
Ada yang bilang kalau semua orang akan hidup bahagia dengan satu pengorbanan, tapi aku gak pernah berpikir demikian. Jika kamu kuat, untuk apa harus ada pengorbanan, hal itu gak diperlukan saat kamu bisa menaklukkan segalanya. Namun ada satu hal absolut yang tak akan pernah bisa ditaklukkan, yaitu takdir manusia itu sendiri.
Manusia sendiri berjalan di sebuah jalan yang sudah memiliki cabang dan mereka hanya perlu memilih arahnya. Arah mana yang akan membawa mereka entah itu pada kebahagiaan maupun rasa pahit yang ada di dunia ini. Jika kamu bertanya apa aku ini percaya tentang ada atau tidaknya Tuhan, tentu saja aku percaya bahwa Dia ada dan akan selalu memperhatikan kehidupan manusia di Bumi.
Tentang kepercayaan atau sejenisnya, kau tidak akan tahu sebelum benar-benar melihat ke sisi terdalam pada orang itu sendiri. Tapi ada beberapa hal yang perlu digaris-bawahi tentang hal ini, semua orang akan merasa terusik dan menjadi agresif saat kepercayaan mereka dianggap sebagai angin belaka. Begitupula untuk David yang ada di sebelahku ini, dia memiliki keyakinan yang sangat dalam terhadap negara ini.
Saat ini kami berdua dalam perjalanan menuju ke toko kue dimana Si Kembar Idiot itu sudah menunggu. Dalam perjalanan ke sana, ekspresi David sudah mulai terlihat lebih santai dari sebelumnya. Hal ini membuat rasa penasaran menggelitikku hingga aku mengeluarkan sebuah pertanyaan kepadanya.
"Sekarang, kok kamu lebih santai Vid?" tanyaku pada David yang masih berjalan santai di sebelah dan hanya memperhatikan apa yang ada di depan kami.
"Karena uangnya sudah aku bagikan, jadi tak ada hal lain yang perlu dijaga lagi dan aku juga sudah lelah selalu bersikap waspada menjaga uang itu," jawab David santai sambil meregangkan otot tubuhnya yang agak kencang akibat bentrokan dengan Si Botak tadi.
"Cuma karena itu, kamu sampai harus waspada? Kenapa sih harus kasih ke mereka?" tanyaku kesal karena seharusnya dia lebih memperhatikan kondisi grup dibandingkan orang lain.
Saat itu, langkah David terhenti dan ia menatap mataku dengan sangat pasti. Dalam tatapan itu aku bisa merasakannya, sebuah jurang yang sangat dalam dan siap melahap siapapun yang berani memandanginya terlalu lama. Karena cukup aneh rasanya, aku mengalihkan wajahku darinya.
Melihat reaksiku, David tersenyum aneh. Entah kenapa wajahku juga memerah akibat tatapan itu. Dan yang lebih menyebalkannya lagi, dia terlihat bahagia dengan itu.
Ughhh ... mau mati aja rasanya karena dipermalukan sama dia ....
Batinku sudah meronta-ronta hingga aku mau lari saja. Aku segera berjalan kedepan agar tidak ada orang yang tahu tentang situasi kami, tapi David menangkap lenganku. Tanpa rads malu sedikitpun, dengan lembut dia menarik lenganku dan meminta aku agar mengikutinya.
__ADS_1
"Ikuti aku ke suatu tempat," ucap David sambil memegangi lenganku dengan lembut dan entah kenapa, tanpa sadar aku mengikutinya.
"K-kita mau kemana?" tanyaku pelan sambil malu karena ini baru pertama kali selain Kakek, tak ada pria manapun yang memperlakukanku selembut ini.
"Panti asuhan," balas David singkat namun dari suaranya, dia terlihat sangat berat untuk mengatakan hal itu kepadaku.
Panti asuhan? Apa dia mau menjualku untuk mendapatkan uang gitu???
Pikiranku mulai terasa kacau. Lebih tepatnya karena terlalu memikirkan tindakan apa yang akan dilakukan oleh pria tak bisa ditebak seperti dia. Selama aku memikirkan hal aneh dan mempersiapkan diri dengan kejadian tak terduga, David masih menuntunku ke sebuah tempat yang lokasinya tidak jauh dari toko kue itu.
...
Kami sampai di depan pagar panti asuhan namun disana tak ditemukan apapun. Bisa dibilang, itu adalah tempat yang sudah tak digunakan lagi. Bahkan, bangunannya juga sudah runtuh dan banyak sekali puing-puing bangunan berserakan di halaman depan.
"Aku mengajakmu kesini hanya untuk bilang bahwa tempat ini adalah dimana kami semua dibesarkan," balas David tersenyum nostalgia seakan mengingat masa kecilnya.
"Lalu?" Aku masih belum mengerti maksud dari tindakan David dan hanya menunggu dia sendiri yang menjelaskan maksud sebenarnya dari semua ini.
"Tempat ini jika dari luar terlihat seperti panti asuhan biasa— hup! ... " David melompati pagar yang tingginya 2 meter lalu mengambil sebuah daun layu yang berserakan di balik pagar lalu berkata, "Sebenarnya, ini adalah Neraka bagi kami yang dibesarkan sebagai anak yatim piatu di tempat ini."
Whooshh!— suara angin lewat yang sebenarnya cukup lemah mampu terdengar olehku karena keheningan yang ada di antara kami berdua. Entah kenapa aku merasakan hal yang sama dengan mereka, kami seperti memiliki perasaan dan keinginan yang sama. Keinginan untuk mengetahui dunia luar dan impian yang menginginkan agar suatu saat nanti dapat menjadi sesuatu yang bisa kami banggakan.
__ADS_1
"Jika dunia ini keras, maka kami bertiga memiliki impian untuk melunakkan kekerasan itu," lanjut David sambil memegangi bunga yang sudah layu itu dan tersenyum kepadaku.
Seorang anak yatim piatu, tak memiliki rumah maupun keluarga yang menerimanya, mengajarkan satu hal yang tak dapat aku lupakan selama hidup ini dan sekali lagi ... dia mengatakan hal yang sama kepadaku. Dunia ini memang kejam dan keras hingga kau harus berusaha agar tidak tereleminasi sehingga bisa bertahan dari semua cobaan yang ada, tapi disetiap kehidupan yang kau jalani pasti akan ada orang-orang yang mengajarkan kepadamu bahwa kita tak sendirian. Masih banyak dari mereka yang bertahan hidup lebih keras dari apa yang terlihat di depan mata kebanyakan orang dan dia—tidak, tapi mereka ... termasuk salah satunya.
Aku hanya bisa terdiam di tempat mendengar ucapan David. Dia menjawab seluruh pertanyaan yang pernah aku tanyakan sebelumnya dan jawaban itu sangatlah mudah hingga tak bisa disadari oleh kebanyakan orang—apalagi diriku sendiri. Ya, jawaban itu tentu saja adalah ....
"Mengubah tatanan dunia ini, benar kan?" tanyaku sambil tersenyum pilu dengan impian yang sedang ingin kugapai di masa ini.
"Itu terlalu besar," balas David sambil menggeleng lalu mendekat diri nya pada pagar yang memisahkan jarak di antara kami.
Di balik pagar 2 meter itu, David memegang lenganku yang masih tak bergerak. Dia mengangkatnya hingga di depan dadaku, lalu mendekatkan wajahnya di jeruji pagar. Dia tersenyum hangat lebih dari biasanya dan tatapan jurangnya menghilang seketika begitu juga dengan atmosfer di antara kami.
"Menumbuhkan rasa kasih sayang terhadap sesama manusia, itu lebih baik dibandingkan mengubah dunia yang selalu berubah di setiap waktunya."
Menumbuhkan rasa kasih sayang terhadap sesama manusia, itu lebih baik dibandingkan mengubah dunia yang selalu berubah di setiap waktunya ....
Mendengar itu, air mata mengalir dari kedua mataku. Perasaan ini, sama seperti yang aku rasakan saat bersama dengan seseorang yang menyelamatkanku dari Neraka tak berujung itu. Dia juga yang telah mengajarkan kepadaku untuk hidup bukan untuk membalas dendam, tapi mengajarkan yang lain untuk menjadi lebih kuat dan lembut kepada sesama manusia, dia ....
"Ka.kek .... "
Suaraku agak serak hingga sulit terdengar kalau aku sedang bicara apa, tapi aku yakin— eh?
__ADS_1
Wajah David tiba-tiba berekspresi kosong seakan terkena shock berat. Dia juga bergumam seperti 'Apa aku sudah jadi kakek-kakek hingga dia memanggilku begitu?' sambil memegangi kepala dengan kedua lengannya sendiri. Aku hanya bisa mengusap air mata itu dari wakahku lalu tertawa kecil karena seseorang yang aku cari sudah kutemukan sejak awal dan lagi, dia masih sama seperti dirinya waktu itu.
Kakek ... aku sangat bersyukur bisa bertemu kembali denganmu.