Pembunuh Bayaran Lanjut Sekolah

Pembunuh Bayaran Lanjut Sekolah
12


__ADS_3

“Nona Rose dan tuan Kall, aku masuk.”


“Bukankah sudah saya beritahu untuk mengetuk pintu dahulu ....”


Nona Rose tampaknya sudah menyerah untuk memberitahunya.


“Maaf, maaf. Tidak usah pedulikan diriku, lanjutkan saja kegiatanmu. Aku sempat berpikir untuk mampir dan melihat bagaimana situasi kalian.”


Buk Hilda tersenyum ke nona Rose dan bersandar ke tembok ruangan ini. Dia lalu melihat ke arahku dan nona Rose.


“Sangat menyenangkan melihat kalian berdua bisa akur.”


Apa-apaan kesimpulannya itu?


“Tuan Kall, teruskan usahamu untuk menghilangkan temperamen sinismu itu dan sembuhkan tatapan busukmu itu. Aku akan pulang dulu. Jangan lupa kalian pulang sebelum jam tutup sekolah.”


“Tu-tunggu dulu!”


Aku lalu memegang tangan Buk Hilda untuk menghentikannya. Tapi, yang terjadi ....


“Ow! Owwwww! Aku menyerah! Aku menyerah!”


Dia langsung mengunci tanganku dengan sebuah kuncian lengan dalam beladiri tapak iblisnya. Setelah aku menepuk-nepuk tangannya agar melepaskanku, dia akhirnya melepaskanku.


“Oh, ternyata itu kau, tuan Kall. Jangan tiba-tiba berada di belakangku karena aku bisa tidak sengaja mengeluarkan jurus tapak iblisku kepadamu.”


“Anda ini sebenarnya siapa? Tae Lee dari Look*sm? Lagipula, bukankah anda yang sebenarnya main tiba-tiba? Anda yang melakukannya tiba-tiba!” [Author Note : Eun Tae Lee si gendut dari webtoon Lookism yang bisa seni beladiri 'Juijutsu', sedikit info seni beladiri ini hanya efektif apabila kita bisa mengunci lawan.]


“Apa kau mau minta lagi? .... Ngomong-ngomong, ada masalah apa?”


“Masalahnya ya Anda ini ... apa maksud Anda mengatakan 'menghilangkan' sifatku? Bukankah itu sama saja dengan membuatku terlihat seperti anak muda yang bermasalah? Jadi ini semua tentang apa?”


Buk Hilda lalu menggaruk-garuk dagunya seperti memikirkan sesuatu.


“Bukankah nona Rose sudah menjelaskannya kepadamu? Sebenarnya, tujuan ekskul ini adalah membantu orang menyelesaikan masalah mereka dengan membuat mereka sendiri berkembang dalam metode Sparta. Aku akan mengarahkan para siswa yang membutuhkan pengembangan diri mereka di kelas konseling ke ekskul ini. Kau bisa menganggap ekskul ini adalah tempat latihan, atau mungkin KORAMIL, atau mungkin seperti persiapan militer untuk menghambat pasukan komunis, kalau itu bisa membuatmu mengerti dengan cepat.”


“Itu bahkan membuatku sulit untuk mengerti, malahan itu tadi sudah menggambarkan seberapa tua Anda.”


“Bisa kau ulangi lagi?”


“...Oh tidak ada apa-apa.”


Aku mencoba kabur dari tatapan dinginnya.


“Nona Rose. Tampaknya kau sedikit kesulitan untuk ‘menyembuhhkannya’.”


“Itu karena dia tidak mau mengakui fakta kalau dirinya sendiri punya masalah.”


Nona Rose menjawab itu dengan dingin.


.... Perasaan ini ... aku tidak tahan untuk berdiri disini. Ini mirip ketika orang tuaku menemukan buku porno di laciku ketika aku kelas 4 SD dan sampai sekarang Ayah Dan Ibu masih saja memarahiku.


Tidak, kurasa tidak seburuk itu.


“Umm ... kalian dari tadi mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal seperti akan membenahiku-lah, membuatku berkembang-lah, reformasi-lah, revolusi mengobrol dengan gadis-lah, dan lain-lain. Tapi, aku sendiri tidak pernah memintanya .... ”


Buk Hilda memiringkan kepalanya sambil berkata, “Hmm?”


“.... Apa yang kau katakan? Kalau kau tidak berubah, kau akan berada pada level yang akan membuatmu hidup di lingkungan sosial sekitar menjadi semakin berat.”

__ADS_1


Nona Rose memandangku sambil memberikan argumen yang sejenis dengan ‘Perang itu tidak ada gunanya. Turunkan senjatamu!’.


“Kau tahu tidak, rasa kemanusiaanmu itu sangat berbeda dari yang lainnya. Apakah kau tidak ingin merubah itu?”


“Bukan itu intinya ... aku ini tidak ingin seorangpun menodongkan pistol kepadaku dan memintaku untuk berubah. Mendikteku untuk menjadi seperti apa. Sebenarnya, mengubah dirimu agar sesuai dengan dunia atau orang lain bukankah berarti kau sudah tidak menjadi dirimu sendiri? Apa itu yang kalian sebut dengan menjadi diri sendiri?”


“Dirimu sendiri adalah hal yang tidak bisa kau lihat oleh dirimu sendiri secara objektif.”


Kata-kataku yang mengagumkan tadi mengutip kata-kata Rene Descartes dan dipotong oleh nona Rose ... meski begitu, kata-kataku selanjutnya adalah kata-kata yang cukup bagus.


“Kau hanya melarikan diri dari masalah. Kalau kau tidak berubah, kau tidak akan bisa maju ke depan.”


Nona Rose mengatakan itu, memotongku dengan kata-kata kasarnya yang tanpa perasaan itu. Kenapa dia selalu berseberangan dan mengatakan hal-hal yang tajam kepadaku? Apakah orang tuanya kepiting atau semacam itu?


“Memangnya salah kalau lari? Jangan terus memberitahuku untuk berubah seperti aku ini hanyalah idiot yang tahu satu hal. Kalau kau seperti itu maka yang kau lakukan itu seperti berkata ke matahari, ‘Tenggelam di sisi barat itu sudah sangat mengganggu, jadi tolong mulai besok tenggelamlah di sisi timur’.”


“Itu keliru. Tolong jangan mengalihkan topiknya. Matahari itu tidak bergerak, tapi bumi yang bergerak. Apa kamu tidak tahu teori heliosentris?”


“Itulah yang mau kukatakan! Kalau itu keliru, maka yang kau katakan juga keliru. Dengan berubah, pada akhirnya aku akan berubah hanya agar bisa lari dari masalah. Jadi, siapa yang sebenarnya lari dari masalah? Jika aku tidak lari dari masalah, maka aku tidak akan berubah dan berdiri di tempat dimana aku berada kini. Kenapa kau tidak terima saja masa lalu dan diriku yang sekarang?”


Meskipun begitu, masa laluku juga cukup kelam dan aku tidak ingin kalian mengetahuinya.


“.... Kalau begitu, itu tidak akan menyelesaikan satupun masalah ataupun menyelamatkan seseorang.”


Ketika nona Rose mengatakan kata ‘menyelamatkan’, ekspresinya seperti diliputi amarah yang luar biasa. Aku bersedia meminta maaf karena mengatakan hal-hal tidak jelas sehingga membuatnya emosi dengan mengatakan ‘ma-maaf’ jika itu bisa mendinginkannya. Berbicara tentang penebusan dosa, ini bukanlah hal yang sepatutnya dikatakan siswa SMA. Aku hanya tidak mengerti mengapa dia bisa menjadi emosi seperti itu.


“Kalian berdua tenang dulu.”


Buk Hilda mengatakan itu dengan santai, dan menjadikan kata-katanya itu sendiri sebagai faktor yang membuat suasana ini tidak menyenangkan.


“Ternyata ini berkembang menjadi hal yang menarik. Aku sangat menyukai perkembangan yang semacam ini. Ini seperti cerita-cerita yang ada di Mangatoon. Dan ini adalah hal yang bagus, bukan begitu?”


“Dahulu kala, ada dua buah kekuatan besar yang memiliki prinsip keadilan berbeda. Karena kita ini meniru plot di manhwa, akhirnya keduanya terlibat di sebuah pertempuran akhir.”


“Tapi kami berdua tidak sedang berada dalam manhwa .... ”


Tampaknya tidak ada yang mempedulikan kata-kataku.


Buk Hilda tertawa, dia menatap kami dan mengatakan sebuah pernyataan perang yang tak pernah kuduga akan jadi seperti ini akhirnya.


“Begini saja. Mulai sekarang, aku akan mengirimkan domba-domba bermasalah ke ekskul ini dimana kalian akan menangani mereka. Kalian berdua akan membantu mereka sesuai dengan cara kalian. Dan ini merupakan momen yang bagus untuk membuktikan kalau keadilan moral milik siapa yang paling benar. Siapakah yang bisa membantu orang-orang ini?! Seperti Si 'Bijak' Kancil. Siap, Go!!!”


“Aku menolak.”


Nona Rose langsung menolak usulannya. Kedua matanya terlihat sangat dingin, persis seperti sebelumnya. Karena aku setuju dengannya, akupun mengangguk. Tidak lupa kalau entah apa namanya Kancil tadi, bukanlah sesuatu dari generasi kami.


Setelah melihat kami yang menolaknya, dia seperti hendak frustasi saja.


“Tsk. Mungkin Xobattle lebih mudah dipahami .... ” [Author Note: Xobattle itu ada di RPG Megabots. Dimana bisa bertarung dengan megabot lainnya.(Hanya mengarang saja)]


“Bukan itu masalahnya...”


Game seperti megabots itu sudah terlalu jadul ....


“Buk Hilda. Tolong berhentilah bersikap seperti anak kecil yang hiperaktif. Mungkin keren untuk seseorang yang seumuran dengan Anda, tapi itu berdampak sangat buruk bagi kami.”


Nona Rose seperti mengatakan kata-kata yang tajam setajam bongkahan es. Aku tidak tahu apakah Buk Hilda sudah ‘normal’ atau masih ‘berstatus aneh’, tapi wajah Buk Hilda terlihat memerah karena malu. Dia lalu pura-pura terbatuk dan menjelaskan ulang.


“Be-begini! Satu-satunya hal yang membuktikan perkataan mereka benar adalah tindakan mereka! Jika aku mengatakan kalian harus bertanding, maka kalian akan bertanding. Kalian berdua tidak punya hak untuk menolak.”

__ADS_1


“Itu terlalu tirani...”


Dia ini persis seperti anak kecil! Satu-satunya hal darinya yang dewasa adalah dadanya.


“Agar kalian bertarung dengan serius, aku akan memberikan sebuah motivasi. Bagaimana kalau yang menang bisa memerintahkan yang kalah apapun yang mereka inginkan?”


“Apapun itu?”


Kalau ‘apapun’, pastinya akan minta ‘itu’? Mustahil yang lain selain ‘itu’....


Tiba-tiba suara kursi yang digeser terdengar. Nona Rose seperti bergerak dua meter ke belakang, melindungi tubuhnya seperti mengambil posisi bertahan.


“Bertarung melawan pria ini membuat kesucianku dipertaruhkan. Aku menolak.”


“Prejudice! Tidak semua siswa kelas 2 SMA akan selalu memikirkan hal itu! Ada banyak hal seperti, uh ... sebentar kupikir dulu! .... Kedamaian dunia? Hal-hal semacam itu? Selain itu, kurasa aku tidak bisa memikirkan hal yang lain.”


“Jadi Isabella Rosenberg sendiri takut huh ... apa kau takut kalah?”


Buk Hilda mengatakan itu dengan wajah yang cukup licik. Nona Rose sepertinya tersinggung olehnya.


“.... Baiklah. Meskipun, sebenarnya aku cukup terganggu dengan provokasi murahan. Akan kuterima. “


Woah, nona Rose memang pecundang yang sangat buruk. Bagaimana bisa dia ini merupakan tipe gadis yang takut kalah?


Buk Hilda seperti tersenyum dan menggerutu, lalu dia memalingkan wajahnya dari tatapan nona Rose.


“Kalau begitu, sudah diputuskan!”


“Hei, Anda belum bertanya kepada saya apakah saya menerimanya .... ”


“Melihatmu tersenyum licik saja sudah menjelaskan mengapa aku tidak perlu bertanya kepadamu.”


Begitu ya ....


“Akulah yang akan memutuskan pemenang pertandingan ini. Tentunya, keputusan itu berdasarkan opiniku dan bias. Jangan terlalu dipikirkan dan bersikaplah seperti biasanya ... lakukan yang terbaik!”


Setelah mengatakan kata-kata itu, Buk Hilda meninggalkan ruangan. Meninggalkan nona Rose yang sedang menyilangkan lengannya dan diriku di belakang.


Tentunya, tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Ketika kesunyian melanda ruangan, suara dari radio pengumuman berbunyi. Itu adalah tanda kalau jam tutup sekolah sudah dekat. Menandakan akhir dari segala aktivitas sekolah di hari itu.


Dengan sinyal itu, nona Rose mengemas barang-barangnya seperti hendak pulang ke rumah. Setelah dia memasukkan semua bukunya ke tas, dia berdiri. Tanpa sedikitpun menoleh kepadaku, dia pergi begitu saja. Tanpa mengatakan ‘sampai jumpa besok’ atau ‘selamat tinggal’, dia berjalan begitu saja. Aku bahkan tidak sempat memanggilnya karena ekspresinya yang dingin itu.


Dan disinilah aku, satu-satunya orang di ruangan ini. Apa hari ini semacam hari sial atau semacamnya? Aku dipanggil ke ruang guru, lalu dipaksa bergabung dengan klub misterius, dan dibully secara verbal oleh seorang gadis yang hanya punya sisi manis—maksudku wajahnya yang manis. Dan akhirnya aku berakhir dengan menerima damage yang luar biasa.


Bukankah berbicara dengan seorang gadis harusnya membuat dirimu semakin antusias? Malahan hatiku seperti tenggelam semakin dalam.


Kalau tahu akan berakhir seperti ini, mungkin berbicara ke hewan setiap hari akan terasa lebih enak. Mereka tidak mengatakan sesuatu kepadamu dan selalu tersenyum. Kenapa aku tidak terlahir sebagai orang yang punya sifat hardcore masochist?


Dan yang terpenting, kenapa aku dipaksa ikut pertandingan yang tidak jelas? Dengan nona Rose sebagai musuhku, kupikir aku tidak akan menang. Aku membayangkan apakah sesuatu seperti pertandingan itu termasuk dalam kegiatan sebuah ekskul. Ketika aku membayangkan ‘aktivitas ekskul’, sesuatu seperti para siswa membentuk girl band seperti DVD yang kutonton tampaknya lebih menarik. [Author Note : Yang dimaksud oleh Author adalah anime Bang Dream Girls! / Bandori, menceritakan tentang band para gadis sekolah.]


Jika keadaannya terus begini, akankah kami berdua akan bisa bersama? Tampaknya tidak.


Dia mungkin akan memerintahku dengan gaya tata krama elit dan mengatakan ‘Napasmu bau, bisakah kau berhenti bernapas setidaknya selama 3 jam?’.


Seperti yang kuduga, kehidupan sekolah hanyalah masa dimana penuh dengan kebohongan.


Setelah kalah dalam turnamen basket di kelas tiga, mereka menangis untuk membuat suasananya menjadi indah. Setelah gagal dalam ujian masuk universitas, mereka mengatakan kegagalan itu hanyalah jadi pengalaman hidup saja. Setelah ditolak orang yang ditembaknya, mereka menghilang. Mereka menipu dirinya sendiri dengan sikap arogannya, mereka berpikir kalau yang mereka lakukan itu demi kebahagiaan orang tersebut.


Dan terjadilah kejadian tadi. Tampaknya, kehidupan komedi romantis masa muda antara diriku dengan gadis penyendiri dan menyebalkan yang memiliki sifat pemalu tidak akan pernah terjadi. Seperti yang kuduga; kehidupan sekolah itu penuh kepura-puraan, pengalihan isu, dan konspirasi.

__ADS_1


__ADS_2