Pembunuh Bayaran Lanjut Sekolah

Pembunuh Bayaran Lanjut Sekolah
Melida V : Bayangan Cermin


__ADS_3

(Melida V POV)


Malam itu, tepat jam 00.00 aku melihatnya. Seorang pria yang keluar dari kamar Kakak dan insiden terbakarnya rumah kami. Berkat itu, seluruh anggota keluarga V menjadi jatuh bangkrut. Apa yang sudah mereka usahakan selama ini, akhirnya ... aku bisa menghancurkan semuanya.


Mulutku tiba-tiba tersenyum dengan sudut yang cukup tajam.


"Apa kamu melihatnya, Kakak?"


Aku berjalan keluar sambil berpura-pura sedih.


"Tenanglah, Nak. Semua anggota keluargamu pasti akan tenang di alam sana," ucap seorang bibi yang mencoba untuk menenangkanku.


"Te-terima kasih."


"Dimana sekarang kamu akan tinggal?" tanya bibi itu.


"Aku masih memiliki keluarga yang tersisa, jadi aku akan pergi sekarang," jawabku seraya berpura-pura bangkit dari kesedihan.


Namun, bibi itu tidak membiarkan aku pergi begitu saja. Dia memanggilku, lalu menahan lenganku.


"T-tunggu, Nak."


Aku hanya menatap kosong ke arahnya.


"Hari sudah larut ma—ackkhh!"


Sebelum bibi itu menyelesaikan kalimatnya, aku menusuk bagian perutnya dengan pisau kecil lalu menendang tubuhnya ke semak-semak.


"Huh, merepotkan saja."


Aku berjalan menuju ke tempat tinggalku yang baru. Tentu saja bukan rumah keluarga kami. Tapi, itu adalah rumahku sendiri.


Kriinggg Kriinggg Kriinggg!!! Bunyi panggilan

__ADS_1


Ponselku berdering, tanda ada panggilan masuk. Panggilan itu berasal dari nomor yang tidak dikenal, bahkan nomor ponselnya saja sudah tidak dicantumkan. Tanpa pikir panjang, aku segera menjawab panggilannya.


Suara seorang pria memulai percakapan terdengar dari ponselku.


"Aku akan membunuhmu."


Beep beep beep ....


Setelah mengatakan itu, dia langsung menutup panggilannya.


"H-hei, apa dia sedang ngeprank?"


Serius ini enggak lucu, tahu!


Suasana di dekatku mulai terasa mencekam. Angin malam yang mulai terasa lebih dingin dari sebelumnya, menusuk tulang-tulang yang ada di dalam tubuhku. Meskipun jalan ini tenang, aku masih bisa merasakan ada suatu keramaian.


Keramaian ini, bukanlah tanda dari hadirnya banyak orang. Ini adalah aura seorang pembunuh yang mengincar targetnya. Siapa? Si-siapa itu ....


Gressk!


Angin malam yang terus berhembus meningkatkan kewaspadaanku. Indra pendengaranku terus terganggu oleh suara gemuruh angin yang kacau. Bulu kudukku terus berdiri dan mengeras.


A-apa ini?


Si-siapa dia?


Dor!


Beberapa meter dari belakangku terdapat peluru yang seolah-olah ingin mengarah padaku, tapi melesat.


Dorrr!


Sekali lagi, namun jaraknya hanya 50 cm dari tempatku berdiri.

__ADS_1


Merasa nyawaku terancam, aku segera lari ke tempat yang sangat ramai.


Hooosshhh! Hoossshhh!


Nafasku sangat tak teratur. Meskipun begitu, aku harus lari darinya. Demi. Masa depanku! Aku akan terus lari dan kabur.


Aku terus berlari ke arah suatu jalan yang cukup ramai pengunjungnya dan—


Brukkk!!!


Dari samping, seorang pria bertopeng wajah singa berwarna merah melompat ke arahku dan mengunci pergerakan tubuhku. Aku mencoba untuk bergerak namun ia tak membiarkanku begitu saja. Aku memberanikan diri bertanya.


"Mau apa kau?"


"Dia, singa yang kehilangan akan memburu mangsanya."


"Dia? Singa? Apa maksudnya?"


"DK, orang yang sedang kamu mainkan. Tak lama lagi hidupmu akan terus dalam bahaya."


"DK? Yang kamu maksud adalah pria itu?"


Pria itu hanya mengangguk.


"Lalu, kenapa kamu memberikan informasi ini kepadaku?" tanyaku kesal.


"Dia itu adalah mangsaku, tapi aku tidak punya alasan untuk membunuhnya. Jadi, aku akan menjagamu dari jauh."


Orang-orang seperti ini biasanya ....


"Berapa yang kamu minta?"


Pria itu menggeleng lalu melepaskanku.

__ADS_1


Bagaikan debu yang ditiup angin, pria itu hilang di kegelapan malam.


__ADS_2