Pembunuh Bayaran Lanjut Sekolah

Pembunuh Bayaran Lanjut Sekolah
25


__ADS_3

Seperti biasanya, nona Rose sedang membaca buku.


Setelah menyapanya, aku lalu menjaga jarak dengan duduk 5 langkah dari sisi seberangnya, menarik sebuah kursi dan duduk. Lalu aku mengambil buku ekonomi dari tasku.


Saat ini, Ekskul Melakukan Apapun ini berubah menjadi sebuah Ekskul Membaca. Tapi serius ini, apa sih kegiatan dari ekskul ini? Dan apa yang terjadi dengan pertempuran yang seharusnya kami berdua lakukan?


Jawaban tersebut kemudian muncul bersamaan dengan tamu yang sudah diundang mengetuk pintu ruang ekskul. Nona Rose tiba-tiba berhenti membaca, menaruh penanda halaman buku dan menutup bukunya.


“Silahkan masuk.” Dia mengatakan itu dan menatap ke arah pintu.


“Per-Permisi.”


Sebuah suara yang bernada antusias bercampur gugup. Pintu sedikit terbuka sehingga membuat sebuah celah kecil. Gadis itu mencoba melewati celah itu dan masuk ke ruangan. Dia bersikap seperti tidak ingin ada orang yang melihatnya masuk ke sini.


Rambut emas panjang dan dibiarkan terurai begitu saja sehingga terlihat bergerak-gerak ketika dia berjalan. Kedua matanya melihat kesana-kemari ke berbagai sudut hingga melihat ke arahku. Dia lalu memasang ekspresi terkejut.

__ADS_1


.... Memangnya gue ini apaan? Teklotek (setan)? Serius dah!


“Ja-jadi, beneran ada David disini?!”


“.... Sebenarnya aku anggota tetap ekskul ini.”


Atau harusnya kukatakan ‘Apa kau baru saja memanggilku David?' Tapi yang paling penting adalah ... kenapa sih gadis ini selalu sok akrab denganku?


Jujur saja, dari awal aku tidak tahu siapa dia. Tapi mengesampingkan itu, dia memang terlihat sebagai gadis SMA idaman semua pria. Aku sering melihat tipe gadis yang seperti ini— malahan bisa dibilang sering—, seorang gadis tulip yang menunjukkan aura masa muda. Rok yang panjangnya di atas lutut kaki, seluruh kancing seragamnya selalu tertutup rapi, rambutnya yang panjang, cukup halus hingga terlihat sangat terawat dan di lehernya tergantung kalung yang mencolok mata.


Tapi, kenyataan kalau dia tahu siapa diriku membuatku menyadari kalau ini tidak akan berjalan dengan bagus jika aku meresponsnya dengan bertanya 'Maaf, kamu ini siapa ya?'


Juga, aku menyadari warna pita yang dia pakai adalah merah. Di sekolah ini, setiap tingkat kelas dibedakan dengan warna pita. Pita merah berarti dia adalah siswi kelas 3, sama sepertiku.


.... Bukannya aku hendak melirik dirinya pertama kali di bagian dadanya, entah mengapa penglihatanku terfokus ke situ ....

__ADS_1


Ngomong-ngomong, mereka terlihat cukup lumayan ....


“Well, kenapa kau tidak duduk terlebih dahulu?”


Aku mengatakan itu sambil menaruh tempat duduk di depannya, memberitahunya untuk duduk. Asal kau tahu saja, sikap gentleman-ku ini tidak ada hubungannya dengan perasaan bersalah akibat yang kulihat barusan. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya seorang pria lakukan. Tahulah, aku ini adalah seorang pembunuh bayaran muda pro yang gentleman. Fakta bahwa aku sendiri memakai kaos bertulisan 'Laki Minum Extra Boss' dibalik seragamku ini merupakan sebuah bukti.


“Te-Terima kasih.”


Dia menerima tawaranku dan duduk secara perlahan.


Nona Rose yang duduk di depannya, menatapnya.


“Kalau tidak salah, Melida V., benar?”


“K-Kau kenal aku?”

__ADS_1


Dia— Melida V.—, tiba-tiba terkejut karena namanya mendadak dipanggil. Sepertinya, dikenal oleh nona Rose membuat nona V mendapatkan sebuah status baru dari "Undead" biasa menjadi "Super Licht".


__ADS_2