Pembunuh Bayaran Lanjut Sekolah

Pembunuh Bayaran Lanjut Sekolah
11


__ADS_3

Nona Rose menaruh tangannya di kening seperti sedang sakit kepala.


“Apa kamu idiot? Kecantikan adalah sesuatu yang tidak bisa kau katakan ke dirimu sendiri. Dengan kata lain, jika hanya ada dua orang di ruangan ini, maka pendapatku adalah pendapat yang benar.”


“Me-meski awalnya membingungkan, entah mengapa, kurasa kata-katamu tadi memang masuk akal .... ”


“Misalnya, kedua matamu itu seperti mata NightHawk, dan itu meninggalkan kesan yang buruk. Aku bukannya mau mengkritisi wajahmu, tapi ekspresi wajahmu itu ... sangat tidak menarik. Itu adalah bukti kalau kau punya kepribadian ganda.”


Ketika dia berbicara, wajah nona Rose memang sangat manis, tapi di dalamnya, terlihat berbeda. Tampilan matanya seperti melihat seorang kriminal. Dia dan diriku tampak kurang dalam hal ‘chemistry’ dan pada kata lain bisa saja digambarkan dengan pesona alami.


.... Tapi kalau dipikir-pikir, apa kedua mataku ini memang terlihat seperti mata NightHawk? Kalau aku ini seorang gadis, mungkin aku akan mengatakan ‘Apa? Apa aku ini terlihat mirip dengan putri duyung?’.


Ketika aku sedang dibingungkan oleh pikiran-pikiran itu, nona Rose memindahkan rambutnya ke belakang bahunya dan berkata seperti seorang pemenang lomba.


“Intinya, percaya diri karena punya nilai bagus di hal-hal palsu seperti nilai akademis dan penampilan bukanlah hal yang menarik. Tidak lupa kalau kau punya tatapan tajam yang busuk.”


“Sudah cukup dengan ledekan tentang tatapanku!”

__ADS_1


“Ya, kurasa jika lebih jauh dari ini, kurasa itu tidak akan mengubah sesuatu.”


“Mungkin kau bisa memulai itu dengan meminta maaf ke orang tuaku.”


Aku bisa merasakan wajahku sudah siap-siap untuk mengantisipasi respons kemenanganku terhadapnya. Tapi ekspresinya menjadi lebih kejam disertai kata-kata selanjutnya.


“Aku tampaknya sudah mengatakan hal-hal yang buruk. Aku merasa kasihan dengan orang tuamu.”


“Oke, hentikan itu, ini salahku. Tidak, ini salah wajahku.”


Aku mengatakan itu seperti hendak menangis putus asa saja. Akhirnya, nona Rose menghentikan kata-katanya. Aku akhirnya menyadari kalau memperpanjang percakapan ini adalah hal yang sia-sia.


“Ya sudahlah, setidaknya itu membuat simulasi percakapannya menjadi komplit. Kalau kau bisa mengobrol dengan gadis sepertiku, maka kau harusnya bisa mengobrol dengan siapapun.”


Dia meluruskan rambut panjangnya dengan tangan kanannya, nona Rose memberikan ekspresi seperti sudah menyelesaikan sesuatu. Lalu dia tersenyum.


“Sekarang, kau punya memori spektakuler yang ada di dalam hatimu dan itu akan menemanimu meskipun kamu sendirian.”

__ADS_1


“Bukankah solusi itu hanyalah solusi sepihak saja?”


“Kalau begitu, maka itu tidak akan memenuhi request Buk Hilda ... mungkin aku harus memakai pendekatan paling mendasar ... seperti, menyuruhmu berhenti ke sekolah?”


“Itu bukanlah solusi. Bukankah itu hanya menyembunyikan noda saja?”


“Ah, jadi kamu sadar kalau dirimu itu adalah noda di sekolah ini?”


“Jadi itukah alasannya mengapa orang-orang sering menatapku curiga dan menghindariku?”


Aku berusaha merespons permainan candaan kata ini, tapi tidak untuk memakan jebakannya.


“.... Benar, sangat mengganggu.”


Ketika aku berusaha tersenyum melihat candaan kami, nona Rose menatapku seperti berkata ‘kenapa makhluk sepertimu bisa ada?’. Seperti kataku, kedua matanya sangat menakutkan. Kesunyian melanda ruangan ini, dan aku sudah merasa cukup membiarkan telingaku terluka.


Sebenarnya, mungkin karena aku membiarkan nona Rose mengatakan apapun yang ingin dia katakan dan itu membuat telingaku sakit.

__ADS_1


Tapi, kesunyian itu berakhir ketika pintu tiba-tiba terbuka dengan keras.


Ah ... here we go again.


__ADS_2