Pembunuh Bayaran Lanjut Sekolah

Pembunuh Bayaran Lanjut Sekolah
18


__ADS_3

“Kenapa kau berpikir sangat naif seperti itu? Apa setiap hari adalah ulang tahunmu? Ataukah pacarmu itu Sinterklas?”


Kalau benar begitu, pikirannya akan selalu terperangkap dalam delusi kebahagiaan.


Jika dia terus seperti ini, dia tidak akan mengalami pengalaman yang menyakitkan. Dia sebaiknya merubah itu sebelum dia sampai di titik dimana dia tidak akan bisa kembali. Tampaknya beberapa hal muncul dalam pikiranku.


Aku putuskan untuk memilih dengan hati-hati kata-kata yang kuucapkan agar bisa menyampaikan pesanku dengan baik.


“Nona Rose. Kau ini abnormal. Kau jelas-jelas berhalusinasi. Coba kau periksakan dirimu atau sejenisnya.”


“Apakah itu caramu peduli kepadaku?”


Nona Rose tertawa kecil dan melihat ke arahku, tapi kedua matanya tidak sedang tertawa atau lebih tepatnya, mereka terlihat sangat menakutkan.


Tapi aku tidak mengatakan kalau dia ini sampah atau tidak berguna atau sejenis itu. Dia harusnya berterimakasih kepadaku karena itu. Jujur saja ya, jika wajahnya tidak cantik, aku yakin kalau aku akan membunuhnya.

__ADS_1


“Well, mempertimbangkan kalau dirimu ini selalu melihat rendah orang lain sehingga kau akan melihatku sebagai orang asing. Tapi, kurasa cukup wajar kalau aku berpikir seperti itu. Itu berdasarkan pengalamanku sendiri.”


Nona Rose tertawa sambil menarik bahunya dengan bangga. Entah mengapa pose tersebut terlihat keren ketika dilakukan oleh nona Rose, kurasa ini akan tetap menjadi misteri.


“Berdasarkan pengalaman, katamu .... ”


Dia paling berpikir kalau itu berasal dari pengalaman romantis. Kurasa wajar jika dia berpikir begitu kalau melihat penampilannya. Sayangnya, pada kenyataan yang pahit di belakang semua ini, itu berasal dari pengalamanku membunuh orang lain.


“Kau sedang membicarakan kehidupan sekolahmu yang sangat menyenangkan,” akupun menggumamkannya sambil mendesah.


Nona Rose meresponsku. Mengesampingkan itu, entah mengapa dia seperti memandang sesuatu yang jauh dan tatapannya diarahkan tidak ke arahku. Karena itu, aku akhirnya berpikir kalau lekukan tubuhnya dari dagu hingga lehernya sangatlah indah. Informasi barusan sungguh tidak berguna, aku serasa ingin mati saja.


Sambil melihatnya, aku menyadari sesuatu. Well, jika aku terus berpura-pura keren maka aku akan menyadari itu seketika, tapi gadis yang menganggap dirinya di atas semuanya ini sudah memijakkan kakinya dimana dia sendiri tidak akan bisa punya hubungan dengan orang normal. Oleh karena itu, mustahil dia bisa memiliki kehidupan sekolah yang normal.


Mungkin, aku harusnya bertanya saja kepadanya.

__ADS_1


“Hey, apa kau punya teman?”


Setelah aku mengatakannya, nona Rose menoleh kepadaku.


“.... Well pertama-tama tolong jelaskan definisi dari teman dari awal hingga akhir.”


“Ah, sudahlah. Kalimat semacam itu hanyalah kalimat yang diucapkan orang yang tidak punya teman.”


Sumber tertera: diriku yang merupakan pembunuh bayaran muda tertampan ini.


Well, mari kita bicara hal yang serius, aku tidak tahu apa definisi dari teman. Kuharap akan ada seseorang yang menjelaskan kepadaku apa yang membedakan ‘teman’ dengan ‘kenalan’. Apa seseorang yang kau lihat tiap hari akan kau sebut teman, dan apakah orang yang kau lihat tiap hari itu kau sebut saudara? Federica Atrica Medioca Rectica? Kenapa ‘ca’ terakhir tadi terdengar bukan seperti bagian kalimatnya? Itu benar-benar menggangguku.


Sebagai permulaan, ada sebuah garis yang jelas antara definisi seorang teman dan kenalan. Terutama jika menyangkut pertemanan diantara para gadis.


Bahkan orang-orang di kelas yang sama diklasifikasikan sebagai teman sekelas, teman, dan sahabat. Kalau begitu, ini tentang perbedaan istilah itu muncul dari mana. Tapi, tiba-tiba aku mengatakan itu secara spontan ....

__ADS_1


__ADS_2