akan hal itu—.
"Aku cuma .... " Risha menunduk malu dan meskipun ini hanyalah mimpi, dia merasa kedua pipinya memerah merona.
__ADS_1
David tertawa terbahak-bahak dan dari ekspresinya, dia sepertinya tidak percaya kalau seorang gadis ini akan jatuh cinta dengan seseorang pria itu, meskipun itu adalah dirinya sendiri. David menatap ke atas seakan teringat dengan beberapa kenangan yang sebenarnya semua itu pernah dia ceritakan kepada Risha. Kebetulan Risha sangat tidak menyukainya dan David tak ragu membicarakan itu meskipun tahu nantinya akan jadi seperti apa.
"Semua ini berawal saat aku bertemu dengan seorang gadis dingin dan selalu menjawab ucapanku dengan cerdas hingga membuatku tak bisa berkata apa-apa lagi," David mengawalinya dengan baik meskipun Risha sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, dia masih lanjut.
"Dia adalah Isabella Rosenberg, anak keluarga Rosenberg yang dikenal cerdas, cantik namun berhati dingin dan tak kenal ampun terhadap orang lain," lanjut David dan Risha yang ada di sampingnya mengangguk.
"Pertemuan pertama kami itu berkat seorang guru wanita yang tak aku ingat siapa namanya, berkat guru itu kami saling bertemu dan pertemuan pertama itu sungguh sangat kacau." David tertawa kecil lalu melanjutkan kembali ceritanya.
"Lalu datang lagi seseorang yang sudah aku lupakan namanya, sifatnya hampir sama dengan Meida yang kau temui saat ini, jika dia merundungmu katakan saja 'Dasar L*nte!' dengan sangat keras tepat di depannya." Saat mengakhiri kalimatnya, David tersenyum lebar sambil memberikan kode tangan yang menyayat leher dalam artian lain itu adalah eksekusi mati di tempat.
"Kakek gila? Bagaimana kalau dia menghajarku?" Risha tertawa kecil mengikuti tingkah konyol David karena dia tak dapat membayangkan bagaimana bisa, pria seperti David yang saat ini dia temui memiliki masa lalu cukup berbeda dari kepribadiannya.
David mendadak berdiri lalu dengan cepat melancarkan tendangan ke arah kepala Risha. Namun tendangan itu sangat mudah dihentikan oleh Risha, dia tersenyum lebar karena sangat tahu akan hal ini. Risha juga tersenyum lebar dan teringat akan kebiasaan mereka saat memiliki pendapat yang berbeda yaitu, hancurkan pendapat yang berbeda itu dengan kekuatanmu sendiri.
"Apa yang kau lakukan B*ngsat!" Risha menangkap kaki David lalu melemparnya ke samping dengan sangat keras.
"Gunakan hatimu untuk melihat kenyataan, bukan hanya kedua matamu!" Risha melancarkan satu pukulan tepat mengarah kepada David.
David menghindari pukulan itu hingga celah pada pertahanan Risha terbuka namun saat dia melihatnya, itu sudah terlambat karena itu adalah jebakan yang dibuat agar pandangan David tertuju kesana dan memberikan Risha sedikit waktu untuk mengambil keputusan. Risha melancarkan tendangan keras dan sangat telak terkena bagian perut David namun pria itu tersenyum.
"Jadi, kau membungkuk untuk mengurangi—tidak, atau mungkin saja untuk mengelabui penglihatanku lalu .... " Risha menggunakan kaki yang dipegang David sebagai tumpuan dan melancarkan serangan untuk menendang wajah David dari bawah namun itu gagal karena pria itu sudah melepaskan kunciannya dan membuat ia terjatuh ke bawah.
David tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang datang, dia langsung menerjang lalu mengunci pergerakan Risha. Risha beberapa kali melawan kuncian itu namun tak berhasil dan hanya terlihat seperti bahan candaan karena dia menggeliat seperti cacing kepanasan di bawah David. Dengan begini, pemenang sudah ditentukan yaitu David.
__ADS_1
David melepaskan kunciannya lalu duduk karena sudah kelelahan. Risha juga duduk dan memperbaiki postur tubuhnya. Setelah itu, tiba-tiba dia menangis.
"E-eh? K-kenapa kau menangis?" David jadi bingung dan tergagap karena tindakan itu sungguh di luar perkiraan bahkan oleh alam bawah sadar milik Risha sendiri.
"Kenapa ... kenapa kau pergi meninggalkanku hanya dengan kata 'maaf'–mu yang tak berguna itu?" Risha menangis sejadi-jadinya karena sudah tak dapat menahan rasa penasarannya selama ini.
Mungkin ini bukan tempat dimana Si Palsu berkata layaknya Si Asli yang selalu berada di sampingnya. akan tetapi, David yang merupakan alam bawah sadar Risha juga tak ingin tuannya bersedih. Daripada menghibur layaknya Si Asli, dia memilih untuk mengatakan sebuah hipotesis.
Suasana di antara mereka berdua sangat terasa pilu.
"Aku memang tidak berhak untuk mengatakannya, tapi ... " David mengelus kepala Risha dengan sangat lembut sambil berkata, "Dia meminta maaf karena tak bisa menemanimu lebih lama lagi meskipun ingin dan kau tak perlu bersedih maupun bertanya-tanya lagi, dia pasti menyayangimu karena itulah ia rela mengorbankan nyawa agar kau dapat bertahan hidup lebih lama meskipun hal itu berat untuk sebuah perpisahan."
Mendengar itu, Risha berhenti menangis dan mendongakkan kepalanya menatap wajah David yang sudah tua itu.
"Apa itu benar?" Risha berperilaku seperti anak-anak yang menginginkan pembenaran meskipun dia tahu bahwa itu hanyalah sebuah hipotesis tak jelas.
"50:50! Artinya ½ dari kemungkinan yang benar adalah begitu," ucap David sambil tersenyum menjentikkan jarinya.
Perlahan, dunia alam bawah sadar Risha memudar seakan musnah untuk selamanya.
"Sepertinya ini waktunya bagi kita untuk berpisah selamanya," ucap David tersenyum kecil kepada Risha.
"Kenapa?" Risha tak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh David.
__ADS_1
"Kau sudah tak memerlukan kehadiranku lagi karena ... kau sudah menemukan keluarga dan orang-orang yang akan menjagamu dengan baik." Dengan ucapan itu, sosok David dan senyumannya menghilang bagai debu tertiup angin.
Bersamaan dari itu, kesadaran Risha mulai memudar.