
Tet tretet tretetet tet! *Tanda pesan masuk*
Ketika aku baru saja menjauh dari ruangan ekskul, ponselku berdering. Aku mengambil ponsel yang ada di dalam saku sambil menggerutu.
"Saat-saat begini siapa sih orang jahil yang suka menghubungiku? Huft!"
[Pesan] "Temui aku di kelasmu! - Ongchun"
Begitulah pesannya.
Wajahku yang sedari tadi lesu akhirnya mendapatkan kembali warnanya semula. Bukanlah hal lumrah bagi seorang pria seperti diriku ini untuk mengikuti tantangan itu, tapi aku yakin hal tersebut tidak akan mengganggu kehidupan sekolah yang tenang ini. Intinya jika aku butuh seseorang untuk menjadi batu loncatan, maka Ongchun adalah orang yang sangat tepat.
Tap tap tap
Aku berjalan menyusuri koridor ruang kelas yang sudah sepi. Hanya ada diriku, angin yang berhembus dan suara dari beberapa jangkrik. Bagiku, suasana seperti ini sangat menyenangkan karena kau bisa membunuh siapapun tanpa diketahui oleh orang lain.
Ups! Sepertinya pikiranku sudah tidak waras karena dua setan itu.
Sampai di depan kelas kami, perlahan aku membuka pintu kelas.
Pisau yang cukup tajam mengarah tepat di depan mataku. Segera aku mengunci lengan si pemegang pisau dan membuat orang itu menjatuhkannya. Aku menendang perut orang itu hingga dia bertekuk dan mengunci tubuhnya dengan sangat kuat.
"Aww-aaahhhh! Te-tenang dulu, Kawan! I-ini aku, Ongchun!"
"A-ah, maaf."
Perlahan aku melepaskan kuncian pada tubuh Ongchun.
Ongchun menghembuskan nafas berat dan berkata, "Haah ... ternyata refleksmu masih belum ada yang berkurang ya. Sangat disayangkan kamu berhenti—!!!"
Pow!!!
Aku menampar wajah Ongchun dengan sangat keras hingga ia terpental ke dinding ruangan.
Meskipun sudah menerima pukulanku, Ongchun tetap santai saja dan berdiri kembali layaknya tak ada apa-apa yang terjadi barusan. Dia tersenyum ke arahku dengan sudut yang cukup tajam. Gigi emasnya yang nampak sangat menyebalkan itu, membuatku ingin memekul wajahnya lagi hingga benda laknat itu lepas.
Ongchun mulai protes.
__ADS_1
"H-hei! Tadi itu aku bisa mati lho!"
"Bukankah itu mustahil karena pembunuh 'Sekte (Aliran) Heart' memiliki kepala yang cukup keras melebihi batu?"
"Ayolah, jangan menggunakan sarkastik yang tidak kupahami, Teman."
"Tidak, serius, aku sedang mengatakan fakta."
Wajah Ongchun yang baru saja sadar akan fakta tersebut membentuk sebuah bentuk "O" yang menyebalkan.
Suasana ruangan mulai berubah. Awalnya seperti adegan film remaja tema sekolahan, sekarang berubah menjadi tema horor. Tekanan yang mengalir dari udara di sekeliling kami mulai terasa sangat mencekam.
Meskipun begitu, aku masih memprovokasinya.
"Kau baru saja menyadarinya?"
"B-breng—seeeeekkkkkk!!!"
Ongchun menggunakan kepalanya untuk menyerangku. Aku segera membelokkan arah sundulannya ke arah dinding sekitar, namun Ongchun dengan cerdik mengatur kembali arah sundulan kepalanya. Kepala baja itu kembali mengarah kepadaku.
Sepertinya aku tidak punya pilihan lain untuk menjinakkan Si Banteng yang sangat keras kepala ini.
Semakin dekat ....
Ongchun, kau memang mantan penerus Sekte Heart buangan yang tidak berguna.
"Teknik pembunuh - pukulan mencari duit!"
Aku mengarahkan sebuah tinju yang super duper sangat keras sekali pada kepala Ongchun.
"Ohok!"
Ongchun yang menerima tinjuku langsung pingsan tak sadarkan diri. Mulutnya yang dipenuhi buih menandakan bahwa ia sudah memasuki dunia mimpi buruk. Aku memberikan penghormatan sedikit kepada tubuhnya, lalu meninggalkan kelas dengan sangat diam.
Namun—
"Siapa yang ada di sana?"
__ADS_1
Aku menatap meja paling belakang yang ada di kelas.
Perlahan, kepala seorang gadis sambil mengangkat kedua tangannya muncul. Rambut emasnya yang cukup panjang serta identik dan kecantikan alami itu, tentu saja akan membuat semua orang terpengaruh, kecuali aku. Dia tersenyum kecil ke arahku dan menggerakkan kedua tangannya menandakan seperti kata menyerah pada suatu pertarungan.
Tap tap tap
Aku berlari dengan sangat cepat ke arahnya. Langkahku yang tidak menimbulkan suara membuat wajah cantik itu cukup terkejut. Tepat di depannya, aku menunjukkan sebuah ekspresi yang cukup dingin.
"Kau melihatnya?"
Dia hanya tertunduk ringan sambil gemetar.
"Y-ya."
"Apa kamu berjanji akan merahasiakan ini untuk selamanya?"
Dia hanya diam tanpa suara.
Apa aku sudah memberikan tekanan yang harusnya tidak perlu?
Aku hanya memasang tampang tak tertarik dan berbalik meninggalkan kelas. Saat mencapai ruang kelas, gadis itu memanggilku.
"Tuan Kall!"
Aku hanya menoleh sedikit ke belakang.
"Huh?"
"Maukah kamu membantuku?"
Fufufu ....
Mulutku tersenyum dengan sudut yang cukup tajam. Seperti pemburu beruang di Gunung Kidul, aku hanya perlu menunggu mangsa. Dan betapa hokkinya diriku yang ganteng ini bisa mendapatkan seorang client pertama untuk ekskul kami.
"Datanglah ke ruang ekskul Melakukan Apapun, di sana kami akan menerima request darimu."
Setelah mengatakan itu, aku hanya melambaikan tangan tanpa mempedulikan jawaban maupun respons dari gadis itu.
__ADS_1
Melida V.
Ternyata kau memang sedikit berguna dalam rencanaku untuk menang dari duo setan itu.