Pembunuh Bayaran Lanjut Sekolah

Pembunuh Bayaran Lanjut Sekolah
34


__ADS_3

"Berhenti di situ!" teriak Buk Hilda yang baru saja membuka pintu.


Kami pun— aku dan nona Rose— berjauhan agar tidak saling bertikai kembali. Meskipun begitu, aku masih belum bisa melepaskan pandanganku dari nona Rose yang masih memegang pistolnya dengan posisi seperti itu. Aku yakin, tadi itu memang sengaja dilakukan oleh si tembok rata itu.


Pertama, dia menembakku namun penempatan arah pada posisi yang akan kena peluru adalah bagian tebal dari kursiku. Refleks menembak yang begitu cepat layaknya seorang aktor pada film 'Cowboy's Heils', bisa dibilang begitu mirip. Kemungkinan dia tahu kalau itu bukanlah sebuah gaya saja, melainkan sebuah teknik penembak jitu yang cukup efisien saat berhadapan dengan lawan kuat dan cepat.


Kedua, cara nona Rose mengisi peluru tadi. Aku yakin sekali itu bukanlah gerakan yang bisa dilakukan oleh pemula, melainkan ada beberapa teknik khusus seperti yang dilakukan nona V pada kedua belah pisau anehnya. Terlebih lagi, kecepatan pengisian itu layaknya angin mengalir dan sangat dinamis hingga terdengar enak bagi telinga.


Terakhir, tembakan ketiga tadi cukup menggangguku. Padahal dia punya kemampuan sehebat itu, kenapa dia tidak langsung membunuhku saja? Apa dia mengasihaniku? Yang benar saja!


Click Clack Click Clack


Buk Hilda berjalan ke arah kami. Dia melihat keadaan sekitar ruangan dan kembali menatap tajam pada kami berdua. Pada jarak yang sama antara diriku dan nona Rose, Buk Hilda mulai berbicara.


"Apa kalian berdua ada masalah?"


"Tidak—"


Sebelum nona Rose selesai menjawab, aku segera menyela.


"Ada! Sangat ada! Mereka berdua ini sudah gila!" teriakku.


"Aku tidak ingin mendengar hal itu dari Penjahat Kelamin sepertimu," ucap nona Rose tajam menatapku.


Buk Hilda mengambil sepotong rokok dari kantong jasnya lalu menyalakan rokok itu. Sekali hisap, lalu ia keluarkan sebesar-besarnya. Sekali lagi ia menghisap, lalu diarahkan kepada kami berdua secara bergantian.


Serius, apa sih yang dilakukan wanita tua ini?


Apa suatu hari nanti para perokok akan seperti dia?

__ADS_1


Eh, bukankah hal itu sangat berbahaya?!


Sebelum aku ingin protes, nona Rose segera protes duluan.


"Buk Hilda, jika Anda ingin merokok tolong jangan lakukan di dalam ruangan ini," tegas nona Rose.


Namun, Buk Hilda masih tidak peduli dan menunggu reaksi selanjutnya. Nona Rose kembali menatap dingin Buk Hilda dan sekali lagi memperingatinya. Tetap saja Buk Hilda tidak mendengarkan peringatan itu.


Merasa diabaikan dan cukup lelah, nona Rose duduk di kursinya yang sudah ia arahkan kepada kami. Dia mengamati kami dari kejauhan sambil memegang pistolnya. Sekarang hanya tersisa aku dan pembimbing ekskul kami, Hilda Iko.


"Jadi, apa masalah kalian?"


"Keraguan."


"Kenapa demikian?" Buk Hilda menyipitkan matanya.


"Karena nona Rose adalah orang yang minim dengan kepercayaan."


Buk Hilda menempatkan jari tangannya ke bawah dagu seakan berpikir dan berkata, "Jadi, apa isi request dari nona V sehingga membuatnya kehilangan rasa percaya terhadap orang lain?"


"Penyelamatan anak yatim piatu," jawabku datar.


Sraakkkk!!!


Berbagai macam kertas berserakan. Saat kulihat sekilas, isi dari kertas itu adalah laporan dari berbagai macam penelitian. Tidak lupa juga ada nama yang sangat aku ingat tertulis beberapa kertas itu.


"Gilbert."


"Kenalanmu?" tanya Buk Hilda.

__ADS_1


"Hanya seseorang yang tidak ingin aku temui."


"Kalau begitu, kalian laksanakan saja requestnya. Aku beritahu saja, di sana pernah terjadi penelitian yang sangat tidak manusiawi."


Grakkkk!!! Suara dari bangku nona Rose.


Nona Rose segera berdiri dari posisinya dan berkata, "Akan kami lakukan."


"H-hei?!"


"Aku tidak butuh pendapatmu, cukup turuti keinginanku sebagai ketua ekskul ini."


Aku kehabisan kata karena apa yang ia ucapkan benar. Namun, maaf saja. Kali ini aku juga tidak bisa mengalah.


"Tidak bisa, sangat berbahaya."


Mendengar ucapanku, nona Rose terkejut.


"Kenapa?" tanya Buk Hilda.


"Tuan Gilbert, benar kan?" sahut nona V yang baru sadar.


Aku hanya diam tanpa suara.


"Dia adalah pelatih di sana. Banyak rumor mengatakan bahwa dia sudah memakan banyak otak dari anak-anak muda," jelas nona V.


Menjijikan.


Ternyata itulah kenapa dulu dia selalu ingin membuat kami kelelahan, huh. Dia juga memiliki rahasia yang sama mengejutkannya dengan Pak Ketua. Tapi, rahasia ini benar-benar terlihat biasa saja bagiku.

__ADS_1


Anggap saja seperti ini, jika otak manusia yang kau makan itu dapat menambah kecerdasan otakmu, kenapa tidak? Begitu juga menurutku dengan Gilbert, dia itu hanyalah Kakek Tua yang terlalu mengikuti pendapat jadul. Syukurlah saat itu aku bisa mengalahkannya, jika tidak habislah riwayat diriku yang tampan ini.


Entah kenapa, suasana ruangan ini terasa kembali seperti semula. Meskipun terlihat seperti sedang menjalani proses ekskul masa muda. Lebih tepatnya, di sini hanyalah di mana kau bisa melepaskan masa mudamu dengan sangat mudah.


__ADS_2