Pembunuh Bayaran Lanjut Sekolah

Pembunuh Bayaran Lanjut Sekolah
9


__ADS_3

"Ugh .... " Risha perlahan bangkit dari tidurnya dengan kepala yang masih terasa cukup pusing.


"Sudah bangun?" sapa David sambil memindahkan sebuah kotak yang berisi obat-obatan tradisional.


"Y–yah ... apa yang terjadi tadi malam?" tanya Risha, dia tidak mengingat satupun tentang apa yang terjadi kemarin karena mimpi yang dialaminya.


Setelah David selesai memindahkan kotak obat yang dia bawa, ia kembali duduk di dekat Risha.


"Singkatnya, tadi malam kau demam," jawab David singkat sambil memandangi Risha.


Ketika Risha ingat-ingat kembali, dia hanya tahu bahwa kemarin hatinya merasakan cemburu akibat kejadian itu. Setelah itu, dia tiba-tiba saja merasa tak enak badan dan langsung meninggalkan yang lainnya. Saat itulah Risha mengerti mengapa David bisa ada di kamarnya dan mimpi itu terasa begitu nyata.


Risha hanya menundukkan kepalanya tanpa menjawab ucapan David. Melihat kondisi yang tak biasa ini, David mengulurkan kulit lengan kiri ke dahi Risha untuk memeriksa suhu tubuhnya. Tidak terasa apa-apa, bahkan bisa dibilang suhu tubuh Risha sudah kembali normal seperti sedia kala namun masih ada yang aneh bagi David, seperti tingkahnya yang saat ini benar-benar membuat dia bingung.


"Mau makan?" tanya David mencoba untuk memecah hening.


"Gak, aku lagi kurang nafsu makan." Risha langsung menolak karena saat ini dia tidak harus berbuat apa hingga spontan, mulutnya bergerak sendiri menjawab ucapan David.

__ADS_1


"Bagaimana kalau minum?" David menyodorkan sebuah gelas berisikan air putih biasa ke depan Risha.


"Tentu." Risha mengambil gelas itu dan meminum isinya dengan beberapa tegukan sampai habis.


Sekali lagi keheningan mulai menyentuh sisi mereka. Tak ada lagi yang dapat digunakan untuk memecahkan keheningan itu, kecuali seseorang yang tidak peka akan keadaan saat ini datang lalu tiba-tiba memecahkan suasana. David berharap akan ada sesuatu yang menarik dapat ia bicarakan dengan Risha untuk memecah keheningan ini akan tetapi, dia sama sekali tidak menemukan satupun topik begitu juga dengan lawan bicaranya.


"Hey, boleh aku tanya sesuatu?" Risha akhirnya mau bicara kembali.


"Apa itu?" David langsung bersemangat kembali.


"Sifatmu yag sebenarnya itu seperti apa?" tanya Risha yang masih seolah tak percaya bahwa kakek tengilnya itu dulu memiliki sifat dingin.


"Kamu gak perlu menjawabnya, mungkin suatu saat nanti segala masalah yang kamu hadapi lah akan membentuk karakter sesungguhnya dari dirimu." Risha meninggalkan David begitu saja.


David yang masih duduk terdiam dan merenungkan kembali maksud dari masalah hingga pembentukan karakter yang dimaksud Risha.


...

__ADS_1


Di lantai dasar, terdapat Melida yang masih tertidur meringkuk kedinginan karena selimutnya terjatuh dari atas sofa. Melihat itu, buru-buru Risha membetulkan kembali letak selimutnya lalu di sisi lain, Mei datang menyapa Risha dengan pakaian yang cukup berantakan.


"Apa kamu sedang berperan sebagai Ibu yang baik?" Mei melambaikan tangan ke arah Risha sambil mengusap air matanya.


"Apa kau gila?" tanya Risha yang terganggu oleh ucapan Mei.


"Tidak, justru sebaliknya ... " Mei duduk menatap hangat Melida yang tertidur pulas lalu berkata, "Biasanya aku atau David yang memperbaiki letak selimutnya karena anak ini tak bisa tidur dengan tenang saat mengkhawatirkan sesuatu."


"Mengkhawatirkan sesuatu?"


"Ya, dia itu di luarnya saja yang dingin, sedangkan di dalam dia hanyalah seorang gadis kecil yang baik dan perhatian dengan semua orang, termasuk kau." Mei tersenyum ke arah Risha.


David turun dari atas dan menyapa Mei.


"Pagi." David menundukkan kepalanya sedikit.


"Pagi juga, Vivid!" Mei membalasnya dengan sangat bersemangat.

__ADS_1


Dari sisi lain akhirnya Risha mengerti bahwa sifatnya memang sudah ada, hanya saja David memiliki caranya sendiri dalam melakukan segala hal. Sesampainya di bawah, David terlihat tak peduli pada apapun namun sebenarnya dia sangat peduli akan rekan setimnya. Risha hanya berdiam diri menikmati pagi hari yang begitu hangat dalam suasana dingin ini.


__ADS_2