Pembunuh Bayaran Lanjut Sekolah

Pembunuh Bayaran Lanjut Sekolah
8


__ADS_3

Jika kupikir-pikir lagi ....


Nona Rose terlihat seperti gadis dari kalangan elit kalau melihat bagaimana dia memperlakukan siswa lain apapun yang terjadi, dia selalu terlihat sebagai gadis yang sangat cantik. Tidak seperti orang elit yang normal, Isabella Rosenberg memutuskan ikatannya dari lingkaran sosial di sekitarnya. Seperti sikapnya yang bagaikan salju, tidak peduli seberapa cantik dirinya, dia tetap tidak tersentuh dan tidak bisa didapatkan oleh siapapun. Yang bisa orang lakukan hanyalah mengagumi kecantikannya.


Sejujurnya, aku tidak pernah menduga kalau kejadian aneh ini, berakhir dengan menjadi kenalannya. Aku sangat yakin kalau kuceritakan ini ke teman-temanku, mereka akan cemburu. Meski, aku tidak punya teman yang sesuai untuk kuceritakan.


Jadi, apa yang akan kulakukan dengan Nona Cantik ini disini?


“Apa ada sesuatu?”


Mungkin karena aku menatapnya cukup lama, tapi nona Rose menutup bukunya karena tidak nyaman dan langsung menatapku.


“Ah, maaf. Aku sedang berpikir apa yang harus kulakukan.”


“Tentang apa?”


“Begini maksudku. Aku ini diajak kesini tanpa diberi penjelasan apapun.”


Dia menatapku seperti melihat seekor serangga, dia lalu mengembuskan nafas seperti orang yang menyerah dan mengatakan beberapa kata.


“.... Kurasa kau ada benarnya. Kalau begitu, mari kita jadikan itu game.”

__ADS_1


“Game?”


“Ya. Game yang membuatmu harus menebak semacam apa ekskul ini. Jadi, menurutmu ... ekskul apa ini?”


Aku memainkan sebuah game dengan gadis yang sangat cantik di ruangan tertutup ....


Yang terbayangkan olehku hanyalah elemen-elemen erotis, tapi aura yang dia berikan bukanlah aura yang lembut, tapi sejenis pisau yang sangat amat tajam. Sangat tajam sehingga nyawaku bisa hilang jika salah. Oi, kemana suasana kehidupan sekolahku yang damai, kok hilang?


Merasa terdesak, keringat dingin mulai membanjiri tubuhku. Aku lalu melihat ke sekitarku untuk mencari petunjuk.


“Apa ada anggota ekskul yang lain?”


“Tidak ada, hanya kita.”


Tunggu. Sebenarnya, dari tadi memang banyak sekali petunjuk. Bukannya sombong, aku ini memang bagus dalam game solo, semakin sedikit teman main maka semakin bagus.


Aku sangat percaya diri dalam permainan dan teka-teki. Aku malah merasa bisa menang kalau ada kuis di SMA. Kalau aku menggabungkan banyak sekali petunjuk, maka jawabannya jelas.


“Ini sebuah ekskul literatur (membaca)?”


“Benarkah ... ? Apa alasanmu ?”

__ADS_1


Nona Rose mempertanyakan itu dengan wajah yang sangat antusias.


“Setting ruangannya. Tidak adanya peralatan khusus dan anggota ekskul yang sedikit tapi klub tetap diperbolehkan ada. Dengan kata lain, ini adalah klub yang tidak memerlukan dana dari sekolah. Tambahan lagi, kau membaca buku. Jadi jawabanku tadi itu sudah tepat.”


Alasan yang mengagumkan, aku mengatakan itu ke diriku sendiri. Bahkan bocah SD berkacamata akan mengatakan “wah, benarkah?” dan memberiku petunjuk, kuselesaikan kasusnya seperti semudah menjentikkan jariku.


Tampaknya Nona Rose terlihat kagum dan mengatakan ‘begitu ya .... ’.


“Salah.” Nona Rose tertawa ketika mengatakannya.


.... Sekarang, ini benar-benar membuatku gugup.


“Jadi, ekskul semacam apa ini?”


Meski aku mengatakan itu, nona Rose memberikan tanda kalau game ini masih berlanjut.


“Baiklah, kuberi petunjuk penting. Aku disini, melakukan ini(membaca), ini termasuk aktivitas ekskul.”


Akhirnya dia memberiku petunjuk. Tapi ini tidak ada hubungannya dengan jawaban. Bahkan, ini berakhir dengan kesimpulan yang sama dengan sebelumnya – Ekskul Literatur (membaca).


Tunggu, tunggu dulu. Tenang dulu. Santai. Santailah, David Kall!

__ADS_1


Apalagi jika bukan itu?!


Sekali lagi, aku yang merupakan pembunuh bayaran pro dipaksa untuk memeras otakku ke titik yang cukup tinggi.


__ADS_2