
Sudut pandang Hilda Iko seorang wanita yang kuat dan masih dalam proses mencari kekasih impiannya.
"Ughhh .... "
Seketika, pandanganku sedikit buram namun aku mengikuti skenario yang diinginkan gadis itu. Dia— Melida V— memaksaku untuk mengeluarkan sedikit karakteristik seorang Lone Fox yang seharusnya sudah aku pakai di saat kritis. Ini sih bukan masalah tapi bersikap pengecut di depan para muridku, itu bukanlah gayaku.
"Hey, Gadis Kecil. Kamu tahu akan apa yang menantimu?" bisikku kecil.
Gadis itu tersenyum dan mengangguk sedikit.
Senyum itu ....
Sangatlah tulus.
🔹🔹🔹
Saat sesudah pertemuan strategi penerobosan panti asuhan.
Aku melihat ekspresi gadis itu. Wajahnya tak menunjukkan sebuah ketulusan saat pertemuan tadi. Tapi, aku merasa aneh dengan apa yang dia pikirkan.
Bukan apa, sebenarnya ini bukanlah kaliber anak SMA biasa. lebih tepatnya, ini bukanlah kebanyakan gadis biasa lakukan. Tapi, ada yang aneh dengan semua itu.
Saat dia— Melida V— ingin keluar ruangan, aku menahannya dengan kakiku diletakkan pada pintu.
Brukkk!
__ADS_1
"Ada yang kurang?"
"Tidak, sebenarnya ada yang terlalu berlebihan untuk anak-anak seperti kalian."
"Apa Buk Hilda ingin bilang kalau kami semua abnormal?"
"Daripada abnormal, bisa dibilang kalian itu terlalu percaya diri."
"Percaya diri?" Melida V hanya memiringkan kepalanya sedikit sambil memasang ekspresi bingung.
Dia terlihat seperti gadis yang polos. Dari kepolosan itu terdapat sesuatu yang hanya bisa kami lihat di sini. Gadis Kecil itu, benar-benar tahu bagaimana cara menjadi seorang rubah licik.
Aku tidak akan tertipu karena sehebat-hebatnya tupai melompat, pasti akan tersandung kotoran ayam juga. Begitupun untuk gadis ini, sehebat apapun dia menyembunyikannya, aku yakin semua orang yang ada di ruangan ini tahu betul kalau dia bukanlah anak biasa. Terlebih lagi, semua ini adalah rencana yang dia buat.
Aku menghembuskan nafas berat lalu berkata, "Haaah ... kalian itu hanyalah anak-anak, tidak mungkin bisa melakukan itu."
"Jika hanya kami saja, itu tidak mungkin. Tapi, di sini kita punya Anda. Bukankah semua itu sudah cukup menjawab keraguan Anda?"
"Tidak, masih belum. Informasi itu, dimana kamu mendapatkannya?"
Shhhttt ....
Tiba-tiba saja nona V hilang dan sebuah mata belati aneh sudah ada di dekat leherku.
"Itu adalah rahasia dagang, Anda tidak perlu mengetahuinya," ucap nona V dingin.
__ADS_1
Aku diam dan menyesuaikan sedikit persepsiku ke arah belati itu. Menguatkan sedikit pijakanku, secara diam-diam posisi tempur terkuat milikku sudah sempurna. Sekarang tinggal—
Teknik Bela Diri Tapak Iblis Pembaharuan : Penghancur Belati
Crackkk!!!
Mata belati itu pecah dengan kecepatan angin. Karena mata belatinya pecah, nona V segera mundur beberapa langkah dariku. Saat aku berbalik menghadapnya, nona V masih senyum sambil memegang belatinya yang sudah rusak.
Aku hanya menatap dia tajam. Namun, ia tak merasa terintimidasi sedikitpun. Perlahan, nona V membuka mulutnya yang cukup kecil itu.
"Karena itulah, saya rasa sudah cukup untuk meyakinkan kami bahwa misi kali ini akan sukses besar."
"Jadi, kau mau memanfaatkanku?!" gertakku kesal.
"Bukan, bukan begitu. Lebih tepatnya, saya ingin minta tolong kepada Buk Hilda."
"Apa itu?"
"Jadi, begini .... "
Nona V menjelaskan tentang situasinya hingga saat penyerangan nanti. Ia berkata untuk mendapatkan informasi itu, ia harus bekerjasama dengan komunitas pemilik tempat itu dan tidak boleh melakukan sebuah kerusakan. Jika perjanjian itu dilanggar, maka nona V akan mati seketika itu juga da perjanjian itu akan batal jika pihak pertama mati.
"Jadi, kau ingin orang lain melakukan sesuatu untukmu?"
"Bisa dibilang begitu, bisa juga tidak."
__ADS_1
"Baiklah, aku mengerti."
Aku sadar meskipun dia berbohong, tetap saja aku tidak bisa apa-apa. Sudah menjadi tanggung jawabku sebagai seorang pembina ekskul untuk melindungi mereka. Jika memang dia berkhianat, maka aku akan membunuhnya saat itu juga layaknya seorang Lone Fox sungguhan.