Pembunuh Bayaran Lanjut Sekolah

Pembunuh Bayaran Lanjut Sekolah
6


__ADS_3

“Buk Hilda. Saya pernah mengatakan kepada Anda untuk mengetuk pintu dulu sebelum masuk .... ”


Tubuh yang elegan. Rambut hitam yang panjangnya sedang. Meski memakai seragam yang sama dengan gadis-gadis di kelasku, dia tetap terlihat berbeda.


“Meski aku mengetuk, kamu tidak akan meresponsnya.”


“Itu karena Anda langsung masuk tanpa menunggu respons dari saya.”


Dia memberikan ekspresi protes untuk merespon kata-kata Buk Hilda.


“Dan siapa orang konyol yang ada di belakang Anda itu?”


Dia menatapku dengan tatapan yang dingin dan seakan-akan, aku ini adalah benda yang paling menjijikan di dunia ini.


Aku tahu gadis ini. Dia adalah Isabella Rosenberg, kelas 12A-IPA.


Sebenarnya, aku hanya tahu nama dan wajahnya, aku tidak pernah bicara dengannya. Mustahil aku bisa, karena pada dasarnya aku sendiri sangat jarang berbicara dengan orang-orang di sekolah.


Di SMA Swasta Brown, selain memiliki 6 kelas reguler per angkatan, disini ada sebuah kelas yang berisikan siswa-siswa berprestasi yang diharapkan mampu bersaing dengan kurikulum Internasional. Kelas tersebut punya standar nilai 2-3 kali lebih tinggi daripada kelas lain. Kebanyakan berisi siswa pindahan dari luar negeri ataupun siswa yang berkeinginan untuk kuliah di luar negeri.


Di kelas tersebut, ada satu siswa yang sangat terkenal, atau lebih tepatnya, menjadi perhatian semua orang, dia adalah Isabella Rosenberg. Entah di ujian biasa atau ujian semester, dia selalu konsisten berada di ranking satu dari seluruh siswa SMA Swasta Brown. Sederhananya, dia adalah gadis yang paling cantik dan sempurna di sekolah ini, semua orang tahu siapa dia.


Di lain pihak, aku adalah pria dibawah standar, siswa level terendah dari kasta yang paling bawah. Oleh karena itu, kalau dia tidak kenal diriku, akupun tidak akan tersinggung. Meski, aku agak sedikit tersinggung ketika dia mengatakan diriku konyol.

__ADS_1


“Ini David Kall. Dia akan bergabung dengan Ekskul ini.”


Karena tiba-tiba dikenalkan Buk Hilda, akupun mengangguk. Kalau begini, berarti aku harus memperkenalkan diriku.


“Aku David Kall, dari kelas 12B-IPS. Umm ... eh! Apa maksud Anda dengan bergabung?”


Bergabung? Menjadi anggota Ekskul ini?


Buk Hilda lalu berbicara seperti sudah menduga apa yang ingin kukatakan.


“Kau harus terlibat aktif di kegiatan ekskul ini sebagai hukuman. Aku tidak menerima protes, penolakan, pertanyaan, dan semacamnya. Coba kau renungkan sikapmu itu. Bercerminlah dahulu!”


Tanpa membiarkanku untuk protes, dia melanjutkan.


Jadi Anda ingin bilang dari melihat sekilas saja sudah tahu, tanpa perlu menjelaskannya secara rinci?!


Buk Hilda lalu menatap nona Rose dan berkata.


“Kalau dia bisa belajar caranya bersosialisasi yang benar, mungkin bisa kupertimbangkan lagi. Bisakah kuserahkan dia padamu? Requestku adalah agar kau menghilangkan sifatnya yang buruk dan tertutup itu.”


“Begitu ya, kupikir akan lebih bagus jika Anda bersikap keras kepadanya dan menanamkan rasa disiplin.”


Nona Rose meresponsnya dengan tegas.

__ADS_1


.... Gadis yang menakutkan.


“Aku akan dengan senang hati jika bisa melakukannya, tapi aku sendiri punya masalah yang harus kuselesaikan. Juga, disini tidak diperbolehkan adanya kekerasan fisik.”


.... Dia mengatakan itu seolah-olah kekerasan verbal diperbolehkan.


“Dengan berat hati saya menolaknya. Tatapan matanya seperti punya maksud terselubung yang membuat hidupku serasa dalam bahaya.”


Nona Rose seperti membetulkan kerah seragamnya, lalu dia menatapku sambil merasakan adanya bahaya yang mengancam keselamatannya.


Aku ini tidak sedang melirik dadamu yang super datar ... ah, benar tidak ya? Tidak, tidak, aku tidak meliriknya! Aku hanya mengatakannya sekilas dan tidak sengaja melirik dadanya.


“Jangan khawatir nona Rose. Karena mata dan hatinya sudah busuk, dia sangat adaptatif dan mengkalkulasi dengan baik resikonya. Dia tidak akan melakukan sesuatu yang membuatnya mendapat tuntutan hukum. Kau bisa mempercayai tampilan jahat yang menyedihkan darinya.”


“Itu bukanlah pujian, apa Anda tidak salah? Saya ini bukan mampu mengkalkulasi resiko, lebih tepatnya saya ini mampu membuat keputusan yang masuk akal.”


“Penjahat yang menyedihkan ya ... begitu .... ” Nona Rose memandangiku dari bawah ke atas seakan terlihat sedang mempertimbangkan sesuatu.


“Kau bahkan tidak mendengarkan penjelasanku dan langsung setuju dengannya .... ” Aku mencoba protes sebagai korban pelecehan verbal di sini, namun tak ada mendengarkan maupun peduli dengan ucapanku.


Apa Buk Hilda berhasil mempengaruhinya ataukah tampilanku yang seperti penjahat yang menyedihkan ini yang dia percayai? Entah apapun itu, nona Rose sekarang menganggapku seperti sesuatu yang aku sendiri tidak ingin dia lihat.


Buk Hilda, apa Anda sudah puas mengusik ketenangan kehidupan sekolahku?

__ADS_1


Kau memang yang terburuk!


__ADS_2