
(Risha POV)
Seseorang akan putus asa apabila dilanda kemalangan namun dia tak pernah berhenti menyerah, dia akan terus maju tanpa mendengarkan ucapan mereka yang begitu memilukan. Dia akan terus maju dengan tegak, tanpa menundukkan kepalanya pergi ke tempat yang dia tak tahu akan bagaimana nantinya saat ia terjatuh lalu kembali bangkit. Rasa yang membakar seluruh tubuhku itu tak akan pernah aku lupakan sedikitpun dari mereka, orang-orang yang selalu menganggap bahwa kami hanyalah benalu yang merugikan dan tak pantas untuk hidup.
Selama di Neraka itu aku belajar cara untuk membenci dan balas dendam namun tak ada yang pernah mengajarkanku cara untuk hidup, mengajarkan aku bagaimana caranya untuk makan dan minum hingga akhirnya bisa menjalani hidup di dunia yang kejam ini. Sebuah hubungan yang bermakna meskipun tanpa ikatan darah, sebuah kebanggaan tersendiri bagi kami yang terselamatkan, tapi sebuah aib bagi mereka yang selalu memandang kami sebagai benalu. Jika bukan karena dia, mungkin aku sudah tak bernyawa lagi hingga matipun sebagai seorang pecundang dalam kehidupan ini.
Hidup, hiduplah, tetap hidup demi melanjutkan hidup karena perjalananmu bukanlah hal yang sia-sia.
Berkat itu, aku selalu diselamatkan olehnya. Aku berjuang untuk mendapatkan rasa hormat itu, meskipun selalu dianggap bencana itu bukanlah sebuah hinaan bagiku. Jika mereka benar-benar mengganggapku seperti itu, maka begitulah diriku dan aku akan tetap merasa bangga dimanapun kakiku berpijak.
Jika kau bertanya seberapa berharga hubungan di antara kami, maka jawabannya adalah hubungan kami tak memiliki harga. Hubungan kami tak akan bisa kau hitung berapa besar harganya, tapi hubungan ini bisa kau lihat betapa pentingnya. Bahkan jika itu satu negara menentang kami, aku akan melawan mereka semua demi dia, walaupun dunia itu sendiri juga menentangnya.
...
Setelah rapat yang melelahkan dan beberapa kejadian konyol tak terduga yang menimpaku, kami kembali ke rumah atau mungkin base camp bagi grup yang dipimpin oleh Kakek—David— dan segera pergi ke kamar masing-masing.
Aku segera merebahkan tubuhku ke atas kasur karena mereka sudah cukup kelelahan. Sebenarnya tidak ada hal yang melelahkan telah kami lakukan hari ini namun gara-gara Si Kembar Idiot yang menyerangku beberapa kali, tubuh dan mentalku menjadi cukup kelelahan. Selain itu, kejutan yang ternyata sedari awal Kakek sudah aku temukan membuat hatiku cukup bahagia.
Gak nyangka aja sih, tiba-tiba bertemu Kakek yang seumuran denganku kalau bisa ....
"Apa kami jadian aja ya?" imajinasiku mulai jadi liar namun aku segera menyingkirkannya karena ada misi yang lebih penting dan tidak boleh terlalu banyak merubah sejarah.
Tapi kalau saja ada kesempatan ... sekali saja, kali ini saja aku ingin ... perasaan ini ... dibalas dengan alasan selain perbedaan usia yang menonjol ataupun alasan lain yang tak masuk akal. Namun, dibalik sikapku yang begini, aku masih takut. Aku takut jika dia yang sekarang membenciku, apalagi sampai pergi menjauh.
__ADS_1
Meskipun sakit rasanya, aku akan memendam perasaan ini. Aku juga tidak boleh mengganggu kehidupan hingga jalan lingkungan sosial miliknya. Dan yang bisa aku lakukan hanyalah membantu hingga kejadian itu tak terjadi pada masa yang akan datang.
Aku sudah membulatkan tekadku. Sisanya hanya perlu menahan diri dan bersikap seperti biasa layaknya dia adalah seorang pria berumur sama denganku hingga aku bisa mencin—menyelamatkan masa depannya. Sesudah membulatkan tekad bajaku, aku menutup kedua mataku hingga tertidur untuk menyambut hari esok.
...
Keesokan harinya, aku terbangun karena sinar matahari yang menembus kelopak mataku hingga menghasilkan rasa panas pada bagian retina hingga membuatku harus menutup mereka menggunakan lengan. Aku duduk beberapa saat kemudian meregangkan bagian tubuhku yang terasa cukup kencang. Setelah merasa nyaman, aku beranjak dari kasur lalu pergi menuju ke kamar mandi.
Setibanya aku di kamar mandi yang sudah ada Melida di depannya, Brukkk!!!—suara jatuh itu mengundang perhatianku dan akupun segera berjalan ke depan pintu dan yang kami—aku dan Melida— lihat adalah ....
"Kalau mau berbuat hal m*sum tolong tutup pintunya," ucapku langsung berbarlik ke arah kamar dan segera berlari.
Hatiku benar-benar terasa dicabik-cabik hingga akarnya. Wajahku terasa memanas seakan deman di musim kemarau yang mencoba untuk membunuh siapapun penderitanya. Kedua kakiku kehilangan tenaga untuk berdiri dan aku hanya bisa bersandar di pintu kamar yang sudah aku kunci agar tak ada yang bisa masuk.
Setiap hembusan udara yang melalui tenggorokan menuju hidungku terasa sangat sulit untuk dialirkan. Aku tak tahu kenapa bagian tubuhku bisa merasakan ini, jika ini bukan penyakit lalu apa??? Tidak mungkin kalau aku merasakan cemburu karena dia adalah bagian dari keluargaku bukan seorang kekasih hingga aku harus jadi begini.
"Lagi mikir apa?" tanya Mel singkat.
"Eh, Si Pein Akatsuki yang nyasar ke dunia Dragon Ball ikut nyari tujuh bola naga tapi ketemu sama Lebah Ganteng lalu ganti haluan jadi tukang—bikin kaget aja!" aku jadi serba salah mau pasang ekspresi bagaimana di wajahku.
Ini anak munculnya darimana sih? Padahal aku yakin sudah mengunci pintunya. Jangan bilang kalau dia itu—Ninja? Hahaha ya pastilah tidak mungkin, atau hantu?—dan itu sangatlah tidak mungkin lagi. Aku tak tahu harus bicara apa karena pikiranku sudah kacau dibuat tingkah Mel, hingga akhirnya dia yang bicara duluan.
"Tadi itu mungkin hanyalah kecelakaan," ujar Mel mencoba untuk menenangkan diriku—atau tepatnya kami berdua.
__ADS_1
"Aku gak peduli, mereka juga bebas—!!!" sebelum aku selesai bicara, Mel menutup mulutku dengan lengannya.
"Kalau kamu gak peduli, kamu gak akan di sini bersamaku," potong Melida dengan ekspresi dingin namun itu memanglah kebenarannya.
Mungkin dia juga merasakan hal yang sama, aku gak akan menyalahkan siapapun atas apa yang sudah terjadi. Bila dia sudah memilih gadis itu, aku hanya perlu mendukung agar hubungan mereka berjalan lancar. Selebihnya bukan urusanku untuk ikut campur dalam urusan mereka berdua, asalkan selama itu membuat David bahagia, bagiku itu bukan masalah besar.
Hanya saja, jauh di dalam lubuk hatiku, aku merasakan sakit yang tak tertahankan. Padahal tidak ada siapapun yang memukul hingga menusuk bagian hatiku, tapi hatiku terasa begitu remuk. Untuk sekarang, sebaiknya aku menjaga jarak di antara kami berdua.
"Mel, aku sudah membuat keputusan," aku sudah membulatkan tekadku sebelumnya.
"Apa kamu yakin?" Mel terlihat meragukan tekad yang sudah aku asah sedari tadi untuk menjaga hubungan kami.
"Ya, cuma ini salah satu cara agar kita bisa fokus dalam tujuan masing-masing," balasku, lagipula aku datang kemari bertujuan menyelamatkan David bukan untuk menjadi kekasihnya.
"Kalau begitu jangan nyesal ya." Melida menarikku agar menjauh dari pintu yang ada di belakang kami lalu membukanya secara tiba-tiba.
Bruk!—Meida terjatuh dan memasang ekspresi seakan dia ketahuan bersalah lalu menjulurkan lidahnya sambil bilang 'tehee~' yang sok imut.
"Y-yeah ... sebenarnya aku cuma mau bilang kejadian tadi itu cuma kecelakaan, jadi itu tidak terhitung ya~" setelah mengatakan itu, dia berbalik dan segera meninggalkan kami.
Sial ....
Andai saja waktu bisa aku putar kembali ....
__ADS_1
Aku ingin menarik kalimat yang sudah aku ucapkan kepada Melida tadi.
Di lain sisi, Melida hanya tersenyum seperti peserta olimpiade yang tahu bahwa salah satu lawannya sudah tak dapat ikut berpartisipasi dalam kompetisi yang sama.