
Dalam perjalanan menuju kediaman keluarga Rosenberg. Risha mengambil sebuah kartu undangan yang ada di tasnya lalu melihat kembali detil-detil pada selembar kertas itu. David yang sedang menyetir mobil di sebelah Risha, memperhatikan tindakannya lalu bertanya.
"Ada yang salah dengan undangan itu?" tanya David.
"Bukannya ada sesuatu yang salah sih ... hanya saja—" Risha berhenti mengatakan ini karena ia takut akan mengubah masa depan, dimana David akan bersama nona Rose yang ia ketahui itu adalah panggilan untuk neneknya.
"Hm?" David yang masih fokus menyetir, menyempatkan diri untuk bertanya.
"Fokus nyetir sana!" Risha memalingkan wajahnya menatap ke arah pemandangan yang ada di balik kaca jendela mobil.
David kembali fokus menyetir dan mengabaikan ucapan Risha. Jalanan kota Brown yang mereka lewati cukup lancar, tanpa ada kendala macet. Wajar saja tidak ada kendala macet karena kota Brown memiliki jalur lintasan yang bercabang dan masing-masing jalur memiliki kegunaannya tersendiri.
"Hoeekk!!!" Mei yang duduk di kursi belakang muntah karena tidak tahan naik mobil.
"Menjijikan," celetuk Melida yang memegangi kantung plastik muntahnya.
Melihat itu di kaca depan tengah, membuat Risha merasakan sedikit mual di perutnya. Hanya dengan melihat itu saja sudah mual, bagaimana dengan Melida yang ada di dekatnya, pastilah dia lebih merasa jijik pikirnya. Risha buru-buru mematikan pendingin pada mobil dan membuka jendela lalu diikuti yang lain.
Kota Brown memiliki udara yang begitu segar. Tidak hanya itu, pemandangan kota ini juga merupakan nomor dua di negara bagian Asia. Banyak sekali para investor berdatangan ke kota Brown untuk berinvestasi termasuk keluarga besar yang terlibat dalam dunia mafia, akan tetapi hanya ada beberapa yang dapat bertahan dan alasan mereka bisa selalu mendapatkan keuntungan yang konstan masih dipertanyakan banyak orang.
Risha yang sangat bosan dengan perjalanan panjang ini menyalakan radio untuk mencari hiburan dan sampailah pada sebuah channel Radio yang terhubung dengan negara sebelah, Indonesia.
"Dengan Shiba Int. dan para unit idolnya, di sini kita kedatangan seorang tamu idol kelas atas di negaranya bernama, Miya!" ucap Si Pembawa Acara.
__ADS_1
"Halo," sapa Miya seakan berpura-pura ramah untuk menyenangkan hati pendengar, setidaknya begitulah pikir Risha.
Bersamaan dengan sapaan itu, efek suara dari backsound membuat seolah Miya menerima sorakan dari para penggemarnya. Meskipun terdengar membosankan, Risha tak mengganti channel itu dan terus mendengarkannya. Sedangkan yang lain hanya mengikuti saja karena pada dasarnya mereka tidak tahu kalau benda yang ada di bagian dekat pengemudi mobil dapat digunakan seperti itu, biasanya mereka hanya tahu itu berfungsi sebagai penerima perintah suara agar saat-saat mereka diserang mobil itu bisa dikendalikan secara otomatis.
Kembali lagi ke siaran radio yang sedang mereka dengar.
"Hey, hey ... bagaimana kalau kamu berbuat untuk para pendengar siaran ini?" ajak pembawa acara dengan sangat bersemangat.
"Tentu, aku akan menyanyikan lagu yang pertamakali dibuat saat berada di sini," jawab Miya.
"Woaahhh!!! Pasti para pendengar akan sangat bahagia hingga ingin mati!" Lagi-lagi Si MC mengatakan sesuatu yang aneh membuat semua orang di mobil jadi terkekeh hingga sakit perut.
".... Tunggu apa lagi? Ayo mulai musiknya!!!" seru Si MC dan dimulailah instrumental musik yang ternyata sangat cocok dengan selera mereka.
"He—hey, ulangi lagunya!!!" teriak David seakan dia sudah ketagihan pada jenis narkotika baru.
"Itu benar! Ini namanya penyiksaan massal jika kau tidak mengulanginya!!!" lanjut Risha sambil menekan tombol apapun yang ada di depannya.
"Ulang! Ulang! Encoreee!!!" Tiba-tiba Mei dan Melida juga serempak meminta sebuah encore seakan sudah terbiasa hadir dalam konser idol.
Peep!—ketika Risha menekan sebuah tombol yang tidak diketahui, atap mobil tiba-tiba terbuka dan di bagian bawah kursi terdapat sebuah mesin jet dan melontarkan mereka dengan sangat cepat ke suatu kordinasi yang tidak mereka ketahui. Semua orang menikmati penerbangan itu kecuali Mei yang sudah hampir pingsan setengah mati, akan tetapi Melida membuatnya sadar kembali. Mesin jet yang di bawah kursi juga sudah hampir kehabisan bahan bakar dan mati, Risha mulai panik menatap ke arah David.
"B-bbbb-bagaimana ini?!" tanya Risha.
__ADS_1
"Diam saja, kalau jatuh paling mati." David menyilangkan kedua lengannya.
"Kau gila?!" bentak Risha seakan tak percaya David sudah menyerah.
Saat hampir menyentuh tanah, mesin jet yang dikira mati malah hidup kembali lalu memuluskan pendaratan mereka berempat. Mereka berdiri dengan tegak, terkecuali Mei yang kesulitan berdiri dan dibantu oleh Melida. Tak disangka, mereka sampai di sebuah hutan yang tidak jauh dari kediaman keluarga Rosenberg.
"Ini .... " Risha seakan tak asing karena aaat di atas, dia melihat kediaman keluarga Rosenberg sesuai dengan yang ada di foto.
"Ya, ini adalah hutan di dekat kediaman mereka," lanjut David memperhatikan lingkungan sekitar kami.
"Menurutmu, kenapa titik koordinasi jatuh di sini?" tanya Mei menatap David yang masih siaga.
"Hanya ada satu alasan ... " David memperbaiki postur tubuhnya lalu meminta semua orang mengikutinya lalu berkata, "Di sini adalah tempat yang aman bagi kita," sambung David datar.
Semua orang mengerti dengan apa yang David maksud, saat mereka keluar maka hanya akan ada medan tempur dimana hidupmu akan dalam bahaya. Kondisi di hutan cukup tenang dan mereka tahu apa yang harus dilakukan. Satu-satunya cara agar dapat keluar dengan tidak dicurigai adalah ....
"Gunakan ini," Mei memberikan sebuah lipstik kepad David.
"Ya." David menyambut lipstik itu dan mengangkatnya ke atas lalu ujung lipstik itu bersinar dan tak lama kemudian, sebuah helikopter dari arah kediaman Rosenberg muncul untuk menjemput mereka.
Hanya ada satu penjelasan untuk ini, helikopter itu adalah penyambut tamu VIP yang tersesat atau mungkin kecelakaan saat menuju kediaman keluarga Rosenberg. Semua ini mereka lakukan karena di luar lingkungan rumah, penjagaan mereka sangatlah ketat. Itulah kenapa, Harold membuat banyak persiapan dan tentu saja, ada kemungkinan dia memiliki maksud terselubung tentang misi kali ini.
Hanya butuh waktu 10 menit mereka sudah sampai di depan kediaman keluarga Rosenberg. Di depan tempat pemeriksaan undangan, mereka melakukan berbagai macam tes dan juga, sungguh diluar dugaan bahwa mobil yang menelantarkan mereka sudah sampai terlebih dahulu dan David menggunakan alasan itu agar mereka bisa segera mendapatkan izin masuk. Lantas para penjaga langsung percaya karena lipstik yang dibawa oleh David.
__ADS_1
"Inikah kekuatan dari sebuah lipstik?" gumam Risha mengikuti David di belakangnya.