Pembunuh Bayaran Lanjut Sekolah

Pembunuh Bayaran Lanjut Sekolah
Prolog


__ADS_3

Ada yang bilang paradox waktu itu hanyalah sebuah mitos belaka.


Kau tahu? Kenyataannya, paradox waktu benar-benar ada.


Kau merasa ke masa depan, sebenarnya kau hanya berjalan ke belakang.


Putar balik yang seharusnya ingin memperbaiki masa lalu buruk, malah berubah menjadi sebuah bencana.


Butterfly Effect.


Kesalahan yang dulu pernah terjadi memang terhapus namun buruknya, masa depan yang akan datang berubah menjadi sebuah bencana besar.


Aku, Risha Kall, kembali lagi mengikuti metode peninggalan milik kakekku— David Kall— dan sampailah aku di sini, kota Brown.


Berbeda dari 50 tahun yang akan datang, kota Brown sangatlah ketinggalan zaman.


Manusia yang masih hidup pada masa ini terlihat cukup santai, padahal kami saat ini sedang menghadapi sebuah krisis.


Di masa kami, krisis yang terjadi bukanlah penyebab manusia, akan tetapi disebabkan oleh faktor alam.


Bukan meliputi bencana alam, tapi sebuah keganjalan dimana seorang anak berumur 4 tahun sudah bisa menjadi seorang pembunuh bayaran profesional.


Usia bukanlah sebuah kendala dalam kecerdasan pikiran.


Siapa yang cerdas, dialah pemimpinnya.


Aku menyebutnya, keadaan dunia kelewat jenius.


Konyol rasanya saat kau bersemangat pergi bekerja, ketika kau sampai di tempat kerjamu, kau malah melihat seorang anak berusia 5 tahun menjadi boss ditempatmu bekerja.


Ini gak adil bukan?!


Pada dasarnya, dunia ini memang sudah gak adil dari awal, luar maupun dalamnya.


Jika adil yang kau pikirkan adalah sama rata, berarti pikiramu terlalu dangkal.


Yang aku maksud adil adalah dua sisi yang saling melengkapi satu sama lain.


Ada yang baik, ada yang jahat.


Ada yang kaya, ada juga yang miskin.


Derajat, kasta maupun kedudukan ... semua itu ada hanya untuk mengontrol manusia yang lain.


Intinya, sebenarnya tidak ada yang adil di dunia ini dan kau harus mencarinya sendiri.


Dengan kekuatan? Bukan.


Dengan kecerdasan? Bukan.


Lalu dengan apa?


Hehehe ... jawabannya cukup mudah.


Dengan menghancurkan semuanya.


Aku, Risha Kall, akan menghancurkan masa ini agar di masa depan, kami tidak mengalami hal yang sama walaupun aku harus terkena Butterfly Effect.


♦️♦️♦️

__ADS_1


Swoosshh!


Angin sepoi-sepoi yang cukup kencang membuat rambut panjangku terurai.


"Hais, apa zaman inj gak punya mesin pengatur musim?!"


Aku segera mengikat rambutku dan segera berjalan ke depan apartemen yang ada di dekat pendaratanku.


Tok tok tok


"Permisi! Apa ada orang?"


Aku melirik kesana-kemari beberapa kali namun tak ditemukan sedikitpun tanda-tanda adanya orang.


Saat ingin berputar balik, tiba-tiba ada seorang lelaki berusia 17 tahun berdiri tepat di depanku.


"Eh, buset!"


Gedebuk!!!


Karena saking terkejutnya, aku jadi lompat ke arah pintu apartemen dan menabraknya.


Melihatku yang kesakitan, pria itu mengulurkan tangannya.


"Kamu gak papa?"


"I-iya, aku gak papa, makasih."


Setelah membantuku berdiri, pria itu membuka pintu dan mempersilahkan masuk.


"Silahkan, anggap saja rumah sendiri."


Tanpa peduli dengan sikapku yang tidak sopan, dia pergi ke dapur.


♦️♦️♦️


Di kamar mandi.


"Uwwahh ... kamar mandinya cukup bersih."


Sesaat bulu kudukku merinding.


"A-apa mungkin ... dia nyimpan majalah dewasa di sini?!!!"


Siluet hitam muncul di belakangku.


Sebuah tangan mengunci leherku.


Dari belakang, terdengar suara seorang gadis.


"Tolong jangan bilang ke dia ya."


Ucapnya yang begitu ramah, tapi benar-benar memiliki arti yang berbeda.


Aku hanya mengangguk.


Merasakan tidak ada perlawanan dariku, dia melepaskan tangannya.


Hohoho, enak saja main sergap dari belakang.

__ADS_1


"Makan nih!"


Aku memberikan sedikit tendangan berputar.


Gadis itu ...


"Hou, udah numpang, gak tau malu lagi."


Gadis itu berambut pirang, masih memakai handuk di tubuhnya.


Dia menangkap tendanganku dengan sangat mudah lalu mengunci kakiku menggunakan lengan kirinya.


A—apa ini?! Bukannya ingin sombong, tapi tendangan berputar milikku harusnya tak bisa ditangani dengan begitu mudahnya!


Gadis ini berbahaya.


"Ma—maaf, Nona. Saya khilaf karena terkejut."


"Ohoho ... gak masalah, yang penting kamu tahu diri."


Setelah itu, dia melepaskan kakiku.


Wajahnya masih tersenyum manis.


Menatapku seakan menandakan bahwa "Ada musuh" yang akan mengambil tempatmu dan akan mengeliminasimu secepatnya!


H-hey ... maksudku, aku ini cuma mau menghancurkan masa ini, gak ada yang lain!


Aku berdeham sekali lalu melanjutkan pembicaraan kami.


"Guhm! Sebenarnya, pemilik tempat ini berbaik hati ingin menampungku dan bilang aku boleh menganggapnya seperti rumah sendiri."


"Darimana asalmu? Apa yang kamu mau"


"Dari negeri yang jauh, aku cuma mau kehancuran," jawabku tak peduli ia percaya apa tidak.


"Menarik."


Wajah gadis itu semakin cerah saat ia mendengar sesuatu yang cukup menarik.


Dia mengarahkan lengannya kepadaku, seakan mengajak untuk bersalaman.


"Namaku, Meida V, panggil aja Mei. Kau?"


"Risha."


Aku segera menyambut salamnya dengan hangat.


Tak lama setelah itu, siluet seorang pria datang di depan pintu kamar mandi yang masih terbuka.


"Permisi, makanannya sudah siap."


"Ah! Maaf, aku datang di waktu— ghkkk!!!"


" "Dasar M*esummmm!!!" "


Aku dan Mei segera menamparnya diiringi dengan rasa malu.


Di apartemen itu hanya terdengar suara benda jatuh.

__ADS_1


Padahal yang sebenarnya terjadi, pria yang menerimaku untuk tinggal di tempatnya, hampir mati karena menerima pukulan keras dari dua orang gadis terkuat di tempat itu.


__ADS_2