
“Serius, Buk Hilda bilang begitu?” kataku.
Meskipun aku sudah tahu, sih.
Padahal aku lebih ingin percaya kalau aktivitas ekskul ini adalah membaca buku sampai jam tutup sekolah.
“Sebenarnya, kegiatan ekskul ini agak berbeda dari yang disampaikan oleh Buk Hilda. Sederhananya, kegiatan ekskul ini adalah membantu pekerjaan seseorang. Apakah request-mu itu terpenuhi atau tidak, itu semua tergantung kepada dirimu sendiri.”
Penyangkalan dari nona Rose itu terdengar sangat dingin dan kejam sekali.
“Memangnya itu berbeda dari yang dikatakan Buk Hilda?” nona Rose menanyakan itu dengan ekspresi penuh tanda tanya.
Persis seperti yang ada di pikiranku saat ini.
“Apakah kau akan memberikan seorang pria yang lapar itu se-kotak nasi goreng, atau kau akan mengajari pria itu bagaimana caranya membuat nasi goreng yang ajib? Disitulah perbedaannya. Pada dasarnya, kata ‘melakukan apapun’ di ekskul ini bukan merujuk ke hasilnya, tapi cara kita menyelesaikan requestnya. Kurasa, kata-kata ‘untuk memotivasi keinginan klien’ itulah yang paling cocok.”
Pidatonya tadi terdengar seperti sebuah kata-kata yang ditulis di buku Pendidikan Budi Pekerti— atau mungkin yang sering kalian singkat menjadi BP—. Dimana setiap kepala sekolah dari SMA antah-berantah pasti akan memuji kata-kata tersebut – ‘Ekskul yang aktivitasnya membantu para siswa untuk menunjukkan jati diri mereka yang sebenarnya’. Aku cukup yakin kalau pemahamanku mengenai kegiatan ekskul ini cukup benar. Dan juga, Buk Hilda mengatakan sesuatu atau sejenis ‘bekerja di Ekskul Melakukan Apapun’, jadi ini pasti sebuah ekskul yang membantu pekerjaan Pengurus OSIS atau semacamnya.
__ADS_1
“Itu terdengar luar biasa!”
Nona V mengatakan itu dengan ekspresi yang mengatakan ‘kau benar-benar mencerahkanku sehingga aku mengerti!’. Aku malah khawatir kalau gadis ini suatu hari nanti mungkin akan terkena semacam kegiatan cuci otak oleh berbagai jenis sekte pemuja setan di masa depan.
Penjelasan nona Rose memang tidak memiliki dasar logika dan ilmu pengetahuan, tapi gadis dengan dada yang lumayan itu malah ... atau begitulah cara opini-opini pada kalangan masyarakat diterima, tapi aku percaya kalau dia bisa menjadi contoh yang bagus untuk kasus itu.
Dengan kata lain, dengan dada yang rata seperti tembok, inteligensi yang tajam dan kebijaksanaan yang tinggi menggambarkan nona Rose.
“Meski aku tidak bisa seratus persen menjamin aku bisa memenuhi keinginanmu, aku akan membantumu sebisaku.”
“Hei! Umm, sebenarnya ... aku datang kesini ingin meminta tolong kepada kalian,” nona V mengatakan itu dan menatap ke arahku.
Asal tahu saja, aku ini bukan 'Mimih Peri' yang akan mengabulkan seluruh harapan orang lain. Aku tahu rasanya ketika di kelas, orang-orang memperlakukanku seperti aku tidak ada disana meskipun menggunakan kata-kata gosip yang terdengar berbeda. Namun, saat ada pentingnya— seperti tugas kelompok maupun sesuatu yang harus dikerjakan bersama dengan banyak anggota grup—, para bedebah itu dengan ekspresi sangat enggan datang kepadaku.
“Tuan Kall.”
Nona Rose mengatakan itu dan menunjuk ke arah pintu keluar dengan gerakan dagunya, layaknya sebuah gestur yang mengatakan kepadaku untuk pergi dari sini. Dia harusnya bisa mengatakan itu dengan tutur kata yang manis tanpa menaruh ekspresi ‘kau ini mengganggu pemandangan saja, bisakah kau pergi? Aku sangat menghargai jika kau tidak kembali lagi kesini’.
__ADS_1
Maka, pada dasarnya dalam kitab paduan menjalani hidup seorang siswa SMA milikku, dengan senang hati akan kuturuti.
Jika gadis ini membutuhkan ruang untuk semacam pembicaraan antar gadis, kurasa tidak ada yang bisa kulakukan. Memang ada beberapa hal di dunia ini yang hanya bisa dibicarakan diantara para gadis saja. Misalnya ‘Pelajaran Olahraga’, ‘Pria dilarang masuk’, ‘Ruang kelas khusus wanita saja’. Yah, semacam itulah.
.... Tapi ruang kelas khusus wanita, kira-kira mereka di dalam sedang belajar apa? Itu terus terpikirkan olehku.
“.... Ah, sepertinya aku ingin membeli minuman kaleng jus apel.”
Harus kuakui kali ini sikapku ini terlihat sangat peduli, bisa membaca situasinya dan bertindak dengan benar. Kalau aku ini seorang gadis, aku pasti akan sudah jatuh cinta kepada diriku yang tampan seperti ini.
Ketika aku menaruh kedua tanganku di pintu dan hendak pergi, nona Rose memanggilku.
Mungkinkah dia jatuh cinta kepadaku?
“Aku titip minuman susu beruang - Bear Land.”
Kalau memikirkan gayanya yang meminta orang untuk melakukan sesuatu untuknya dengan ekspresi yang santai. Nona Rose— yang kampretos sekalos—, kau benar-benar luar biasa.
__ADS_1