
“Karena aku membayangkan dirimu yang tidak punya satupun teman, kurasa itu tidak apa-apa.”
“Aku tidak pernah mengatakan kalau diriku tidak punya satupun teman. Meski, jika benar aku tidak punya satupun teman aku tidak akan berpikir kalau aku merasa rugi akan hal itu.”
“Ah benar. Kau benar. Kau benar.”
Aku mengatakan itu dengan cepat, menghindari kata-katanya ketika dia menatapku dengan sinis.
“Begitulah, kau ini terlihat seperti mudah sekali disukai oleh siapapun, kenapa kau tidak punya teman?” tanyaku.
Nona Rose terlihat sedikit jengkel. Setelah itu, dia memalingkan pandangan matanya dariku seperti tidak senang akan sesuatu dan berbicara.
“.... Kau tidak akan pernah mengerti diriku.”
Nona Rose sedikit mengembungkan pipinya dan melihat ke arah lain.
Well, itu karena nona Rose dan diriku yang tampan ini berbeda dan aku tidak akan pernah mengerti sedikitpun apa yang ada di pikirannya. Aku sendiri kesulitan untuk memahami apa yang dia katakan kepadaku. Tidak peduli seberapa keras usaha kita, pada akhirnya kita tidak akan pernah bisa saling memahami satu sama lain.
Meski begitu, ada satu hal yang mungkin kupahami dari nona Rose, yaitu kesendiriannya.
“Bukannya aku tidak paham apa yang hendak kau katakan. Menjadi penyendiri berarti kau punya banyak waktu luang untuk dirimu sendiri. Kau bahkan bisa mengatakan kalau kepercayaan bagi kebanyakan orang yang mengatakan ‘kau tidak harus sendirian’ itu adalah hal yang menjijikkan.”
“.....”
Nona Rose hanya melihatku sejenak sebelum dia menolehkan wajahnya ke depan dan menutup kedua matanya. Aku bisa mengatakan kalau dia sedang memikirkan sesuatu dari bahasa tubuhnya itu.
__ADS_1
“Meski kau pikir kau suka menjadi penyendiri, punya seseorang yang memberimu simpati karena itu adalah hal yang sangat mengganggu. Aku benar-benar paham rasanya,” kataku yang tampan ini.
“Mengapa kau bersikap kita berdua seolah-olah ada di level yang sama? Itu benar-benar mengganggu.”
Seperti berusaha menutupi rasa jengkelnya, nona Rose memindahkan rambut panjangnya yang ada di bahu ke belakang.
“Well, meskipun kau dan diriku ini memiliki standar yang berbeda, kurasa kita punya perasaan yang sama sebagai seorang penyendiri. Meski itu terdengar mengesalkan,” kata nona Rose yang memiliki semen beton di tubuhnya.
“Apa maksudmu dengan mengatakan kita memiliki standar yang berbeda? Aku punya alasanku sendiri mengapa aku menjadi penyendiri. Kau bisa menyebutku sebagai 'Raja' dari para penyendiri. Di lain pihak, akan sangat konyol menyebut orang sepertimu sebagai seorang penyendiri.”
“Ada apa ini? Tiba-tiba kau menceritakan keadaanmu meski kau tahu itu sia-sia saja.”
Nona Rose tampak terkejut dan melihatku dengan ekspresi penuh keterkejutan.
“Kau menyebut dirimu seorang penyendiri, padahal dirimu disukai oleh semua orang. Kau ini mencoreng nama baik seluruh penyendiri di luar sana.”
Tapi, nona Rose tiba-tiba tertawa dengan ekspresi sinis.
“Itu adalah kesimpulan yang sederhana sekali. Tampaknya kau hanya bisa meresponsnya sampai di saraf refleks saja, dimana itu tidak melibatkan aktivitas otak untuk berpikir. Maksudku, apa yang kau pahami dari menjadi orang yang disukai banyak orang? Oh benar, kau tidak pernah mengalami itu sebelumnya. Maaf, aku tidak mempertimbangkan hal itu.”
“Jika kau mencoba untuk mempertimbangkan itu, harusnya kau mempertimbangkan itu hingga akhir.”
Bukankah kau harusnya menyebut itu kebijakan palsu? Dia ini memang wanita jal*ng.
“Jadi bagaimana rasanya menjadi populer?” tanyaku.
__ADS_1
Nona Rose menutup matanya sejenak seperti memikirkan sesuatu.
Setelah pura-pura batuk, dia berbicara.
“Bagi seseorang sepertimu yang tidaklah populer, mungkin ini tidak enak untuk didengar.”
“Katakan saja, aku sudah siap,” jawabku.
Nona Rose menarik nafas yang dalam merespons kata-kataku itu. Aku tidak bisa merasakan hal yang lebih tidak menyenangkan dari ini. Aku seperti kekenyangan dari percakapan kami sebelumnya. Ini seperti memakan indomie goreng dengan jumlah yang tidak terbatas.
“Karena aku memang terlihat manis dari dulu, anak laki-laki yang mendekatiku biasanya memiliki perasaan suka kepadaku.”
Aku menyerah saja. Dia seperti menambahkan sayuran ekstra dan susu SGM ke mie gorengku. Tapi, meskipun aku sudah berpura-pura tenang dan percaya diri, aku tidak bisa begitu saja berdiri dan pergi. Akupun berusaha menenangkan diriku dan menunggunya selesai berbicara.
“Itu bermula sejak kelas 1 SMP. Setelah itu .... ”
Ekspresi nona Rose berbeda dari sebelumnya. Ini seperti sedikit melankolis. Kejadian itu pasti sudah berlalu sekitar lebih dari 5 tahun.
Memangnya apa hubungannya dengan perasaan suka dari lawan jenis?
Jujur saja, aku sendiri hampir 18 tahun hidup dengan merasa jijik ketika melihat orang menyatakan perasaan suka ke lawan jenis, aku sendiri tidak pernah bisa memahaminya. Aku bahkan tidak pernah menerima satupun coklat valentine dari ibuku, itu juga sebuah dunia dimana aku sendiri tidak memahaminya. Dia merasa seperti orang yang bisa membuat semuanya bahagia sehingga dia merasa menjadi pemenang.
Bukankah yang sebenarnya terjadi dia hanya membuatku terlihat seperti makhluk yang setiap hari mendengarkan keluh kesalnya?
Tapi hanya itu saja, bukan begitu?
__ADS_1
Meski ini berbeda seperti vektor positif dengan vektor negatif dalam gaya tarik, akan terasa sangat kasar jika aku membalasnya dengan jujur. Ini seperti berdiri telanjang di tengah-tengah badai. Ini sama kasarnya seperti memotongnya tiba-tiba ketika berada dalam diskusi kelas.