
"Satu .... "
"Dua .... "
"Tiga .... "
"Ketemu!"
Pelukan hangat itu datang dari belakangku.
Dia berbisik lembut di dekat telingaku, "Selamat ulang tahun."
Ini sangat kekanakan. Maksudku, tidak mungkin umurku yang sudah lebih dari sepuluh tahun merayakan ulang tahunnya. Aku melepaskan pelukan itu dan berbalik mengahapnya.
Dia masih tersenyum meskipun aku sudah berbuat kasar padanya. Dia segera mengambil sebuah kue dan bingkisan yang ada di sampingnya. Kedua lengannya, masing-masing terdapat kue di tangan kanannya dan sebaliknya, bingkisan terdapat di tangan kirinya.
"Untuk apa?" tanyaku datar.
"Untuk merayakan hari ulang tahunmu," jawabnya sambil tersenyum bahagia.
"Kenapa?"
Dia tak menjawab dan hanya mengeluarkan suara "Hm?" sambil memiringkan sedikit kepalanya.
Dasar aneh.
Hanya itu kata yang tepat untuknya. Ya, "Aneh" merupakan salah satu definisi dari sebuah tindakan yang sulit dimengerti, tak berdefinisi maupun berarti apa-apa dan hanya mengganggu orang di sekitar. Itulah dia, seorang anak pria yang merawatku, David.
Dia memiliki pandangan yang gelap. Bahkan kegelapan jurang tak akan pernah membuatnya tertelan. Dia adalah seorang anak lelaki yang tidak bisa diprediksi maupun dimengerti.
__ADS_1
tap tap tap
Dari belakangku, terdengar suara langkah kaki di sertai suara tak asing di telinga kami.
"Dav! Kamu seharusnya memberitahuku kalau mau bikin kejutan seperti ini!" bentaknya, protes.
"Eh!?"
Anak lelaki itu terkejut, ekspresinya menggambarkan bahwa dia telah salah orang. Dia segera menarik kue dan bingkisan yang tadi ia tunjukkan ke depanku lalu menyembunyikannya di belakang punggungnya. Dia memberikan sedikit kode melalui kedipan matanya.
Kode itu ....
Maaf aku salah orang! Untukmu juga ada, tapi untuk dia dulu ya! tehee!⭐~
Aku hanya mengangguk sambil senyum kepadanya. Tanpa merasa bersalah dia melewati sampingku dan menemui orang yang ada di belakang. Dengan ekspresi yang cukup ceria, David kembali memulai kejutannya.
"Hei, hei, hei!!! Mari lihat siapa tamu kita .... "
Mereka seharusnya meledak saja!
Entah kenapa pikran aneh itu tiba-tiba ada di dalam kepalaku. Faktanya isi kepala ini hanyalah berbagai macam kiloan bit data. Semua itu dikarenakan percontohan tak manusiawi yang terjadi di tempat ini, Panti asuhan Kall Field.
Panti asuhan Kall Field, merupakan salah satu peternakan rahasia milik suatu komunitas pembunuh. Setahuku, kami sedang berada di bawah kekuasaan sekte Diamond. Sekte ini dibilang sedang-sedang saja dalam hal keganasan pada dunia luar namun saat waktu berganti malam, menurut rumor yang beredar di sekitar lingkungan masyarakat malam, merekalah yang terkuat.
Pengembangan hewan ternak— anak-anak— seperti kami merupakan proses awal untuk menciptakan sebuah pasukan khusus pembunuh berantai yang kejam dan sangat sadis. Semua orang dibagi menjadi beberapa divisi lalu setiap anggotanya akan membentuk kelompok, dimana kelompok itu beranggotakan setidaknya tiga orang. Dan itulah kelompok kami, kelompok Elang Berlian yang terdiri dari : aku; David dan Mei.
Kami dikenal sebagai trio sadisme. Setiap pekerjaan, kami lakukan dengan cepat dan tepat. Tidak ada jejak, bagaimanapun caranya.
David memanggilku.
__ADS_1
"Mel."
"Hm?"
"Ini, untukmu." David menyerahkan sebuah bingkisan berukuran lebih besar dari sebelumnya.
Aku segera menerimanya dan berterima kasih.
"Makasih."
"Ya! Jangan lupa untuk rahasiakan yang tadi! Aku khilaf!"
Setelah mengatakan itu, David berbalik berjalan di sudut gelap ruangan hingga akhirnya ia hilang bak ditelan kegelapan.
Aku benci ini ....
Aku benci kasih sayang yang ia berikan kepadan kami ....
Harusnya, dia tidak perlu berbuat adil jika akhirnya harus memilih ....
Dia harus memilih, menyelamatkanku atau Mei ....
Jika suatu saat nanti dia kesulitan memilih, maka aku akan menuntunnya ke pilihan yang menurutku paling tepat.
Aku tahu ini egois, tapi kasih sayang tulusnya yang adil itu melebihi keegoisanku.
Aku bukanlah seorang gadis ataupun manusia, kasih sayang adalah hal yang mustahil untuk didapatkan.
Setidaknya, aku ingin berterimakasih kepadanya.
__ADS_1
Meski harus menjadi seorang iblis.
Bagiku, itu lebih dari cukup.