
Author Note : Bagian chapter 16 terdapat sedikit tambahan pada bagian akhirnya.
♦♦♦
Buk Hilda baru melepaskanku setelah kami mencapai gedung khusus kegiatan ekskul. Mungkin dia sudah berhenti khawatir kalau aku akan kabur. Meski begitu, dia terus menatap ke arahku ketika aku meninggalkannya.
Dia tidak menunjukkan adanya sentimen yang mengatakan sesuatu seperti ‘maaf ya aku akan meninggalkanmu’ atau ‘sebenarnya aku tidak ingin meninggalkanmu .... ’. Satu-satunya hal yang bisa kurasakan darinya adalah keinginannya untuk menghabisiku seperti mengatakan ‘Kau tahu apa yang terjadi jika kau kabur, bukan?’ dan sejenisnya.
Aku hanya bisa tersenyum kecut ketika berjalan menyusuri lorong ini.
Lorong gedung khusus ini sangat sunyi dan udaranya sangat hangat.
Harusnya ada ekskul lain yang sedang beraktivitas tapi aku tidak mendengar satupun suara yang mengindikasikan hal tersebut. Aku tidak tahu kalau gedung ini sunyi mungkin karena gadis itu. Terkena pengaruh aura aneh dari Isabella Rosenberg.
Akupun menaruh tanganku di pegangan pintu ruangan ekskul. Jujur saja, aku merasa sangat depresi saat ini, tapi jika kabur hanya akan membuat situasinya memburuk. Yang terpenting adalah tidak membiarkannya mengatakan sesuatu yang buruk tentangku. Aku harusnya tidak berimajinasi aneh-aneh tentang situasi kami berdua di ruangan itu. Aku harus berpikir kalau kami berdua terpisah di ruangan itu.
Kami berdua tidak memiliki hubungan apapun, aku harusnya tidak merasa aneh atau tidak nyaman.
Dan hari ini dimulai dengan: teknik pertama untuk menghindari rasa takut karena kesendirian— "Jika kau melihat orang yang tidak dikenal, anggap mereka sebagai orang asing."—, begitulah yang aku dengar. Sayangnya, tidak ada teknik kedua.
Pada dasarnya, suasana yang aneh itu adalah hasil dari berpikir ‘Jika aku tidak mengatakan sesuatu ... ’ dan ‘Jika aku tidak berusaha akrab dengannya ...’ mulai merasuki pikiranku.
Pola pikir seperti ini juga mirip dengan ketika kau duduk di sebelah seseorang di sebuah kelas umum, kau akan berpikir ‘Sial! Kita hanya berduaan disini! Ini sangat aneh sekali!’.
Kalau aku bisa menanamkan teknik tadi, aku sepertinya bisa menjalani ini. Akan lebih baik jika dia hanya diam saja dan membaca buku atau semacamnya.
__ADS_1
Setelah pintu ruangan klub kubuka, aku melihat nona Rose duduk disana dan membaca buku dengan posisi yang sama seperti kemarin.
“.....”
Memang langkah yang bagus ketika aku membuka pintunya tapi aku mulai berpikir apakah ide yang bagus jika aku mengatakan sesuatu. Ngomong-ngomong, aku akan mengangguk saja dan masuk ke dalam ruangan.
Nona Rose hanya melihatku sejenak dan kemudian kembali lagi ke buku bacaannya.
“Di ruangan seperti ini, kenapa dudukmu jauh sekali? Apa kau sedang mengucilkan dirimu?”
Dia tidak mempedulikanku dan aku merasa seperti menghilang begitu saja di udara.
Bukankah ini mirip seperti sikapku ketika di dalam kelas?
“.... Selamat sore.”
Akupun menyapanya dengan sapaan yang kupelajari di TK, tanpa bisa membalas sikapnya tadi. Nona Rose meresponsku dengan senyum. Mungkin ini pertamakalinya Isabella Rosenberg tersenyum kepadaku.
Ketika dia tersenyum, aku berusaha mengamati apakah dia punya lesung pipi atau ada giginya yang terlihat. Dengan kata lain, dia memang gadis yang manis. Sesuatu yang aku sendiri tidak peduli dengan hal itu.
“Selamat sore. Kupikir kau tidak akan pernah datang lagi.”
Senyumnya tadi jelas-jelas hanyalah tipuan. Ini selevel dengan ‘Tangan Tuhan’ milik Maradona.
“I-Ini bukan apa-apa bagiku! Jika aku tidak datang, maka aku akan otomatis kalah, jadi itulah satu-satunya alasanku! Ja-Jangan salah paham ya!”
__ADS_1
Percakapan barusan seperti sebuah percakapan drama genre komedi romantis . Tapi, kami ini bermain di peran yang berlawanan. Ini seperti aku adalah si gadis dan dia adalah si pria. Ini benar-benar buruk.
Sepertinya nona Rose tidak tertarik dengan jawabanku. Begitulah, dengan kata lain, dia melanjutkan pembicaraan seperti tidak peduli responsku seperti apa.
“Ketika orang sudah terhina hingga level tertentu, biasanya mereka tidak akan datang lagi. Apa kamu ini semacam masochist?”
“Bukan.”
“Kalau begitu, stalker?”
“Salah lagi. Hei, kenapa kau berpikir kalau aku ini suka kepadamu?”
“Kau tidak merasa begitu?”
Dasar jal*ng. Dia memiringkan kepalanya seperti penuh tanda tanya. Sebenarnya ini manis sekali, tapi aku tidak akan terjebak olehnya!
“Kau pikir aku akan menyukaimu? Bahkan jika kau tidak mengatakan hal tersebut sebelumnya?!”
“Ya, aku sangat yakin kalau kau menyukaiku.”
Nona Rose mengatakan itu tanpa rasa terkejut sedikitpun. Lebih tepatnya, dia bersikap seperti biasanya, datar dan dingin.
Kuakui, wajah nona Rose sangat manis. Saking manisnya hingga orang sepertiku, yang tidak punya teman dan tidak berinteraksi dengan siapapun di sekolah ini, tahu hal itu. Tidak ada yang bisa mendebatkan fakta kalau dia adalah salah satu gadis tercantik di sekolah ini.
Tapi, terlalu percaya diri merupakan sikap yang abnormal.
__ADS_1