Pembunuh Bayaran Lanjut Sekolah

Pembunuh Bayaran Lanjut Sekolah
35


__ADS_3

Musim hujan adalah waktu dimana semua orang berbondong-bondong mencari tempat untuk berteduh. Bukan hanya sekedar berteduh, biasanya anak-anak yang menikmati masa muda berlarian di bawah derasnya tetesan hujan sambil berteriak seperti orang gila. Cukup konyol rasanya menyamakanku dengan mereka, yah walaupun usia kami juga sepantaran sih.


Meskipun sedang musim hujan, langit di atas masih terlihat cerah. Namun, di ruangan Neraka ini, ruangan Ekskul Melakukan Apapun. Banyak sekali atmosfer mendung tanpa cahaya dan sangat menyesatkan.


"Jadi, dengan kata lain orang yang bernama Gilbert ini adalah ahli dalam segala bidang kecuali ilmu pengetahuan?" tanya Buk Hilda sambil memegangi bagian bawah dagunya yang terlihat sedang berpikir.


Nona V mengangguk sekali dan berkata, "Um, benar. Dia memang hebat masalah insting bertahan hidup, tapi bodoh dalam berpikir dan mencerna informasi."


Aku dan nona Rose hanya terdiam mendengarkan mereka bertukar informasi penting. Sebenarnya alu bisa memberikan yang lebih, tapi mengingat kondisiku saat ini pastilah sangat mustahil untuk mengatakannya kepada mereka. Apalagi yang kami lawan adalah orang itu, Gilbert.


Nona V dan Buk Hilda masih melanjutkan pertukaran informasi mereka.


"Apa saja persiapan yang kamu lakukan untuk menyelamatkan mereka?"


"Aku sudah menyuruh orangku untuk berjaga di sekitar sana. Hanya saja, kami kekurangan tenaga untuk menyusup kedalam. Bisa dibilang, skala penyerangan dari kami ini sangatlah kecil dibandingkan apa yang bisa dilakukan oleh pihak pemerintah."


Mendengar itu, nona Rose yang sedari tadi diam mulai angkat bicara.


"Konyol."


"Hm?" nona V menatap nona Rose seakan meminta penjelasan.


Nona Rose hanya memejamkan matanya tanpa mempedulikan tatapan penuh tanda tanya dari nona V. Jujur saja, aku sependapat dengan nona Rose. Jika kau tidak memiliki persiapan yang matang, lebih baik tunda dulu sebelum kesempatan itu benar-benar pergi.


Di dunia ini, tidak ada yang namanya kesempatan kedua dalam membunuh.


"Lalu, kenapa kau berpikir persiapan ini bisa menyelamatkan anak-anak itu?" tanya Buk Hilda tegas.


"Mudah saja, kita hanya perlu menahan tuan Gilbert karena ialah kekuatan tempur utama di sana," jawab nona Rose yakin.


"Misalkan saja ... " nona Rose berdiri lalu mengacungkan arah tembakan pistolnya kepada nona V sambil berkata, "Mereka sudah mengantisipasi hal ini akan terjadi, apa kamu hanya ingin membuat situasinya tambah kacau?"


"I-itu .... "

__ADS_1


"Sudah cukup," tegasku.


Melihatku yang akhirnya beraksi, Buk Hilda mengatakan sesuatu seperti "Hou" dengan ekspresi yang cukup terkejut. Aku juga terkejut karena tiba-tiba berdiri dan ikut campur seperti ini. Harusnya aku tidak ikut campur dan menjalankan ini sendirian hingga dianggap menang dari nona Rose.


Tapi mau bagaimana lagi, tidak ada rasa puas dalam kemenangan apabila lawan tidak frustasi dikarenakan keberhasilanmu.


Aku lanjut bicara di depan ketiga gadis aneh itu.


"Untuk Gilbert, biar aku saja yang mengurusnya. Karena menyelamatkan anak-anak itu sangat merepotkan."


"Bagaimana kalau kau gagal?" tanya Buk Hilda.


"Bukankah itu berarti riwayatku akan tamat?" ucapku sambil senyum dan mengangkat kedua bahu.


"Bukankah itu sama saja bunuh diri?" lanjut Buk Hilda.


"Biarkan saja dia," ucap nona Rose tak peduli.


Mendengar itu, bukan hanya Buk Hilda, kami bertiga menjadi terkejut dibuatnya.


"Untuk Gilbert, kita serahkan saja kepada tuan Kall," jelas nona Rose.


"O-oh .... "


"Lalu, bagaimana dengan taktik penyelinapannya?" tanya nona Rose sambil menatap nona V.


"Kita akan masuk lewat bagian samping langsung menuju ke tempat Gilbert, di situ akan kita serahkan kepada tuan Kall untuk menahannya, lalu kita masuk lebih dalam menyelamatkan anak-anak yang masih ada."


"Baiklah, kalau begitu tidak ada yang perlu didiskusikan lagi."


Nona Rose langsung menutup diskusi dengan kalimat tersebut. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia beranjak dari tempat duduknya lalu pergi begitu saja. Tak lama setelah ia melewati pintu, bel sekolah berdering tanda semua kegiatan telah usai dan kami yang tersisa segera keluar.


♦♦♦

__ADS_1


Saat ingin berjalan keluar sekolah, tepat di parkiran sepeda belakang sekolah, nona Rose sudah berdiri tegak menungguku.


Jadi saat kami bertikai tadi, nona Rose memberikan sebuah kode untuk menemuinya kesini dari semua tindakannya. Kode pertama pada kursi yang ia tembak terdapat secarik kertas terselip dan kode kedua, saat ia menyerangku dengan jarak dekat dan sebelum Buk Hilda menghentikan kami berdua, ia sempat berbisik di telingaku.


Ternyata, nona Rose ini bisa sedikit romantis juga. Apakah dia memintaku seperti ini cuma untuk menyatakan perasaannya kepada diriku yang ganteng ini? Wah, sayang sekali aku tidak tertarik dengan hubungan palsu seperti pacaran dan sejenisnya.


Aku membuka percakapan diantara kami.


"Langsung saja ke intinya."


"Kenapa kamu gak menolak untuk dijadikan sebagai umpan?" tanya nona Rose menatap dingin padaku.


"Pertama, aku gak bisa nolak. Kedua, jika aku menolak, kamu pasti akan menjadi orang pertama yang mengajukan diri."


Intinya, aku ini sedang berbaik hati saja.


"Sampai segitunya?" nona Rose terlihat penasaran dengan jawabanku tadi.


"Ya, setidaknya lebih baik meminimalisir kejadian yang akan terjadi selanjutnya." Aku menjawabnya tanpa pandang bulu dan hati-hati.


"Hanya karena kamu bisa bertahan dari serangan tadi, belum tentu kamu bi—"


Sebelum nona Rose selesai, aku menyela.


"Karena itu aku mengandalkan kalian agar cepat-cepat menyelamatkan semua anak itu dan menolongku."


Setelah mengatakan itu lalu aku berbalik tanpa menunggu jawaban dari nona Rose dan melambaikan tangan seakan mengatakan perpisahan kepada seseorang. Sebenarnya tadi itu aku cuma bohong kalau ingin dengan murahnya menawarkan nyawaku. Aku rela menjadi umpan hanya karena orang itu, ya Gilbert sialan yang harusnya sudah mati di tanganku.


*Bunuh.


Bunuh dia.


Bunuh target yang sudah menodai kebanggaanku sebagai seorang Pembunuh Bayaran*.

__ADS_1


"Darahku mulai membeku."


__ADS_2