
Saat aku masuk ke dalam rumah, sebuah tangan mencoba untuk menghentikan langkahku dan aku mengikutinya begitu saja.
"Kak, bisa lepas sepatumu dulu sebelum masuk? Kaki Kakak itu cukup bau."
"Umm ... maaf."
Usai meminta maaf aku melepaskan sepatu yang masih terasang dan meletakkannya di tempat asal. Melihatku selesai melakukan permintaannya, gadis itu mempersilahkanku untuk masuk. Dengan senyum tulus, ia mengikuti setiap langkahku dari belakang.
Kau tahu, yang membuat rumah serasa seperti di Surga ... itu hanya akan didapatkan jika kau memiliki seorang adik perempuan yang sangat baik. Seperti adikku yang satu ini, meskipun dia hanyalah sepupuku, dia terus membantu dalam perawatan kediaman keluarga Kall selama ini. Dia adalah gadis yang cantik, memiliki panjang rambut yang sedang dan berwarna putih, memiliki tampilan bak bidadari dan juga merupakan adik yang terbaik sepanjang masa, Minea Kaller.
Dia tinggal di kediaman keluarga Kall karena orang tuanya tidak menerima kehadiran Mine—begitulah caraku memanggilnya— dan membuangnya ke rumah ini. Rumah yang awalnya aku anggap sebagai Neraka, mulai berubah sejak ia hadir ke kediaman keluarga Kall. Berbeda dari kebanyakan gadis, Mine adalah gadis yang cukup pendiam namun memiliki sisi yang sangat baik kepadaku, ya ... hanya kepadaku.
Bingung mau apa, aku bertanya.
"Umm ... jadi, kita mau ngapain?"
"Makan?"
"Sudah masak?"
"Pasti! Kakak pasti suka masakanku!"
Dengan wajah penuh bangga, Mine menarik lenganku. Saat ini ia sedang mengarahkan langkah kami ke arah dapur. Wajah senangnya menandakan bahwa ia sudah bersusah payah membuatkan itu khusus untukku, tentu saja sebagai kakak yang baik aku tidak akan mengecewakannya.
Bak seorang pelayan yang teredukasi, Mine mempersilahkan tempat duduk dengan cara yang sopan.
"Silahkan, Kakak."
"Tentu."
Aku duduk secara perlahan sambil melihat makanan yang ada di atas meja.
"I-ini?!"
"Belut!"
"Whaa?!!"
Belut? Apa belut itu rasanya enak? Serius, seumur hidup aku belum pernah makan masakan belut.
Tanpa menghiraukan wajahku yang sangat gugup, Mine memegangi pundakku dan berkata, "Kakak enggak suka sama masakan belutku?"
__ADS_1
"A-ah ... bu-bukan begitu, Mine! Se-sebenarnya dikarenakan terlalu senang, Kakak jadi lupa diri."
Maaf aku harus berbohong demi senyumnya.
Mine lalu tersenyum setelah mendengar jawabanku yang sebenarnya sulit untuk dipercaya, namun semua itu tidak berlaku untuknya. Anggap saja seperti, dia akan selalu percaya pada kata-kata yang keluar dari mulutku. Meskipun agak sedikit mengganggu, fakta ini selalu menyelamatkanku dari marabahaya—seperti saat aku kepergok menyembunyikan buku porno olehnya.
Perlahan aku mulai mencoba belut yang dimasak Mine. Layaknya slow motion, aku merasakan sensasi aneh pada mulutku dengan gerak waktu yang sangat lambat. Sensasi itu mulai memenuhi mulutku hingga akhirnya, aku sudah tak tahan lagi.
"Ueeenaaakkk! Belut memang mantap!"
"Benarkan? Syukurlah jika Kakak suka. Kalau mau tambah, masih ada banyak lho .... "
"Tentu!"
Dengan begitu, aku sudah makan banyak belut malam ini.
♦♦♦
Merasa sangat kenyang, aku bersandar di kursi layaknya seorang pemabuk yang sudah teler.
Melihat tingkah laku yang cukup konyol, Mine tertawa kecil. Ah ... dia benar-benar tampak seperti bidadari jatuh dari Surga. Karena mode Surganya sudah selesai, saat yang tidak ingin aku rasakan, akhirnya mulai terjadi.
"Jadi, apa Kakak sudah bermain-main dengan para gadis cantik seharian ini?"
Mengerikan! Mine sangat mengerikan jika dalam mode seperti ini!
"A-aku tidak sedang bermain-main, lebih tepatnya ... a-ah! Kami sedang menjalankan kegiatan ekskul!"
"Ekskul?"
"Ya! Ekskul Melakukan Apapun! Meskipun tidak tahu rinciannya, aku dipaksa untuk bergabung ke sana. Meskipun begitu, tolong jangan salah paham dulu!" tanpa sadar suaraku tiba-tiba naik.
"Hm?" tatapan Mine mulai menjadi dingin dan sangat menusuk.
"Aku ingin merasakan apa itu yang namanya kegiatan ekskul. Jadi secara teknis, aku juga tidak merasa terpaksa harus mengikuti setiap kegiatannya."
"Be-begitu ya .... " tatapan Mine mulai melunak.
"Y-yeah ... begitulah."
"Apa boleh aku ikut?"
__ADS_1
Aku langsung menolaknya sambil menggerakkan jari dan membentuk tanda "X".
"Tidak."
Mine yang ditolak lalu agak sedikit terkejut.
"Kenapa?"
"Karena ekskul itu tidak cocok untuk Mine."
"Kenapa enggak cocok?"
"Karena di sana cukup bar bar. Jika kamu tidak punya mental yang kuat, kamu akan kalah."
Kalah dari duo setan itu.
Braakkk!!!
Mine yang kehilangan akal sehatnya karena mendapat penolakan dariku, memukul meja makan hingga terbelah dua.
"Uwaahh! Apa kau ini seorang Wonder Woman?!"
"Apa Kakak dibully saat mengikuti kegiatan ekskul itu?"
"T-tentu saja tidak! Mine tahu sendiri kan, kalau Kakakmu ini orang yang baik."
Ya, aku adalah orang yang baik sebelum gosip itu beredar.
"U-umu ... Kakak memang pria yang baik."
Mine terbujur kaku dan segera meminta maaf kepadaku saat kesadarannya sudah kembali dalam keadaan normal.
"Maaf, Kak."
"Tidak apa, lain kali jangan lakukan lagi."
Aku menepuk kepalanya sambil tersenyum bahagia. Setelah itu, kegiatan makan malam kami selesai tanpa adanya keputusan tentang keinginan Mine untuk ikut serta dalam kegiatan ekskul kami. Meskipun dia memohon, aku tidak akan membiarkan hal tersebut sampai terjadi.
Mine yang marah karena khawatir kalau aku dibully itu ....
Sangat imut.
__ADS_1