Pembunuh Bayaran Lanjut Sekolah

Pembunuh Bayaran Lanjut Sekolah
38


__ADS_3

(David Kall POV)


H-2CM terus berdatangan di depanku. Tentu saja itu bukanlah hal yang sulit karena durabilitas fisik mereka sama seperti manusia biasa. Mereka akan mati jika kehabisan darah maupun disakiti.


Aarrrgghhhh!!! Srakkkk!!! Braaaakkkk!!!


"Berisik!"


Aku terus menghantam mereka dengan berbagai teknik bela diri yang sudah dipelajari dari guruku selama ini. Bisa dibilang, saat ini aku sedang melakukan pembantaian ratusan makhluk aneh di muka bumi. Aku terusberlari dengan kencang agar mereka kesulitan untuk menyerangku hingga akhirnya, aku terhenti di depan sebuah makhluk raksasa setinggi 3 meter dan H-2CM-pun berlari putar arah menjauhinya.


...



...


"Hei, aku ini sedang terburu-buru. Bisa kau minggir?"


"Grrrrrhhhh .... "


"Apa kau mendengarku?!" teriakku kesal.


"Raaaaaarrrggghhhh!!!"


Si tubuh besar itu berlari ke arahku. Dari wajahnya yang cukup mengerikan, kuberi dia nama B*abi. **** ini cukup merepotkan karena meskipun bertubuh besar, ia masih tetap lincah sambil membawa pisau pemotong daging yang cukup besar.


"Ayolah .... "


Aku berlari mengelilingi lokasi sekitar kami, untungnya ada banyak pohon yang memisahkan jarak diantara kami berdua. B*abi masih meraung sambil mencoba untuk mengejarku namun secara keseluruhan, kecepatan melebihi milik B*abi yang sudah kelelahan main kejar-kejaran. Aku berhenti sejenak untuk mengatur napasku dan memprovokasi B*abi.


"Hei, B*abi! Apa kau kelelahan?"


"Arrrrgghhhh!!!"


B*abi meraung dengan sangat keras dan membuat atmosfer lingkungan di sekitar kami terasa semakin mencekam. Aura membunuh yang sangat besar mulai dirasakan oleh tubuhku. Dan inilah pertama kalinya aku kembali merasakan itu, ya ... aku merasa harus mengeluarkan sedikit kemampuan potensiku yang sebenarnya.


Aku mulai menyiapkan tekadku dan sedikit mengatur pernafasan. Darahku mulai mengalir lebih lancar dibandingkan sebelumnya karena saat ini, detak jantungku berdegup kencang secara dinamis. Seluruh tubuhku dapat merasakan adanya rangsangan yang begitu intens seakan kekuatan daru dunia lain mulai merasuki.


[Death Zone : Tahap I]

__ADS_1


Tahap pertama, aku akan mendapatkan setidaknya 10% kekuatanku yang sebenarnya. Tahap I ini layaknya seorang atlet memasuki mode zone. Dimana pikiran maupun tubuhmu akan fokus dalam satu tujuan dan kondisi mereka, akan terus-menerus bertambah kuat seiringnya berjalan waktu.


Tapi, ada satu bayaran yang cukup mahal. Staminaku akan cepat terkuras habis. Namun, bagi diriku yang tampan ini, hal tersebut bukanlah apa-apa karena sekarang aku memiliki durabilitas fisik yang cukup kuat layaknya 5 orang dewasa.


"Maju." Aku masih mencoba memprovokasi B*abi.


Meskipun dia gak paham juga sih aku ngomong apa.


Sambil meraung, B*abi berlari ke arahku dengan kecepatan yang lebih dari sebelumnya. Saat jarak kami sekitar 1,5 meter, dia hendak menebasku dengan tangan pisau yang berada pada kanannya. Aku segera berlari melewati samping kiri B*abi hingga sampai ke belakangnya.


Aku menyiapkan kuda-kuda terbaikku dan—


"Teknik pembunuh ... Tapak Suci Iblis!"


Menggunakan otot bagian bawah lengan kiriku, aku memberikan sebuah dorongan di titik saraf bagian punggung B*abi. Dia terdorong beberapa meter ke depan hingga terguling-guling di tanah. Meskipun mendapatkan serangan seperti itu, dia tetap berdiri dan kedua pisau itu ia lemparkan ke arahku.


Aku langsung berlari ke arah pisau itu dengan kecepatan penuh. Tanpa ragu, sekali aku menarik napas hingga mengecilkan tebal bagian rongga dadaku. Saat pisau itu mulai mendekat—


"Teknik Bela Diri Pembunuh : Tepisan Daun."


Meringankan tubuhku dan membalas kekuatan dengan kecepatan. Aku menepis dua pisau itu dengan kecepatanku dan membelokkan arahnya kembali menuju pada **** layaknya daun yang berputar karena tiupan angin. Diiringi dengan kecepatandiriku yang tampan ini, kecepatan dua pisau yang berbalik ke arah **** dipercepat.


Pertama, di kepalanya!


Aku mengarahkannya tepat pada bagian pelipis milik B*abi. Namun dia menerima pisau itu dengan kedua tangannya. Kini, kedua tangan b*abi terkunci karena tertusuk pisaunya sendiri.


Kedua, di lehernya!


Aku mengerahkan pisau yang tersisa diiringi kecepatan 120 km/jam pada leher **** dari samping. Menyadari hal itu, B*abi mencoba untuk menutup bagian samping lehernya dengan otot lengan. Meskipun ditutupi oleh gumpalan daging yang cukup tebal, bisa dibilang itu percuma saja.


"Haaaaaaaaaa!!!"


Slaashhh!!!


Darah merah kehitaman bercucuran di mana-mana. Sementara itu, atmosfer yang awalnya mencekam, akhirnya sudah kembali pada keadaan normal. Dan juga untuk B*abi, kepalanya hingga tangannya terpenggal dengan sangat rapi hingga tubuhnya tergeletak mati.


Serius, apa aku ini sedang syuting film bergenre akhir dunia? Jika benar, maka beruntunglah aku yang ganteng ini. Tapi sayangnya kenyataan berkata lain, semua ini adalah nyata dan berawal dari eksperimen gelap.


"Aah ... Gilbert, kau memang sangat mengerikan."

__ADS_1


Aku meneruskan perjalananku menuju ke bagian dalam hutan. Saat dalam perjalanan yang cukup panjang ini, semakin aku masuk, H-2CM hampir tidak ditemukan. Merasa lelah, aku berhenti sejenak lalu duduk di bawah pohon.


"Sekarang, mari berpikir sejenak .... "


Pertama, kenapa nona V bisa mengetahui informasi tentang Neraka ini?


"Hmm ... tidak mungkin sembarang orang bisa tahu tempat ini."


Ya, benar. Tidak mungkin nona V memiliki informasi ini tanpa terlibat dengan orang dalam. Jadi, hanya ada dua kemungkinan.


"Nona V adalah bagian itu sendiri atau ... " aku menarik sebuah pisau yang tersembunyi di bagian lengan bajuku lalu berdiri sambil berkata, "Ada orang lain yang terlibat dan secara sukarela memberikan informasi itu kepadaku. Bukan begitu, tuan Stalker?"


Wooosshhh!


Layaknya angin, seorang pria tua namun masih memiliki bentuk tubuh yang sangat atletis muncul entah darimana. Rambutnya yang berwarnakan hitam kecoklatan, warna lensa mata yang berbeda itu dan juga, senyum yang sangat menyebalkan. Pria dengan tinggi 223 cm ini, ya dialah orang yang aku cari selama ini, Gilbert.


"Apakah begitu tata krama yang kau pelajari selama bebas dariku?" tanya Gilbert dengan senyum Pepsodent mengerikannya.


"Siapa ya? Maaf ini bukan saatnya untuk promosi seperti acara televisi 'Take Me St*upid!', kau tahu?"


Aku melontarkan jawaban yang cukup keren menurutku. Acara televisi itu sangatlah menarik karena lewat itu, seorang Idiot berusaha untuk mencari pasangannya dengan berbuat konyol dan unik. Daripada disebut kegiatan ajang cari jodoh, aku lebih suka menyebutnya acara komedi.


Gilbert masih diam.


"Kenapa, kenapa kau melanjutkan eksperimen jah*nam ini?" tanyaku.


Gilbert masih diam tanpa menjawab pertanyaanku.


"Aku ingatkan sekali lagi, anak mu ... dia itu sudah mat—!!!"


Brukkkk!!!


Tanpa adanya aba-aba Gilbert melancarkan satu pukulan telak di wajahku yang tampan ini dan membuatku terdorong ke belakang beberapa meter hingga akhirnya, aku menabrak pohon dan berhenti.


"Acckhh!!!" mulutku memuntahkan darah.


"Tutup mulut busukmu itu, B*jingan Kecil."


Gilbert terlihat sangat marah. Senyum yang menyebalkan itu juga sudah hilang dari raut wajahnya. Kini aku benar-benar yakin bahwa Gilbert sangat marah.

__ADS_1


Sepertinya, aku sudah menyulut api dengan minyak.


__ADS_2