
Aku yang dulunya adalah mantan anggota tentara bayaran, selalu berjalan di dalam bayangan gelap gulita.
Dan ini, sebuah penghinaan bagiku karena harus jalan-jalan santai layaknya anak normal bersama beberapa orang— teman-temannya— dan berbagi tawa bersama tanpa mengetahui kerasnya dunia luar.
Meskipun tidak senang, aku masih mengikuti mereka bertiga— atau harusnya aku bilang berdua?— dari belakang.
"Jadi, apa yang akan kita lakukan?" tanyaku datar.
"Ikuti saja, nanti kamu akan tahu," jawab pria itu datar.
"Hei, hei, kamu gak boleh seperti itu!" Mei menampar pundaknya lalu berbalik ke arahku dan berkata, "Kita akan melakukan panen kecil."
Dia tersenyum layaknya seekor hewan buas sedang mengincar mangsanya.
Bulu kudukku sedikit merinding dibuat senyuman itu, tapi aku masih menahannya dan mengalihkan pandanganku pada jalan yang ramai namun terlihat begitu damai.
Dibandingkan masa ini, di masa tempatku berasal selalu saja ramai akan peperangan.
Semua ini dikarenakan seseorang yang memiliki pengaruh tinggi mengklaim bahwa dia akan menjadi presiden dunia dan tentunya, semua orang menjadi kesal dan marah hingga mereka memutuskan untuk menyerangnya dalam satu titik.
Tak ku sangka, aku saat itu ikut dalam sebuah skuad khusus untuk membunuh orang itu namun pekerjaan kami gagal dan perang yang tiada akhirnya itu, di akhiri oleh Kakek.
Dasar Kakek b*odoh.
Kenapa dia mau mengorbankan nyawanya?
Padahal aku masih ingin bermain dan belajar bersama Kakek.
B*odoh ...
Dia sangat b*odoh hingga membuatku juga melakukan sesuatu yang konyol seperti ini.
Nyawa Kakek lebih berharga dari milyaran nyawa di dunia ini, aku harus segera mencari kakek di masa ini dan—
__ADS_1
"Ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Mei—bukan, dia adalah gadis yang mirip dengan Mei.
"Ti—tidak ada."
"Bohong, kamu menyembunyikan sesuatu kan?"
Uwa, apa dia ini sebuah alat pendeteksi kebohongan.
Pffhhttt!
Di sebelanya, Mei tertawa terbahak-bahak melihat kami.
"Ada yang lucu?" tanyaku.
"Gak ada, tapi kalian berdua terlihat akrab."
"Akrab? Aku dan otak otot ini?" tanya gadis di sebelah Mei datar.
"Hei, Nona ... " Aku menatapnya tajam lalu berkata, "Siapa yang kau maksud otak otot, huh?"
Gadis itu langsung menjawab tanpa jeda.
Ugh! Aku merasakan sensasi yang sama saat Kakek juga mengataiku seperti itu.
Ta—tapi! Aku gak boleh kalah!
Gadis kecil ... akan ku ajari kau bagaimana caranya bermain di dalam permainan lawan— !!!
Sebuah tinju langsung mengarah ke wajahku.
Swoosh!
Aku menghindarinya namun saat mengenai rambutku, tangan gadis itu beralih dari memukul jadi menjambak rambutku.
__ADS_1
Saat dia ingin menariknya—
"Berhenti."
Mendengar ucapan dari pria itu, gadis itu berhenti.
Cuih! Sebenarnya aku tidak ingin dikasihani namun apalah dayaku yang merupakan anak perantau yang merantau ke masa lalu untuk melakukan beberapa misi pribadi.
Aku masih menatap tajam gadis itu dan menanyakan namanya.
"Siapa namamu?"
"Melida, panggil saja Mel," jawabnya datar tanpa terintimidasi tatapanku sedikitpun.
Bagus ... aku menemukan calon mangsa yang potensial.
Setelah perselisihan kecil itu, kami masih lanjut berjalan yang entah kemana, aku juga gak tahu.
Mei memperlambat langkahnya agar berjalan sejajar denganku.
"Wah, wah, kamu gak takut sama dia?"
"Hmph! Kenapa juga harus takut?"
"Kebetulan dia itu kembaranku lho, meskipun beda ibu."
Mei malu-malu lalu menyusul kembali langkah mereka yang ada di depan.
Kembar, tapi bukan terlahir dari rahim yang sama?
Setelah itu, aku baru saja sadar.
Ternyata ... sejak awal, dunia ini memang sudah mau kiamat.
__ADS_1
Aku berhenti memikirkan hal itu dan terus berjalan mengikuti mereka dari belakang.