
Sementara David dan Risha berperan sebagai penyerang, Mei dan Melida mengelola perhatian lebih yang terus ditujukan pada mereka.
Tapi berbeda dari apa yang Mei harapkan, dua orang terkuat yang sedang patah hati masih berkumpul dan enggan menyapa mereka.
Di sisi lain, Nona Muda masih belum terlihat.
"Mel, menurutmu apa kita sudah gagal?" bisik Mei memberikan isyarat kepada Melida.
"Ini sudah dianggap cukup berhasil."
Mendengar jawaban dari Melida, Mei kembali bersemangat dan lebih memancarkan aura kewanitaannya yang sangat berkelas.
Pada dasarnya, rencana ini mengutamakan pengalihan bilamana kedok mereka diketahui, maka probalitas keberhasilan misi menurun drastis. Suatu pengalihan akan berhasil jikalau para badut memainkan peran mereka dengan sempurna tanpa celah namun ada beberapa hal yang dapat membuka celah besar untuk para badut yaitu, ketidaktertarikan.
{Masalahnya ada pada dua orang itu, jika mereka tidak tertarik ... maka kami hanya dapat membeli sedikit waktu bagi mereka berdua.} Mei dengan harapan tinggi dapat menimbulkan suatu ketertarikan dan yang dapat ia lakukan adalah— ....
Mei menghampiri kedua orang terkuat, "Permisi Tuan dan Nyonya, aku punya suatu topik tentang orang yang sudah menolak kalian."
Cling!— Kedua mata orang itu bersinar sangat terang melebihi bintang di langit dan menatap tajam ke arah Mei.
{Bagus! Mereka sudah terpancing, sekarang mari bermain sedikit kata.} Meskipun target sudah menelan umpan, tetapi Mei harus tetap berhati-hati karena umpan yang dia pasang hanyalah sebagai pemenuhan hasrat semata dan bukan untuk peran badutnya. Di sini yang sedang ia lawan adalah bagaimana caranya agar mereka terus melengket pada topik pembicaraan ini. Ada sedikit saja kesalahan dan ketidainginan untuk didengar oleh para audiens, maka hanya kematianlah yang menunggu di depan mata.
—Intuisi bermain.
Pemikiran yang rasional tak akan pernah berjalan pada kesempatan ini. Mei yang tahu akan hal itu masih tetap memberanikan diri untuk ambil resiko. Semua tatapan mata tertuju kepada mereka dan di sisi lain, Melida diberikan sedikit waktu untuk bisa menghirup udara segar dan berpikir bagaimana nantinya agar ia dapat membantu Mei.
"Jadi, diantara kalian bedua ... siapa yang ingin terlebih dahulu bertanya?"
__ADS_1
"Aku." Gori membusungkan dadanya dengan bangga.
Sementara itu, Driana mengangguk setuju karena bisa saja ia berpikir kalau ini hanyalah bualan semata.
"Apa yang orang itu sukai?"
{Yang dia sukai, huh.} Mei berpikir kembali apa yang David sukai.
Dia tidak benar-benar tahu apa yang pria itu sukai. Pasalnya yang dia lihat dari pria itu hanyalah berbagai macam perbuatan tanpa suara miliknya. David tidak pernah bicara tentang apa yang dia suka, tapi terlihat jelas kalau dia benar-benar tidak pernah menyukai sesuatu bahkan hingga terobsesi akannya.
Mei hanya mengingat bahwa David pernah berkata, "Dunia ini sangat kejam, oleh karena itu kita yang harus membuatnya menjadi terasa lebih lembut."— kalimat itu terus bergumam hingga saat ini di hatinya. Dia sadar bahwa David tak memiliki impian dan yang ia lakukan hanyalah semata-mata demi bertahan hidup. Dia jujur dan sedikit kurang adil akan sesuatu dimana mereka harus terlibat dengan sebuah perasaan, disitu ia benar-benar sangat tidak adil.
"Sebelum aku menjawabnya, mungkin aku harus menjelaskan tentang dirinya terlebih dahulu."
Gori mengangguk tanda setuju karena dia yakin bahwa itu adalah hal terpenting untuk mengetahui lebih tentang pasangan idamannya.
Penekanan itu ada terhadap kesederhanaan dan kelebihan khusus. Kalimat itu akan membuat Gori berpikir beberapa kali bagaimana ia harus mengartikan maknanya. Dimana padahal memiliki arti yang sangat mudah ditebak, yaitu pria yang memiliki hati baik.
Gori berdeham sekali sebelum bicara.
"Jadi, pendekatan pertamaku salah huh."
"Maksudmu?" Driana yang sedari tadi diam akhirnya ikut menimbrung, memberikan pertanyaan karena dia juga penasaran akan pemikiran Gori.
"Dia adalah orang yang sederhana, darimanapun aku menawarkan sebuah kekayaan ... semua itu hanyalah rongsokan di matanya. Orang seperti dia adalah mereka yang tak memandang isi dunia, melainkan dunia itu sendiri." Gori tersenyum cerah memandang langit seakan puas dengan sesuatu—dimana ia merasa, ditolak mentah-mentah oleh pria seperti itu bukanlah hal yang sangat buruk hingga mempengaruhi citra dirinya di mata orang lain.
Driana tercengang, tak percaya dengan kalimat yang sudah keluar dari mulut Gori. Biasanya pria itu hanyalah seorang barbarian yang akan maju menerobos apabila ada seseorang yang sudah menarik perhatiannya. Namun di saat seperti ini, dia malah bersikap sangat bijaksana seolah Buddha sudah mempengaruhi hatinya yang keras itu.
__ADS_1
Mei yang sudah dapat membaca kepuasan dari lip service—nya, mencoba keuntungan yang ia dapatkan kembali pada Gori.
"Apa masih ada yang lain, Tuan?" tanya Mei dengan nada yang sangat sopan bak seorang bangsawan.
"Hmmm ... coba kulihat terlebih dahulu—ah! Ada satu yang mengganjal di pikiranku ... " Gori mengeraskan ekspresi wajahnya, "Kenapa kau tahu akan hal itu?"
Deg!— seperti telah diterpa badai yang disertai racun mematikan, pertanyaan itu juga dapat mengartikan bahwa keberuntungan kurang berpihak di sisi Mei dan juga ini akan buruk apabila dia mengatakan kalimat jawaban yang tidak sesuai.
{Ayo Mei! Berpikir kembali!} Mei memaksa otaknya untuk berpikir keras untuk jawaban dari pertanyaan Gori.
Ada beberapa opsi.
Jika dia menjawab, "Aku sudah terlebih dahulu memperhatikan dia, jauh sebelum kau memperhatikannya."— itu sama saja akan menaikkan sebuah bendera kematian dan menegaskan bahwa ia menganggap Gori adalah saingan cinta mereka, berarti di sisi lain ia juga mengakui bahwa David menyukai sesuatu yang seperti itu.
Apalagi kalau jawabannya adalah " Kami berteman sejak kecil, tehee!~~"— bisa saja sebuah pukulan keras dari lengan besar milik Gori langsung mengarah ke wajahnya. Apabila ini bukan misi, Mei akan mengajak orang ini untuk bergelud, tapi kenyataannya dia sedang berada di sebuah misi dan membawa perasaan pribadi hanya akan membahayakan nyawa rekannya.
Lebih tepatnya adalah playing fool— yang berarti dia akan tarik ulur.
"Bisa dibilang ia adalah kakak bagiku." Mei mengepalkan salah satu lengannya karena kesal dengan apa yang dia katakan barusan.
"Hou!— Jadi, kau adalah calon adik iparku!" Giri mengatakan itu dengan berseri-seri.
Rasa mual mulai bergejolak dalam perut Mei, ia juga sudah meminta bantuan pada Mel namun tak ada balasan.
Lantaran Melida juga kesal dan dia menganggap bahwa itu sangat cocok sebagai hukaman kepada Mei.
Percakapan itu terus berlanjut hingga membuahkan hasil "David adalah pria terbaik di dunia— by Gori"— dan lagi-lagi membuat bulu kuduk David menjadi dingin.
__ADS_1
Maaf ya, Vid. Serius, aku terpaksa melakukannya! (〒﹏〒) — Meida.