
(Sudut pandang orang kedua)
Di bawah langit malam yang dipenuhi oleh bintang, mereka berempat mengadu nasib. Apakah nasib mereka akan beruntung atau malah sebaliknya, diantara mereka hanya ada dua orang saja yang memiliki keyakinan kuat. Keyakinan kuat itu menuju ke arah mangaa mangsa yang berada di depan mereka.
Prokk! Prokk! Prokk! Prokk!
Seorang pria tua ubanan dan cukup bau tanah muncul sambil bertepuk tangan gembira. Saat ia tersenyum, gigi kapak emasnya terlihat sedikit menonjol. Bukan terlihat hebat, malahan dia terlihat seperti pelawak garing kebanyakan.
"Akhirnya, kau membawa yang aku minta nona Vei."
Mendengar itu, wajah David sedikit menunjukkan ekspresi aneh. Melihat ekspresi konyol David, Mei— yang sekarang dipanggil dengan nama samaran Vei— sedikit menendang tubuhnya. Memahami kode itu, David kembali pada keadaan awal.
"Aku sudah membawakan apa yang kamu mau, ambil saja sendiri dan perjanjian kita selesai."
"Hoouu ... houuu ... tidak semudah itu."
"Apa maksudmu?" tanya Mei kesal.
"Pertama bawa mereka dan kedua, bunuh mereka," Pak Tua itu tersenyum lebar.
"Ini bukan sesuai kesepakatan."
"Bunuh atau tidak sama sekali."
Pria itu mengeluarkan sebuah remot dengan satu tombol besar. Mei merasa tak yakin dengan apa yang ia lihat. Dia mencoba untuk memastikannya dengan sedikit beradu mulut dengan Pak Tua itu.
"Tuan, bukankah itu hanyalah sebuah remot biasa?"
"Memang, tapi ini adalah sesuatu yang luar binasa untukmu."
"Sepertinya Anda memang berbakat menjadi seorang pelawak."
"Tentu saja karena dulunya, aku mantan pelawak yang tak laku!" balas Pak Tua itu kesal.
Pfftt!!!
__ADS_1
Hampir saja keluar, Mei mencoba agar tidak tertawa. Ia yakin, jika itu hanyalah sebuah remot biasa karena Pak Tua dengan santai menunjukkan juru kuncinya kepada Mei. Mei masih menulusuri bagian tubuh Pak Tua itu, tapi dia tidak mendapatkan jawaban apapun.
Dor!
Sebuah peluru pistol menembus tubuh Pak Tua.
"Terlalu lama," ucap David langsung berdiri.
"Eh?" Mei langsung bingung atas apa yang terjadi di depannya.
"Bunuh saja ngapa, berdialog dengan Last Boss itu bukan gayaku."
"T-tapi .... "
Sebelum Mei dapat meneruskan ucapannya, Hilda Iko yang baru saja bangun menyela.
"Aku kira apa, ternyata cuma tua bangka yang tidak tahu kapan harus membuat lelucon."
"Tidak, tidak. Bukan gitu, tidak mungkin dia mati semudah itu!" protes Mei.
Sambil memegangi bahu Mei, David berkata, "Mei, kau terlalu—!!!"
Dor!
"Ternyata ada saja domba yang kurang ajar," ucap Pak Tua kembali bangkit.
David tertekuk lutut sambil menekan bagian perut yang tertembak agar pendarahannya tidak mengalir deras. Mei yang sudah tahu akan seperti ini, sudah menyiapkan mentalnya. Dia mendekat pada Hilda Iko dan berbisik, "Orangku sudah menunggu di luar. Sementara aku menjadi umpan, tolong bawa mereka berdua pergi."
"I-itu ...." Hilda yang mencoba menolak tiba-tiba berhenti.
Mei memegang pundaknya sambil menggeleng.
Sambil memantapkan tekadnya, Hilda mengangguk sambil berkata, "Aku mengerti."
Mei tersenyum bahagia dan tiba-tiba dia berlari lurus ke depan dan melemparkan bom asap ke arah Pak Tua.
__ADS_1
"Pergi!" teriak Mei.
Hilda mengangguk lalu menggendong David dan nona Rose di atas bahunya.
"Tidakkk!!!" David mencoba untuk melawan namun berkat luka yang ia terima, perlawanan itu jadi sia-sia.
Hilda segera berlari keluar membawa mereka.
Sementara itu, terdengar suara ledakan yang cukup besar di belakangnya namun Hilda tak berpaling dan masih berlari.
...
(Sudut pandang Meida V sebelum ledakan terjadi)
Vid, kamu gak perlu menyesali semua yang sudah terjadi.
Aku dan Mel, kami adalah kembar yang paling beruntung karena dilindungi olehmu dulu.
Kamu gak perlu memilih untuk menyelamatkan siapa karena kami berdua rela berkorban demi kedamaian hidupmu.
Dan sekarang ... ini adalah terakhir kalinya untuk menghapus semua masa lalu kelammu.
Terimakasih untuk semuanya.
Terimakasih sudah menyayangi kami layaknya keluarga meskipun kami sudah tak bisa dianggap sebagai manusia.
"Makasih, Vid."
Aku mengaktifkan sebuah bom besar yang sudah tersimpan di balik jubahku.
Duaarrr!!!
David, tolong jalani kehidupanmu tanpa mempedulikan apa yang telah berlalu.
Jalani masa yang sekarang tanpa terikat dengan masa lalu.
__ADS_1
Karena itulah yang kami inginkan selama kamu hidup.
Bila ada kehidupan kedua, aku harap kita bertiga bisa bersama kembali.