Pembunuh Bayaran Lanjut Sekolah

Pembunuh Bayaran Lanjut Sekolah
20


__ADS_3

Aku teringat kalau aku pernah disuruh berdiri di depan papan tulis sendirian sedang siswa sekelasku mengelilingku dan meneriakkan ‘minta maaf! minta maaf!’ sambil bertepuk tangan. Skenario itu mirip dengan sebuah neraka.


.... Itu adalah sebuah pengalaman yang pahit. Itu pertamakalinya aku menangis di sekolah lebih tepatnya, saat itu aku masih TK.


Tapi, aku baik-baik saja saat ini.


“Tapi, menjadi yang disukai pasti lebih baik daripada menjadi yang dibenci. Kau terlalu dimanjakan. TERLALU DIMANJA.”


Aku mengatakan begitu saja setelah memori yang tidak menyenangkan teringat di kepalaku. Nona Rose mendesah pendek. Dia tampaknya seperti sedang tersenyum, tapi ekspresinya itu terlihat berbeda.


“Meski aku sendiri tidak punya satupun keinginan agar orang-orang menyukaiku,” dia menegaskan sesuatu dan menambahkan beberapa kata lagi. “Sebaliknya, jika orang-orang itu benar-benar tulus menyukaiku, mungkin itu akan benar-benar menjadi hal yang bagus.”


“Huh?”


Aku secara spontan memintanya untuk mengulang apa yang barusan dia katakan setelah mendengarkan kata-katanya yang sangat pelan tadi. Dia lalu menoleh kepadaku dengan ekspresi wajah yang serius.


“Jika kau berteman dengan seseorang yang sangat populer di kalangan para gadis, bagaimana menurutmu?”


“Pertanyaan yang bodoh. Aku tidak punya satupun teman, mengapa pula aku harus mengkhawatirkan hal itu.”

__ADS_1


Aku menjawabnya dengan tegas. Seperti seorang pria. Meski aku sendiri yang mengatakannya, aku juga terkejut betapa cepatnya diriku menjawabnya sebelum dia menyelesaikan kata-katanya.


Pada kenyataannya, semua teman-temanku hanyalah psikopat yang gila darah dan jumlah korban.


Tampaknya nona Rose juga terkejut. Dia seperti kehilangan kata-kata dan membiarkan mulutnya terbuka begitu saja.


“.... Untuk sejenak, aku sempat berpikir kalau kau baru saja mengatakan sesuatu yang cukup keren ... ” nona Rose menaruh tangannya di keningnya seperti terkena sakit kepala, lalu dia merendahkan kepalanya. “Coba kau mengandaikan dirimu dalam posisiku tadi, apa jawabanmu?”


“Aku akan membunuhnya.”


Ah, keceplosan!


“Jelas kan, kau akan mencoba untuk mengeliminasi orang itu? Itu seperti tindakan brutal para psikopat yang tidak masuk akal. Tidak, mereka bahkan punya perasaan yang lebih rendah dari binatang. Sekolah tempatku berada punya banyak sekali orang-orang seperti itu. Meski aku percaya kalau mereka itu adalah orang-orang yang patut dikasihani karena hanya bisa melihat eksistensi diri mereka dengan melakukan hal-hal tersebut.”


Nona Rose tiba-tiba tertawa kecil ketika mengatakannya.


Gadis yang dibenci oleh para gadis. Kategori semacam itu pasti ada. Tidak sia-sia rupanya aku bersekolah selama 6 tahun.


Bukannya aku terlibat dalam itu, tapi itu adalah sesuatu yang bisa kau pahami hanya dengan melihatnya dari kejauhan. Tidak, itu karena aku sedang melihat dari luar-lah aku bisa memahaminya.

__ADS_1


Nona Rose pastinya selalu berada di titik tengah masalah itu, tanpa ragu, dia selalu dikepung dari segala arah. Bagi seseorang yang hidupnya seperti itu, aku bisa membayangkan apa saja yang sudah dia lalui selama ini.


“Waktu SD dulu, sepatu indoor-ku disembunyikan dariku sekitar 80 kali, tapi 50 kejadian itu pelakunya adalah gadis-gadis di kelasku.”


“Aku sangat penasaran dengan 30 sisanya.”


“Lima kali dilakukan oleh anak laki-laki. 10 kali ketika ada guru yang membelikan itu untukku. Dan 15 sisanya, seekor ayam mencurinya dariku.”


“Persentase dicuri oleh ayam tampaknya tinggi sekali.”


Itu adalah sesuatu yang diluar imajinasiku.


“Tapi, tidak ada yang mengejutkan soal itu.”


“Aku tadi sebenarnya hanya mencoba untuk tidak mempedulikannya!”


“Karena hal itu, aku harus membawa pulang sepatu indoorku setiap hari dan akhirnya aku juga harus membawa recorderku yang ada di kelas seni musik pulang ke rumah juga.”


Nona Rose mengatakan itu dengan ekspresi yang aneh. Setelah melihat ekspresinya itu, aku tiba- tiba merasa simpati dengan apa yang menimpa nona Rose yang dingin itu.

__ADS_1


Itu benar. Itu benar. David Kall— yang tampan—. Jangan. Pernah. Berbohong.


__ADS_2