
Ketika hendak keluar dari kelas setelah pengarahan dari Wali Kelas di jam pelajaran terakhir, aku melihat Buk Hilda berdiri di lorong dan menungguku. Dia ini bagaikan sipir penjara, berdiri tanpa bergerak sedikitpun dengan menyilangkan lengannya. Faktanya, jika dia memakai pakaian militer dan membawa cambuk, mungkin itu akan terlihat sangat cocok dengannya. Well, karena sekolah ini juga mirip dengan penjara, kurasa imajinasi seperti itu bukanlah imajinasi yang berlebihan. Akan lebih bagus lagi jika Penyelamat Akhir Jaman muncul dan tiba disini.
“Tuan Kall. Saatnya untuk aktivitas ekskul.”
Setelah dia mengatakannya, aku bisa merasakan kalau seluruh darah di tubuhku menjadi dingin. Sial. Aku akan ditangkap. Kalau aku sampai dikawal menuju ruangan ekskul maka bisa dipastikan kalau diriku akan kehilangan seluruh kehidupan SMA-ku.
Nona Rose adalah seorang gadis yang terlahir superior, mengatakan kata-kata yang beracun nan mematikan. Ini sangat menusuk dan tidak terlihat manis sama sekali. Apakah ini pantas disebut sebagai gadis bangsawan? Oh tunggu dulu, deskripsi tadi tampaknya persis ciri-ciri Wanita Jal*ng Tua.
Meski begitu, Buk Hilda tampak tidak peduli kepadaku dan hanya bisa tersenyum.
“Ayo jalan.”
__ADS_1
Buk Hilda mengatakan itu dan berusaha menarik lenganku. Aku berusaha menghindarinya. Tanpa ragu, dia lalu berusaha menangkap tanganku lagi. Akupun berusaha menghindarinya lagi.
“Umm, begini ... saya pikir, dari semua hal, sistem pendidikan kita harusnya membantu siswa agar berani dan menghormati kebebasan. Jadi, saya ingin mengatakan keberatan tentang bagaimana saya dipaksa untuk ikut kegiatan ini .... ”
“Sayangnya, sekolah adalah institusi yang didesain untuk melatih siswa agar bisa terintegrasi dengan baik dengan komunitas masyarakat. Sekali kau masuk ke komunitas, tidak akan ada yang peduli dengan pendapatmu. Jadi kau harus mulai membiasakan dirimu untuk dipaksa melakukan apapun.”
Setelah Buk Hilda mengatakan itu, sebuah pukulan dengan cepat melayang ke arahku.
Dia tidak memberiku pukulan yang biasanya, tapi pukulan kali ini dia memukul dengan menambahkan gerakan memutar seperti memasang sekrup. Sangat bertenaga sehingga aku kesulitan untuk bernapas. Lalu tanpa membuang-buang waktu, dia menghentikan upayanya untuk membunuhku dan menarik tanganku.
“Tapak Iblis Pembaharuan Anda sangat mematikan .... ”
__ADS_1
Mustahil dalam level guru sekolah biasa ada rasa sakit yang melebihi pukulannya tadi.
Sambil berjalan, Buk Hilda membuka mulutnya seperti teringat sesuatu.
“Oh benar. Kalau kau mencoba kabur lagi maka kau akan otomatis kalah dalam perlombaan dengan nona Rose. Aku tidak menerima satupun alasan. Malahan, kau akan mendapatkan penalti. Kurasa kau jangan berharap untuk bisa lulus begitu saja dari SMA ini.”
Tampaknya mustahil aku bisa lolos dari ini. Bukannya ini berhubungan dengan itu sih. Ketika suara hak sepatunya yang menghantam lantai berbunyi dengan keras, Buk Hilda berjalan di sampingku.
Yang membuatnya terlihat buruk, dia menggandeng lenganku. Kalau dilihat-lihat, Buk Hilda seperti hostess bar yang menyamar sebagai guru yang sedang mengawalku menuju pertunjukan kabaret cosplay-nya.
Tapi ada 3 hal yang berbeda. Pertama, aku tidak membayarnya sama sekali. Kedua, dia sebenarnya tidak memegangi lenganku, tetapi menarik ujung lenganku. Terakhir, aku tidak terlihat bahagia ataupun antusias.
__ADS_1
Well, kecuali kalau ujung siku milikku ini menyentuh dada Buk Hilda.
Ruangan ekskul itu adalah satu-satunya tempat yang sedang kami tuju.