
“Apa kau bercita-cita untuk menjadi suami rumahan?”
“Well, itu sedang saya pertimbangkan .... ”
Jika memang dapat membuatku untung banyak, kenapa tidak?
“Jangan membicarakan cita-cita dengan memasang tatapan mata yang tajam bak preman dan menyedihkan milikmu itu. Matamu itu harusnya terlihat bercahaya dan dipenuni antusiasme tinggi. Sebagai referensi saja, apa rencana detailmu setelah lulus dari sini?”
Mungkin bukan ide yang bagus jika aku memberitahunya kalau masa depan yang harus dikhawatirkan adalah masa depannya, daripada masa depanku. Jadi, aku mengurungkan niatku dan memberinya jawaban yang logis.
“Well, saya berencana akan kuliah di tempat yang saya rasa mampu.”
“Begitu ya.”
Buk Hilda mengangguk setuju. “Setelah itu kau mau bekerja seperti apa?”
__ADS_1
“Setelah itu saya akan mencari wanita yang kaya dan cantik untuk saya nikahi, sehingga dia akan men-support saya sampai saya meninggal nanti.”
“Bukannya sudah kukatakan tentang ‘pekerjaan’! Berikan penjelasan tentang rencana pekerjaanmu yang jelas!”
“Bukankah sudah Anda beritahu sebelumnya, Buk Hilda, Suami Rumahan.”
“Kalau begitu, kita menyebutnya sebagai gig*lo! Cara hidup yang menyedihkan. Mereka itu adalah kaum yang memberikan kode-kode kalau mereka tertarik untuk menikah, dan tanpa sadar mereka sudah ada di rumahmu, bahkan mereka sudah punya kunci duplikat rumahmu. Jangan lupa juga kalau mereka juga membawa barang bawaan mereka ketika tinggal. Lalu ketika putus, mereka bahkan membawa perabotan rumah itu bersama mereka seperti seorang gembel!”
Buk Hilda mengatakan itu dengan jijik, memberitahu setiap detail tentang itu. Dia mengatakan itu dengan sangat serius sehingga kehabisan napas dan hendak mengeluarkan air mata.
Sangat menyedihkan. Saking sedihnya hingga aku ingin menghiburnya.
“Teori gila apalagi itu?!”
Ketika masa depanku mulai terlihat diinjak-injak, aku terpaksa mengambil pilihan. Impianku sudah diambang kehancuran, jadi aku berusaha mengubah pembicaraan ini ke arahku.
__ADS_1
“Mungkin akan terdengar buruk jika Buk Hilda memanggil saya gig*lo, tapi seorang suami rumahan bukanlah sebuah pilihan yang buruk.”
“Hmm?”
Buk Hilda menatapku dengan tajam dan menyandar ke kursinya. Sebuah gestur tubuh yang mengatakan ‘akan kudengarkan, apa alasanmu?’
“Apa Buk Hilda tahu tentang ‘kesetaraan gender?’, bukankah normal melihat wanita jaman sekarang punya perkembangan sosial juga? Bukti dari adanya hal itu adalah Anda yang ada disini sebagai guru.”
“.... Well, kurasa itu ada benarnya.”
Kurasa aku sudah memancingnya. Sekarang aku tinggal terus berbicara.
“Tapi, saya rasa tidak perlu matematika yang rumit untuk mengatakan kalau setiap ada sejumlah besar wanita masuk dunia kerja, maka dalam jumlah yang sama akan ada pria yang kehilangan pekerjaan. Maksud saya, bukankah jumlah lapangan pekerjaan akan terus terbatas, tidak peduli apapun yang terjadi?”
“Kalau itu .... ”
__ADS_1
“Misalnya sebuah perusahaan 50 tahun lalu dimana 100% pekerjanya adalah laki-laki. Jumlah pekerjanya adalah 200 orang. Jika perusahaan hendak memasukkan 100 pekerja wanita disana, maka 100 orang pekerja pria akan dipecat dan harus mencari pekerjaan di tempat lain. Tapi barusan itu hanyalah kalkulasi sederhana. Jika Buk Hilda melihat bagaimana situasi ekonomi kita yang sedang merosot, hanya tinggal tunggu waktu saja para pekerja pria itu akan di-PHK.”
Setelah aku memberikan pendapatku, Buk Hilda memegangi dagunya dan berpikir sejenak.