Pembunuh Bayaran Lanjut Sekolah

Pembunuh Bayaran Lanjut Sekolah
36


__ADS_3

(David POV)


Hari ini, Sabtu, 15 Mei 20xx, aku— David Kall yang tampan ini— bersama dengan mereka— nona Rose, nona V dan Buk Hilda— akan melakukan penyusupan ke panti asuhan Hoom Lied.


Seharusnya aku bilang begitu, tapi ....


Aku menatap dingin ke arah nona V yang sedang memperhatikan suasana di sekitar kami.


"Nona V, kau tidak sedang melakukan prank bukan?"


"Hm?" nona V hanya memiringkan kepalanya.


"Itu ... " aku menunjuk ke arah hutan yang ada di depan kami sambil berkata, "Bukankah itu adalah hutan?!" aku menaikkan sedikit suaraku.


"Memang, lalu?"


"Dasar l0nte!" teriakku.


Mendengar itu, wajah nona V yang sedari tadi melihat suasana sekitar tanpa kepedulian, akhirnya memerah seakan marah.


"E-eeehhh?! Ke-kenapa kamu memanggilku seperti itu?!!!"


"Jelas saja karena kau itu L0NTE!" balasku geram.


Wajar saja aku marah. Di depan kami hanyalah seperti hutan biasa tanpa adanya populasi manusia dan juga hewan. Terlebih lagi, dia membawa ratusan orang di belakang kami seakan ingin menaklukkan sebuah negara.


Andai saja tahu begini, pasti sudah kuhabisi saja Gadis L0nte itu. Kemarin dia terlihat cukup serius namun sekarang, kami malah seperti orang dari kerajaan Idiot yang datang untuk mengambil loot kayu di hutan. Bahkan, dia sudah membuat diriku yang tampan ini benar-benar terlihat b*odoh di depan mata ratusan orang.


Dari belakang, Buk Hilda berjalan pelan lalu menepuk pundakku dengan wajah serius.


"Tuan Kall, apa kamu pura-pura tidak tahu?"

__ADS_1


"Maksud Anda?" tanyaku.


Bukannya Buk Hilda, malahan nona Rose dengan bangganya membusungkan tembok rata itu ke depan dan menjelaskan suatu fakta kepadaku.


"Yang ada di depan kita hanyalah sebuah pengalihan. Faktanya, aku yakin tempat ini memiliki panjang sekitar 1.000 meter dan luasnya kira-kira setengah dari panjangnya."


Begitu ya ....


Dapat dipastikan tempat ini berbentuk persegi panjang. Jika panjangnya adalah 1.000 meter, maka aku akan mengasumsikan bahwa lebar dari setengah panjangnya adalah 500 meter. Maka, luas dari tempat ini adalah 500.000 m² dan jika aku konversikan menjadi km², hasilnya akan menjadi—


"Dengan luas 0,5 km² ini, apa yang mereka lakukan di kedalaman sejauh itu?"


"Entahlah, pastinya akan sangat sulit untuk menembus pertahanan mereka."


Setelah mengucapkan itu, nona Rose diikuti yang lainnya mempersiapkan senjata mereka. Dari dalam hutan, puluhan—tidak, bahkan mungkin ratusan bayangan anak-anak mulai terlihat. Mereka berlari menuju kemari dengan kecepatan yang diluar batas normal anak-anak pada umumnya.


"Tu-tunggu, apa yang sebenarnya terjadi?" tanyaku.


Tanpa mempedulikan pertanyaanku, semua orang fokus ke depan sambil menggenggam erat senjata di tangan mereka. Semua orang terlihat sedang bersiap untuk melawan sesuatu yang seharusnya tidak pernah kau temukan dalam lingkungan sosial masyarakat biasa.


Kenapa hanya aku yang tidak mengetahui informasi ini?


Apa yang mereka sembunyikan dariku?


Banyak sekali pertanyaan yang muncul di dalam kepalaku namun pada akhirnya, semua itu terjawab disertai dengan suara raungan yang cukup mengerikan dari ratusan sesuatu.


ARRRGGGGHHHHHHH!!!


Ratusan siluet itu semakin membesar menandakan bahwa mereka akan segera datang. Selang 30 detik, satu badan yang cukup kecil datang keluar sambil berlari ke arah kami mencoba untuk menyerangku. Wajahnya cukup hancur, memiliki kulit pucat dan matanya berwarna merah kehitaman.


...

__ADS_1



...


DOR!!! Sraaaakkkk!!!


Sebelum makhluk kecil itu sampai di depanku, kepalanya hancur lalu darah berwarna hitam dari tubuh makhluk itu berceceran kemana-mana hingga sedikit mengenaiku. Saat aku mencermati arah pelurunya, tembakan itu berasal dari sampingku, lebih tepatnya nona Rose yang melakukan itu. Wajah dinginnya seakan-akan menunjukkan bahwa tak ada belas kasih untuk makhluk yang sudah mati itu.


"Apa itu?" tanyaku pelan.


"Itu adalah hasil eksperimen yang dilakukan oleh panti asuhan Hoom Lied. Mereka biasa dipanggil H-2CM, lebih dikenal sebagai Zombie versi anak-anak," jelas nona Rose datar.


Begitu, ya. Ternyata eksperimen ini masih dijalankan oleh Si Br*ngsek itu. Sialan! Kerena terlalu hidup damai, aku jadi teralihkan.


"Akan kubunuh," gumamku pelan berjalan ke depan.


"He-hei! tunggu dulu Tuan Kall!" panggil Buk Hilda.


Aku berbalik sedikit dan berkata, "Ada apa?"


Melihat tatapanku yang begitu tajam, aku yakin Buk Hilda sempat bergidik.


"Jangan biarkan mereka memakan ataupun darahnya mengenaimu."


"Dimengerti."


Setelah menjawab itu, aku berlari ke depan tanpa menunggu mereka.


Gilbert, kau sudah keterlaluan. Formula itu, darimana kau bisa menemukannya kembali. Aku yakin, aku sudah membakar semua aset itu hingga akarnya.


Pasti ada seseorang di balik semua ini.

__ADS_1


Siapapun orang itu, aku pasti akan membunuhnya.


Darah pembunuhku, mulai mendingin lebih dari kemarin.


__ADS_2