Pembunuh Bayaran Lanjut Sekolah

Pembunuh Bayaran Lanjut Sekolah
13


__ADS_3

Puluhan menit berlalu hingga akhirnya David dan Risha sadar.


"Ugh ... kepalamu kok keras seperti batu sih?" protes David yang masih memegangi kepalanya.


"Nyadar diri dong!" balas Risha yang juga memegangi kepalanya kesakitan.


Mereka berdua saling tatap seakan menantang satu sama lain dalam adu kekuatan. Jelas saja hanya itu yang dapat terpikirkan untuk kasus begini. David menyengir ke arah Risha seakan sedang merendahkannya.


"Apa lo senyam-senyum? Kayak kuda aja, hmph!" ucap Risha mengintimidasi David yang menurutnya bahkan mirip keledai dibandingkan kuda biasa.


"Oohh ... kalau aku kuda, berarti kamu lebih mirip katak nyebur ke sumur dong! Hahaha—ughhh!"


Risha menampar perut David saat dia tertawa.


"Lucu? Katak? Ngomongin itu lagi, aku patahin leher kamu!" Wajah Risha yang cantik alami berlinangkan air mata dan saat David ingin menghapusnya, dia segera menepis tangan David.


"Kenapa?" tanya David membeku.


"Gak apa apa kok! Ya—yaudah sini! Kita harus membuat keputusan untuk rencana selanjutnya." Risha menarik lengan David agar ia duduk tepat di sebelahnya.


Risha melakukan itu bukan tanpa sebab, melainkan ia tidak ingin teringat akan masa-masa bersama kakeknya dulu. Mereka sering bercanda dan kebetulan David yang sudah berumur 60an tahun itu menyebut wajah Risha amat sangat mirip dengan seekor katak. Biasanya, Risha menangis lalu memukuli David hingga paling tidak, terdengar suara retakan tulang pada salah satu bagian tubuh kakeknya itu.


David menuruti keinginan Risha dan duduk di sebelahnya tanpa protes.


"Sekarang kita sudah masuk kedalam kamar, lalu gimana lagi?" tanya Risha menggunakan bahasa lain agar tidak mudah disadap.


"Bukannya kita harus tidur dulu?" David menarik lengan Risha dan membawanya ke atas kasur.


"E-eh???" Risha sangat terkejut dan membiarkan David membawanya tanpa perlawanan sedikitpun.


Mereka sampai di atas kasur dan David menarik selimut hingga menutupi keduanya. Dalam kegelapan, tubuh mereka masih terjaga dan tak saling sentuh karena dua irang itu sudah terbiasa menjaga tubuhnya dalam situasi seperti ini. Perlahan mereka mulai bicara kembali dengan suara yang lebih kecil.


"Pertama, aku akan aktifkan dulu EMP dengan gelombang lebih kecil untuk mengganggu fungsi barang elektronik di sini," ucap David sembari mengaktifkan EMP yang tersembunyi di dalam semua kancing bajunya.

__ADS_1


"Sekarang, setidaknya kita akan aman dalam beberapa menit, aku tahu ini terlalu singkat bagimu, jadi akan aku ringkaskan untukmu ... " David mengambil jeda sebentar lalu bicara kembali, "Malam ini, kita akan langsung mendaratkan serangan telak di kepala para target dimana mereka bertemu sesuai janji yang telah ditetapkan."


"Bagaimana kau akan tahu mereka akan melakukan janji temu pribadi?" tanya Risha merasa risih seolah tak ada faktor pendukung bahwa yang diucapkan oleh David benar.


"Itu karena mereka pasti akan berdiskusi tentang penyerang yang datang namun tidak secara langsung, aku yakin mereka berdua sembunyi di suatu tempat."


"Lalu bagaimana kita bisa mengetahui mereka ada dimana?" Risha terlihat lebih tenang dari sebelumnya namun kegundahan akan bagaimana metode untuk menemukan target masih belum terlintas di dalam kepalanya.


"Mudah saja, aku sudah memperhatikan setiap lantai kediaman ini dan dari seluruh kemungkinan yang ada, mereka pasti akan berpikir sebagaimana pikiranmu terarah," jelas David namun tak memberikan informasi lebih karena takut masih ada beberapa alat yang masih aktif.


"Lalu?"


"Menurut informasi yang aku perhatikan, kediaman ini memiliki lima lantai, tiga di permukaan tanah untuk menyambut para tamu VIP, sedangkan dua yang di bawah hanyalah tamu biasa dan mungkin saja mereka adalah perkumpulan mafia," jelas David.


"Hm?"


"Kemungkinan yang mereka pikir, aku berpikirkan menyerang lantai bawah dan mengajak para mafia itu bekerja sama untuk membunuh mereka, di lain sisi jika aku ambil dari apa yang akan dipikirkan oleh diriku sebelumnya, tepat sekali mereka akan mengambil tempat yang tak diduga sangat mudah dicari ... " David memberi jeda beberapa detik untuk memberikan penekan pada kalimat berikutnya lalu berkata, "Mereka akan berada di mana bahkan orang biasa dapat menemukannya."


Setelah David selesai mengatakan itu, dia langsung membuka selimut yang menutupi mereka berdua. Kedua pembunuh itu sama-sama berkeringat karena panas bukan hanya di tubuh melainkan dalam mental, hal itu membuat bentuk lekukan tubuh Risha sangat jelas terlihat. Lantas Risha buru-buru menutup bagian tubuhnya, sedangkan David segera memalingkan wajahnya agar tidak mendapatkan label mesum dari orang yang seharusnya tak pantas mengatakan hal itu.


...


Dari atas tangga kelihatan sangat jelas ada grup yang beranggotakan tiga gadis muda nan cantik dan sangat menonjol itu bagaikan pajangan di dalam riuhnya lantai pertama tamu VIP. Melihat David dan Risha sudah keluar dari kamar, Mei melambaikan tangan kepada mereka dan kembali bicara dengan Nona Muda yang tidak lain adalah Isabella Rosenberg. Mereka berdua langsung menghampiri grup itu lalu ikut serta dalam percakapan mereka.


"Apa kalian sudah lama menunggu?" tanya David kepada Mei dan Melida.


Mereka hanya menatap kosong wajah David yang sangat jelas bahwa dia baru saja mandi.


"A—ada yang salah?" tanya Risha seakan tak nyaman dengan tatapan kosong itu.


Nona Muda itu maju seakan memecah keadaan yang hampir tak terkendali itu.


"Jadi, apa namamu Risha?" tanya Nona Muda sambil menendang rendah pada Risha.

__ADS_1


"Y–yeah ... itu benar," jawab Risha gelagapan karena bingung ingin bilang apa.


"Dan yang ada di sebelahmu ini .... " Nona Muda menatap David dengan sangat dingin seakan-akan dia tak diundang.


Tak ingin memperburuk suasana, David mencari alasan supaya terlepas dari Nona Muda.


"A–ah ... sepertinya aku harus menjauh dari grup para gadis, hahaha ... hahaha .... " David melebarkan jarak di antara mereka sedikit demi sedikit.


"Hey, siapa yang menyuruhmu pergi?" tanya Nona Muda yang membuat langkah David terhenti.


"Eh? Lalu, apa Anda ingin saya beridiri di sini?" tanya David.


"Apa kau tidak membaca situasinya?" Nona Muda membagikan sedikit pandangannya kepada David akan di sekitar mereka dan apa yang akan terjadi nanti padanya apabila meninggalkan grup obrolan ini dan berkata, "Meskipun aku benci laki-laki ada di grup obrolan para gadis, tapi kali ini aku akan menerimamu hanya sebagai pemeran tambahan—ah! Mungkin lebih tepatnya manusia gedung?" Nona Muda mengakhiri ucapannya dengan istilah berupa singgungan, dalam artian bahwa David hanyalah sebuah benda pajangan dan bukan manusia.


"Halo, Nona? Apa kau sedang bermain peran ratu disini? Bukankah itu agak berlebihan?" ucap Risha tak tahan melihat David diremehkan kehadirannya.


"Heh ... memangnya siapa kau? Pengasuhku? Atau mungkin ibuku? Kenapa juga aku harus mendengarkan ucapanmu, itu tidak penting," balas Nona Muda itu.


"Cih," Risha mendecakan lidahnya lalu menggandeng David dan membawanya ke halaman luar.


...


Setelah David dan Risha keluar.


"Apa itu kekasihnya?" tanya Nona Muda kepada Si Kembar.


"Tentu saja bukan Nona," balas Mei sambil menahan amarahnya yang mungkin bisa saja meledak kapanpun itu.


"Lalu ... " Nona Muda menyilangkan jari dan


meletakkan dagunya di atas lalu berkata, "Apa hubungan mereka yang sebenarnya?"


"Keluarga, mereka hanyalah kakak-beradik Nona," balas Melida datar.

__ADS_1


"Begitu ya," Nona Muda tersenyum kecil dan menganggap bahwa David itu adalah SISCON kronis.


Mereka melanjutkan perbincangan yang sempat terhenti tadi sambil mengakrabkan diri masing-masing. Pekerjaan ini terlihat begitu mudah namun sebenarnya sangatlah sulit karena mereka harus bertahan dari rasa amarah yang sangat besar ini. Andai saja, Nona Muda di depan mereka bukanlah target yang harus dilindungi, sudah pasti kepalanya akan tergeletak di lantai akibat kalimat terlarang yang sudah terucap dengan sangat dingin itu.


__ADS_2