Pembunuh Bayaran Lanjut Sekolah

Pembunuh Bayaran Lanjut Sekolah
8


__ADS_3

Berkat kejadian yang tak terduga tadi, atmosfer di antara mereka begitu canggung terutama pada David dan Risha. Setelah makan saat David ingin mendekati Risha untuk memperjelas situasinya, tapi Risha segera berpaling darinya tanpa berkata sepatah kalimatpun. Melihat kondisi itu, Mei yang merupakan salah satu penyebab dari kejadian tadi mulai berbicara dari belakang David.


"Dia masih marah?" Mei masih tak mengerti kenapa Risha masih menyimpan dendam, padahal tadi dia baik-baik saja.


"Entahlah, aku juga gak tahu," jawab David masih menatap punggung Risha yang pergi meninggalkan ruang makan.


"Dasar cowok ... " Mei beranjak dari duduknya lalu berjalan ke arah David dan berkata, "Jika kamu gak tahu apa alasannya, minta maaf aja ke dia." Mei tersenyum kecil pada David dan memberikan sedikit kode melalui bibirnya agar David menyusul Risha dan segera meminta maaf kepadanya.


Mengerti dengan kode itu, David mengangguk lalu pergi menyusul Risha. Melida yang selama ini diam memperhatikan situasinya, beranjak dari duduknya lalu mendatangi Mei dengan ekspresi dingin. Mei hanya diam, menunggu Mel berbicara terlebih dahulu.


"Boleh aku tanya sesuatu?" Mel berbicara seperti biasa dengan nada dinginnya.


Pertanyaan itu membuat bulu kuduk Mei jadi sedikit merinding, pasalnya dia tahu bahwa persaingan rahasia ini memiliki satu pemain gugur dan hanya menyisakan dua orang peserta. Daripada Mel jadi marah jika dia tak memperbolehkan, Mei dengan ringan memberikan kesempatan kepada Mel untuk memberikan pertanyaan kepadanya. Setidaknya, Mei sudah menyiapkan beberapa jawaban apabila itu tentang beberapa poin dari dirinya kepada David, orang yang dia sukai.


"Boleh," jawab Mei sambil menyembunyikan raut wajahnya yang masih takut.


"Menurutmu, kenapa David langsung mengejarnya tanpa pikir panjang?" Mel mengeluarkan pertanyaan yang sama sekali tak akan pernah Mei pikir akan keluar dari mulutnya.


Entah kenapa Mei merasakan berbagai macam sambaran petir di belakang, selain itu dia juga merasa keringat panas-dingin yang sangat deras mengalir pada seluruh tubuhnya. Pertanyaan yang terpikir oleh Mei bagaimana cara menjawabnya, membuat dia harus berpikir keras. Di lain sisi yang mereka bicarakan adalah David cowok yang gak peka dengan situasi di sekitar dan Risha yang otaknya isi otot semua, bagaimana mungkin bisa mereka merajut suatu hubungan dengan situasi seperti itu dan probabilitas terjadinya hal tersebut adalah 0,1 persen dalam perhitungan Mei.


"M–mungkin saja karena dia .... " Mei berhenti di tengah-tengah kalimat. Dia berpikir kembali sebelum melanjutkan jawabannya karena alasan ini bisa saja dipatahkan oleh kedua orang itu.


Mei terdiam sejenak dalam lautan pikirannya. Jika dia memberikan alasan yang tepat namun tak sesuai dengan bagaimana jalan pikiran David, sudah pasti akan terjadi pertikaian besar-besaran nantinya. Terutama saat David mengejarnya tanpa pikir panjang ataupun mengatakan bahwa tindakan itu sangat merepotkan.


...


Kembali lagi pada saat David tiba-tiba membawa Risha kedalam rumah mereka. Saat itu Risha terlihat lemah namun tak mengenakan pakaian lusuh, terlebih lagi dia sepertinya cuma tersesat dan tidak sengaja bertemu David pada saat di jalan. Jika yang kita bicarakan adalah David, sudah pasti dia akan memungut anak itu lalu membawanya kemari, tapi Mei tetap yakin bahwa tindakan yang dia lakukan sudah dilandasi pemikiran matang.


Saat Risha sudah masuk ke kamarnya, Mei menyelinap sedangkan yang ada di ruang tamu hanyalah David dan Melida. Melida duduk terdiam sambil mengamati tindakan David, sebaliknya David duduk di sebelah Mel di atas sofa yang cukup empuk. Saat David ingin menyapanya, Mel mendahuluinya.


"Jadi, kenapa dia disini?" Mel dengan ekspresi dinginnya selalu berhasil membuat orang lain takut hingga tak berkutik untuk melawan balik.


"S–sebenarnya ... aku membawanya karena dia memiliki sesuatu yang sama dengan kita." David menjawab pertanyaan Mel dengan sangat tergesa-gesa karena cukup kewalahan menghadapi tekanan yang didapat.


"Lalu, apa itu?" Mel memegang bahu David dengan erat agar dia tidak bisa kabur jika diperlukan, mungkin saja dia akan memotong kaki David jika ia berani melakukan hal tersebut.

__ADS_1


"Matanya bilang kepadaku kalau dia tak punya siapapun di dunia ini, sama seperti kita bertiga dan aku pikir dia butuh tempat untuk berteduh dan anggota keluarga yang menerima—!!!" sebelum David menyelesaikan ucapannya, Mel mendorongnya kebawah hingga posisi mereka cukup akan membuat orang lain salah paham.


Mel memegang erat kerah baju David dengan kedua lengannya lalu berkata, "Kita bukan pengasuh anak jalanan, tugas kita cukup berat dan aku ... " seketika Melida memalingkan wajahnya dari David dan kembali lagi lalu berkata, "Aku tidak ingin kalau dia tahu pekerjaan kita ini sangat kotor." Raut wajah Mel yang selalu dingin akhirnya luluh dan terlihat sedih.


Melida menjatuhkan tubuhnya, memeluk David sambil menyembunyikan wajahnya di bagian dada pria yang ia cintai. Daripada takut Risha akan tahu bahwa mereka selalu mengerjakan tugas kotor, melainkan dia takut bahwa Risha akan membuat David jauh darinya. Tentu saja Melida akan merasa malu dan mengalihkan pandangannya lalu mencari alasan lain karena pria di depannya ini, dia adalah seorang David yang sangat tidak peka akan kondisi di sekitarnya, entah itu dari lingkungan sosial maupun perasaan orang lain terhadap pria itu.


David yang sudah berada di posisi bawah hanya bisa menerima pelukan itu dan mengelus rambut Melida dengan lembut. Dia memikirkan kembali yang dikatakan oleh Melida dan itu memang ada benarnya, ada kemungkinan mereka hidup di dunia yang berbeda oleh karena itu dia harus melakukan kesepakatan bersama Risha, begitulah solusi yang didapatkan olehnya. Jika Risha tahu dan ia tidak ingin bersama mereka, maka David tidak akan memaksa dan membiarkan gadis itu pergi begitu saja karena dia tahu bahwa Risha tidak akan membocorkan rahasia mereka.


Kenapa David memiliki pemikiran seperti itu? Wajar saja karena mereka berdua memiliki mata yang sama. Bukan dilihat dari bentuk ataupun lensa kontaknya, akan tetapi dari tatapan mata yang tajam dan akan lebih kuat saat mereka ditimpa masalah. Orang yang memiliki tatapan seperti itu, pasti tahu rasanya akan sakit dan kejamnya hidup di dunia ini hingga dia juga mengerti tentang prinsip balas budi.


Kebaikan dibalas dengan kebaikan untuk sesama orang susah. Kejahatan akan dibalas dengan kematian yang sangat mengenaskan hingga kau tak akan bisa menemukan mayatnya. Lalu, bagaimana dengan pengkhianatan? Tentu saja akan tetap dibayar nyawa, itupun sebenarnya masih belum cukup sebelum jasadnya hilang dari muka bumi.


Setelah beberapa saat kemudian, Melida mau melepaskan David dan kembali duduk seperti sedia kala. David pamit kepadanya lalu berjalan menuju ke kamar Risha di lantai dua. Di depan pintu kamar Risha, dia mengetuknya beberapa kali namun tak ada jawaban, saat David ingin membukanya secara paksa ia mengurungkan niat itu karena dirasa tidak sopan lalu menunggu balasan dari sisi seberang hingga akhirnya, penantian itu tak sia-sia dan ia dapat mendengar suara Risha.


"Apa maumu?" tanya Risha ketus meskipun tak tahu bagaimana ekspresinya saat ini.


"Aku cuma mau bilang, kami bukanlah orang-orang yang baik dan terlebih lagi, pekerjaan kami adalah pembunuh bayaran yang mungkin kau benci ... " David menarik nafasnya sejenak lalu menghembuskan udara kotor itu perlahan hingga melalui hidung dan berkata, "Apa kamu masih ingin bersama kami?" David mengakhiri ucapannya dengan sedikit penekanan apabila di dengar oleh orang lain, dia seakan-akan melamar Risha.


"Aku mau." Risha membalasnya dengan singkat dan dari jawaban itu, entah kenapa hati David merasa lega lalu berjalan ke bawah menuju kamarnya di lantai pertama tanpa menunggu ataupun membalasnya.


Hari itu, ada satu hal yang Risha ingat. Kakeknya pernah mengajarkan sesuatu kepada Risha bahwa terkadang orang lain akan terasa seperti keluargamu sendiri. Hingga akhirnya, di zaman ini, dia menemukan sebuah keluarga yang mau menampung Risha meskipun mereka tak tahu darimana ia berasal.


...


Mengingat semua itu, Melida tahu bahwa kekhawatiran yang dia tekankan pada Mei hanyalah untuk mencari tahu sesuatu. Dia ingin tahu, apa yang dilakukan Mei pada saat mereka—dia dan David— berduaan, apakah saat itu Mei melihatnya atau tidak sama sekali. Untuk membuktikan kebenarannya, Melida sudah mempersiapkan pertanyaan ini sambil menunggu waktu yang tepat untuk menyuarakannya.


Dan jawaban Mei adalah ....


"Te—tentu saja David hanya menganggapnya sama seperti kita, bukankah dia itu tak punya keluarga dan hanya luntang-lantung di jalanan hingga David menemukan dan membawanya kemari?" Keringat dingin membasahi pipi Mei yang di dalam hatinya meronta-ronta sambil berdoa semoga jawaban dan yang ia pikirkan—David tidak memiliki perasaan apapun kepada Risha— terjadi.


"Begitu ya, Mei sangat berpikir positif ya .... " Karena sudah dipastikan bahwa Mei tidak mengetahui tentang kejadian bersama David, Melida berhenti menekannya lalu pergi ke kamar tanpa sepatah katapun.


Melihat reaksi Melida, Mei yang sudah hampir setengah mati menahan tekanan yang dia berikan, akhirnya bisa bernafas lega. Dalam artian lain, apa yang ingin diketahui Melida sudah dia dapatkan dan Mei juga yakin, hal itu bertentangan dengan pertanyaan tadi. Jika dipikir-pikir kembali, Mei hanya menemukan bahwa ada sesuatu yang terjadi ketika Risha baru saja datang ke rumah ini namun dia tak begitu mengkhawatirkan hal tersebut karena itu adalah Melida, dia tidak mungkin bisa melangkah sejauh apapun untuk mendapatkan hati Si David yang cukup keras kepala.


Mei berjalan ke sofa yang ada di ruang tamu lalu merebahkan diri. Dia tidak tahu kenapa semua ini harus terjadi di saat mereka akan memulai bisnis bersama untuk pertama kalinya. Selain itu, dia juga cukup menyesali kelalaian yang sudah ia lakukan dan berjanji pada diri sendiri untuk tidak mengulangi hal itu lagi demi perdamaian anggota keluarga lainnya.

__ADS_1


...


Kembali lagi ke David. Dia mengejar Risha hingga ke depan pintu kamarnya. Ini sama seperti saat itu, dia benar-benar mengingat dimana ia bertanya apakah gadis itu mau masuk ke dalam keluarga mereka hingga mendapatkan jawabannya lalu pergi begitu saja.


Saat ini juga sama, David bersandar di depan pintu dan menunggu Risha untuk bicara duluan. Beberapa menit sudah ia menunggu namun tak ada jawaban hingga akhirnya, David memberikan diri untuk bicara duluan. Setelah menghela napas berat, ia mulai bicara kepada Risha yang ada di balik pintu di depannya.


"Risha, aku tahu kamu pasti mendengar suaraku, apa kita bisa bicara sebentar?" David mencoba untuk menggunakan metode dimana hanya ada kesempatan ⅕ bagi orang yang ada di balik pintu itu akan mendengarkan ucapannya.


Sekian lama tak ada jawaban, David mengulanginya lagi. Namun masih tak ada jawaban sama sekali dari Risha dan itu membuatnya jadi tambah khawatir. Dia mencoba metode lain untuk menggerakkan hati Risha.


"Hey, apa kamu mengingat saat pertama kali kita bertemu?" David mulai merasa nostalgia karena saat ini ia sedang menceritakan sesuatu yang belum dia bicarakan kepada Risha.


Meskipun tak ada jawaban dari Risha, David melanjutkan ceritanya.


"Saat itu, kita tiba-tiba bertemu ketika kamu mengetuk pintu rumah ini. Aku sempat menyangka kamu adalah seorang pengantar koran langganan namun ternyata pendapatku salah. Apa kamu tahu bagaimana aku bisa mengetahui keselahan itu?" David memandang langit-langit bangunan rumah yang selama ini jarang dia perhatikan sambil mengingat pertemuan mereka saat itu.


Dari sisi lain, David bisa mendengar suara "Pfftt!" seperti kucing terjepit kaki gajah namun dia menghiraukannya seakan itu tak pernah terjadi dan masih lanjut bercerita tentang pertemuan mereka.


"Dari tatapan matamu, kita memiliki kesamaan dalam menatap sesuatu bagaikan jurang yang tiada hentinya. Begitu juga kau memandang cobaan di dunia ini, tiada waktu dimana seluruh kesulitan yang diberikan kepadamu akan berhenti dan itu akan terus berlanjut hingga jasadmu bertemu dengan tanah." Ekspresi David cukup berat dan agak malu karena dia tak pernah menceritakan tentang hal yang sudah lewat kepada orang lain.


Saat David ingin melanjutkannya lagi, pintu kamar Risha mendadak terbuka sedikit namun saat dia melihat kedalam, ternyata Risha sedari tadi tak mengunci pintunya. David melihat keadaan kamar Risha yang cukup tertata rapi di dalam gelapnya malam. Dia menemukan Risha terbaring lemah di atas kasurnya sambil ditutupi selimut.


"Jadi, selama ini kau menyembunyikan ini?" David memeriksa suhu tubuh Risha.


Risha terbaring lemas tak bertenaga, bahkan untuk membuka matanya saja dia tak bisa sama sekali. David sempat tertawa kecil karena orang yang biasanya cukup energik seperti dia, ternyata bisa terkena demam dan menjadi lemah seperti ini. Ketika David ingin mengambil beberapa obat-obatan di lantai bawah, tiba-tiba lengannya ditarik oleh Risha.


"To-long ... jangan ... tinggalkan aku ... lagi .... " Meskipun lemah, cengkraman tangan Risha masih sangat kuat seakan dia tak ingin melepaskan sesuatu lagi setelah kehilangannya.


David hanya bisa berdiam diri dan memandangi raut wajah sedih Risha. Terkadang dia akan mengusap keringat di wajah Risha menggunakan lengan yang satunya. Risha juga sering mengigau tak jelas.


"Kenapa kata maaf selalu kamu gunakan saat aku marah? Dan ... kenapa juga kamu minta maaf saat mengorbankan nyawamu demi banyak orang yang tidak kamu kenal?" igau Risha dengan raut wajah yang sangat sedih dan David hanya bisa mendengarkan sambil merasa bahwa ada sesuatu yang aneh ketika dia menyebutkan 'rumah di zaman ini hanya seperti apartemen murah di sana' dan berbagai macam hal yang sangat aneh, tapi dia tak menganggap serius atas ucapan Risha.


Dari belakang, Melida datang membawakan obat-obatan yang diperlukan dan air hangat untuk mengompres bagian tubuh Risha. David menyerahkan tugas untuk bagian pengobatan karena lengannya tak bisa digerakkan dan hanya dapat melihat kondisi Risha. Melida tetap fokus dalam perawatan Risha meskipun dia melihatnya memegangi lengan David, baginya itu bukanlah masalah besar karena terkadang ketika sakit, seorang gadis memang benar-benar membutuhkan seseorang agar ia dapat tenang dan penyembuhan tubuhnya bisa berjalan lancar hingga dia sehat seperti sedia kala.


Malam itu terus berlanjut tanpa ada percakapan di antara mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2