
Di gedung belakang sekolah yang tidak jauh dari Kantin, aku mengikuti pria misterius itu. Sepertinya, dia sedikit lebih tinggi dariku, memiliki perawakan yang jelas terlatih dalam bidang olah raga dan lebih buruknya lagi, sepertinya aku kenal siapa dia. Setelah menuntunku ke tengah gedung, pria itu berbalik ke arahku dan secara misterius, sinar matahari yang ada di luar gedung menyinari wajahnya.
Uwwaa, menjijikan!
Aku tidak ingin terlibat dalam situasi yang ada di novel ber-genre BL (Boys Love) alias homoan.
Rambut modis yang tertata rapi, wajah tampan— meskipun aku jauh lebih tampan, sih— yang sangat menjengkelkan disertai ekspresi wajah seorang pria tampan nan terkenal itu. Dia melihatku dengan sangat teliti dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tanpa merasa takut, aku membalasnya dengan sebuah sindiran.
"Apa sekarang kita sedang bermain, 'Ayo Tebak Dari Ciri Makhluk Aneh Itu"?" tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun darinya, aku sudah mempersiapkan kuda-kuda terbaik.
Mendengar sindiranku, wajahnya tampak bingung dan ia tersenyum lalu memperkenalkan diri.
"A-ah, kurasa begitu? Perkenalkan namaku—"
Sebelum ia sempat menyebutkan nama, aku segera menyela.
"Jeff Herlambang, ada perlu apa ketua Ekskul Voli yang termasuk kalangan pria tampan berkasta tinggi ini denganku?"
Wajahnya masih mempertahankan senyum palsu itu, namun pemikiran orang seperti ini bisa ditebak. Meskipun tahu, aku akan diam dulu dan mendengar apa yang ia inginkan. Jika tidak sesuai dan membuatku marah, setidaknya aku ingin mengajar wajahnya yang menyebalkan itu sepuluh kali.
Jeff menajamkan tatapannya dan langsung ke topik pembicaraan yang aku inginkan.
"Apa kau salah satu anggota Ekskul Melakukan Apapun?"
"Ya, kenapa?"
"Bisakah kamu mengabulkan request dariku?"
"Maaf saja, tapi aku menolaknya. Terlebih lagi, siapa yang memberi tahukan hal ini kepadamu?"
Dahi Jeff mulai mengernyit sedikit namun senyum palsunya masih bertahan.
"Ongchun. Dia bilang, jika aku butuh bantuan, mungkin aku bisa menghubungimu. Kumohon, setidaknya dengarkan dulu permasalahanku, setelah itu kau boleh memutuskannya."
Jeff mengatakan itu dengan ekspresi yang sangat meminta belas kasihan dariku.
Brengs*k kau, Ongchun!
Mungkin ini karena aku telah meminta tolong kepadanya. Jujur saja, setelah ia pingsan, waktu itu aku sempat menyematkan sebuah tulisan pada kertas kecil. Di situ aku menyuruhnya untuk mencari seorang klien pria namun Si Botak itu malah mengarahkan petaka kepadaku.
Meskipun dia sudah memohon seperti itu, tetap saja aku menolaknya.
"Maaf saja, aku tetap akan menolaknya."
__ADS_1
".... B-breenggseeeekkk kauu!!!"
Tiba-tiba saja Jeff berlari ke arahku sambil mengambil sesuatu dari punggungnya. Dikarenakan kuda-kuda teknik pembunuhku sudah siap, aku hanya menunggu ia sampai ke jangkauan area seranganku. Namun, di luar perkiraan, Jeff melemparkan sebuah petasan yang menghasilkan asap besar.
"Rasakan ini!"
Boom!
Asap hitam laknat itu menghalangi penglihatanku. Meskipun tidak bisa melihat, dengan memfokuskan fungsi indra pada bagian pendengaran, aku mencari tahu keberadaan hingga apa yang akan dilakukan Jeff berikutnya. Dari belakangku, dia menyerang dengan sangat cepat.
"Ambil ini!!!" teriaknya.
Jeff menyodorkan pisaunya ke arahku— dari gerakan itu, aku yakin dia sangat ingin membunuhku— dengan kecepatan yang luar biasa.
"Serangan kejutan itu ... " Aku menangkap lengan Jeff lalu menampar wajahnya dengan sangat keras sambil berkata,"Tidak perlu teriak, DASAR BOCAH!!!"
BRUKK!!!
Jeff langsung terpental beberapa meter ke belakang. Darah mulai keluar dari hidung dan mulutnya namun ia masih bisa berdiri tegak— meskipun sempoyongan sih—. Dan untuk pertama kalinya, aku melihat senyuman yang sama dengan wajah orang itu.
"Wajah seorang psikopat gila namun dikenal baik oleh seluruh dunia."
Aku melihatnya dengan tatapan merasa jijik.
"Kau sangat mengerikan, sama seperti ayahmu."
Mendengar ucapan terakhirku, mata Jeff terbuka lebar.
Penjahat yang sangat menjijikan.
Entah kenapa, dia tiba-tiba bersujud di depanku. Semakin waktu berjalan, sudut sujudnya semakin menajam ke bawah. Tubuhnya gemetaran seakan memiliki banyak amarah yang tersimpan, dia mulai berbicara dengan nada yang cukup lemah.
".... Kumohon, tolong balaskan dendam ayahku."
Tanpa pikir panjang, aku segera meninggalkan ruangan itu dan ah! Aku sudah menjatuhkan kaleng minuman yang baru saja dibeli tadi hingga isinya kotor!
"Ugh! Sialan, aku harus beli lagi."
Dengan begitu, sebelum kembali ke ruangan itu, aku memutuskan untuk membelinya lagi dan menghabiskan saldoku untuk hari ini.
Sialan! Aku benar-benar telah bangkrut hari ini!
♦♦♦
__ADS_1
Halo, dengan Zippim disini.
Saat saya ingin menulis 20 bab namun kondisi yang tidak mendukung, membuat saya harus menunda crazy up. Sebagai gantinya, saya memberikan ilustrasi kepada kalian untuk beberapa karakter yang sudah tampil. Jika ada di sini yang termasuk artis/idol/model/pengisi suara favorit kalian, mohon maaf ya. (huhuhu)
Info penting : next update akan mengenalkan tentang sedikitnya privasi dari beberapa karakter yang sudah diilustrasikan. Lebih dikenal sebagai Side Chapter (SC) / Bab Sampingan (BS)
Sekian, dan silahkan cek di bawah.
♦♦♦♦
David Kall
...
Isabella Rosenberg
...
Melida V
..
Hilda Iko
....
Ongchun (Before botak)
...
Jeff Herlambang
__ADS_1