Pembunuh Bayaran Lanjut Sekolah

Pembunuh Bayaran Lanjut Sekolah
Last but Not Last


__ADS_3

(Sudut pandang David Kall)


5 tahun berlalu semenjak penyerangan itu.


Aku terbangun dari tidurku menatap penuh semangat ke arah jam yang ada di atas meja. Sinar mentari cerah menerangi kamar dan sedikit menyilaukan mataku. Di luar kamar, dapat didengar teriakkan keras seperti biasanya.


"Kakak, cepat turun! Ayah dan Ibu sudah menunggu!"


"Ah, ya aku segera turun!" balasku.


Aku segera berlari ke ruang dapur. Di sinilah ruamh baruku, rumah keluarga Kall. Dan kami di ruang makan ini, merupakan sebuah keluarga baru semenjak 5 tahun lalu.


"Vid, kenapa lama sekali tidurmu?" tanya Ayah, Rooney Kall.


"Sebenarnya belakangan ini sering ada kerjaan, Yah," balasku.


"Kalau memang pekerjaanmu cukup melelahkan, lebih baik kamu cari kerja yang lain aja Nak," lanjut Ibu, Gillian Kall.


"Iya benar itu kata Ibu," sahut adikku, Mine.


"Tidak, tidak ... aku sudah terbiasa dengan kerjaan santai ini."


Mendengar jawabanku, bukannya santai mereka malah tertawa terbahak-bahak.


"Jadi seorang developer game kok malah santai?" ucap Ayah sambil tertawa.


"I-iya, tidak mungkin jadi seorang developer itu santai," lanjut Mine.

__ADS_1


"Sudah ... sudah ... kalian tidak boleh membully David. Bukankah prestasinya sudah mencapai pasar dunia?" ucap Ibu membela diriku yang tampan ini.


Meskipun sudah dibela Ibu, mereka berdua malah tambah tertawa keras dan membuatku segera ingin keluar rumah. Saat aku keluar melewati pintu rumah, seseorang seperti biasa sudah menunggu di depan rumah. Rambut panjang berwarna hitam dan aura dingin itu, ya dialah Isabella Rosenberg, lebih tepatnya sering kupanggil nona Rose.


"Maaf membuatmu lama menunggu, nona Rose," aku menundukkan sedikit kepala.


"Ya, tidak perlu meminta maaf tuan Kall."


Wajah malunya yang memerah entah kenapa membuatku sering merasa nyaman dan diiringi oleh rasa bersalah. Aku segera berjalan ke arahnya. Kamipun berangkat ke tempat kerja yang sudah dijalani bersama selama ini.


...


Di jalan.


Nona Rose menatapku bingung. Anggap saja ini seperti sebuah adegan film, jadi aku sedikit melemahkan ekspresi wajahku. Aku menatapnya balik namun ia segera berpaling.


"I-itu .... " nona Rose tak berkata apa-apa.


"Ada yang aneh?" aku kembali bertanya dengan nada yang lebih lembut dari sebelumnya.


"Kenapa di atas bahumu terdapat sebuah celana dalam?"


Eh?! Serius?!!! Apa aku sekarang jadi magnet celana dalam?!!!


Aku langsung melihat bagian bahu dan ternyata benar ada sebuah celana dalam berwarna merah muda dan lagi, itu adalah milik adikku. Wajahku menjadi pucat karena mungkin saja ajalku akan segera tiba. Di belakang kami, terdengar suara teriakkan seorang gadis yang sedang memanggil kakaknya dengan lembut.


"Kakak!!!" panggil Mei sambil tersenyum.

__ADS_1


"Ah, adikku!!!" balasku dan segera menghampiri Mei dengan senyum ceria.


Mei yang tersenyum ceria seperti biasa memegangi pundakku lalu berkata, "Kenapa Kakak membawa celana dalamku?"


Alamak Jang! Mati aku!


"I-ituu ... ya anu ... anu lho ...."


Sial! disaat begini aku malah tidak bisa berkata apa.


Mine mengepalkan tangan kanannya dan—


"MODAR SANA!!!"


"Ugghh!"


Mine menamparku hingga aku terlempar ke arah nona Rose.


Brukkk!!!


Nona Rose malah mengembalikanku dengan tendangan kerasnya.


"Aaa! Aku bukan bola kampr*et!" teriakku kepada mereka berdua.


Akan tetapi, mereka tak mendengar teriakkanku dan masih melanjutkan main passing 1-2-1 nya.


Ugh, sialan tapi hari menyenangkan ini ... aku harap tak akan pernah berakhir.

__ADS_1


__ADS_2