Pembunuh Bayaran Lanjut Sekolah

Pembunuh Bayaran Lanjut Sekolah
24


__ADS_3

“Sedang perusahaan sendiri, semakin maju zamannya, maka perusahaan akan semakin mengurangi ketergantungannya terhadap pekerja manusia. Ini dikarenakan perkembangan dan penyebaran yang pesat dari komputer dan internet yang memberikan efisiensi, dimana ini mempengaruhi pendapatan per-kapita secara signifikan. Kalau Buk Hilda tanya ke warga negara maju pada umumnya, mereka mungkin akan mengatakan ‘bekerja keras memang bagus, tapi situasinya tetap meresahkan.’ dan itu juga belum termasuk satu pekerjaan yang diisi shift bergantian. Ya sesuatu yang sejenis itu.”


“Ya, kadang aku sering mendengar pendapat-pendapat semacam itu.”


“Dan karena pekerjaan rumah tangga ini telah berkembang pesat selama ini, tidak peduli siapa yang mengerjakannya, hasilnya sama saja. Bahkan laki-laki juga bisa mengerjakan pekerjaan rumahan dengan baik.”


“Tunggu, tunggu dulu.”


Buk Hilda memotong ceramahku yang berapi-api. Dia pura-pura batuk dan menatapku.


“Aku kesulitan mencerna apa untuk dimana, dan dimana untuk apa. Jadi, penjelasanmu itu terlihat seperti sebuah penggiringan opini ke arah tertentu.”


“Well, itu mungkin cuma perasaan Buk Hilda saja.”

__ADS_1


“.... Apa?”


Kursinya tiba-tiba bergerak bersamaan dengan tendangan kakinya ke kakiku. Sial, itu tidak sakit, tapi memalukan sekali. Semua tatapan dari para guru mengarah kepada kami berdua yang sedang melakukan diskusi panas.


Lalu, dia menatapku dengan berapi-api. Aku lalu memutuskan untuk menutup kata-kataku itu.


“Ke-kesimpulannya adalah! Jika mempertimbangkan kita sudah bekerja sebegitu kerasnya untuk membangun sebuah komunitas sosial dimana kita mendapatkan pekerjaan sementara ada satu orang lainnya yang menganggur, maka mengeluh tentang pekerjaan dan kurangnya lapangan pekerjaan adalah hal yang absurd dan salah!”


Sebuah kesimpulan yang sempurna. Kalau kau bekerja, maka kau kalah oleh sistem.


Buk Hilda mendesah kesal. Setelah itu dia tersenyum kecil seperti teringat akan sesuatu. Kalau boleh berpendapat, mungkin aku sudah mengingatkan Buk Hilda tentang suatu pengalamannya yang buruk.


“Kalau suatu hari nanti ada gadis yang memasakkan masakan rumahan kepadamu, setidaknya sekali, aku yakin cara berpikirmu yang busuk itu akan berubah sedikit demi sedikit.”

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Buk Hilda berdiri dan mendorong bahuku agar aku keluar dari ruang guru.


“Tu-Tunggu! Apa yang Anda lakukan?! Ow! Ini sakit sekali!”


“Kembali lagi kesini jika kau sudah belajar tentang betapa terhormatnya bergabung di Ekskul Melakukan Apapun.”


Sambil meremas bahuku dengan sangat kuat, dia mendorongku keluar dari pintu lalu menutupnya dengan sangat cepat.


Ketika aku hendak membalikkan badanku untuk komplain, sayangnya pintu ruangan sudah ditutup. Kurasa itu berarti ‘tidak menerima penolakan, komplain, pertanyaan, atau negosiasi ulang’.


Ketika aku berpikir kalau ini kesempatan bagus untuk langsung pulang ke rumah, aku merasakan sedikit pegal dari bahuku yang dibuat oleh Buk Hilda ketika menarikku keluar. Kalau aku mencoba kabur, aku mungkin akan dihajar olehnya dengan cara yang akan menodai kebanggaanku sebagai seorang pembunuh bayaran.


Orang yang baru saja membuat tubuhku merasakan malu seperti ini adalah manusia terburuk yang pernah ada di muka bumi.

__ADS_1


Tanpa adanya pilihan lain, aku putuskan untuk muncul di sebuah ekskul yang bernama Ekskul Melakukan Apapun. Di mana, mungkin aktivitas ekskul itu adalah memecahkan teka-teki. Meski memiliki sebutan ‘ekskul’, aku sendiri tidak tahu ekskul macam apa itu. Tidak lupa juga, kalau ketua ekskul itu juga merupakan misteri terbesar di sana.


Ada apa sih dengan gadis itu?


__ADS_2