
Fan Tian terus menceritakan perjalanan hidupnya kepada Dong Huang hingga keduanya bertemu di desa Miao.
Meskipun Fan Tian tidak menceritakan sepenuhnya mengenai pelatihannya yang di ajarkan oleh kedua orang tua angkatnya serta hal-hal yang dia anggap harus dirahasiakan.
Mendengar cerita Fan Tian membuat Dong Huang merasa sangat bersimpati dan kembali bertanya.
"Terus bagaimana dengan kedua orang yang menolongmu setelah kau bisa menemukan kakak serta keluarga mu?"
"Aku pasti akan selalu mengunjungi mereka. Tetapi jika hidupku bisa berubah dan memiliki uang yang banyak, aku akan mengajak mereka untuk tinggal bersama dengan ku." Jawab Fan Tian.
"Bagaimana caranya kau bisa menghasilkan uang yang banyak jika kau tidak memiliki keahlian sedikitpun!?"
"Sebenarnya aku memiliki keahlian yang telah aku pelajari dari salah satu kitab pengobatan keluarga ku."
"Sehingga dengan kemampuan itu, aku rasa aku bisa menghasilkan uang meskipun membutuhkan waktu yang lama."
"Apakah kau bisa mengobati setiap penyakit yang diderita setiap orang?" Tanya Dong Huang lagi.
"Semuanya akan ku coba, sebab jika aku tidak mengetahui penyakit apa yang diderita, bagaimana aku bisa menyembuhkannya!?" Jawab Fan Tian.
"Baiklah, jika kita melihat ada orang yang sakit, kau harus segera membantu untuk menyembuhkan, sebab aku ingin melihat sehebat apa ilmu pengobatanmu."
Fan Tian hanya bisa tersenyum dengan perkataan Dong Huang dan menyesap teh yang telah tersedia didepan keduanya.
"Nona Dong, apakah aku boleh bertanya juga kepada mu?" Fan Tian kembali membuka pembicaraan.
"Apa yang ingin kau tanyakan?" Balas Dong Huang santai.
"Mengapa anda berada jauh dari sekte mu dan berada di wilayah bagian utara Negeri Zhong ini?" Tanya Fan Tian.
Dong Huang sejenak terdiam dan akhirnya menceritakan juga apa yang dia alami untuk menjawab pertanyaan Fan Tian.
"Awalnya aku datang bersama dengan salah satu tetua dari sekte ku untuk menjalankan misi."
"Dan misi kami ialah mencari seorang murid sekte yang telah membelot."
"Menurut informasi, dia sedang berada di wilayah utara ini. Namun saat kami menemukan murid tersebut, ternyata dia dibawa oleh seorang pria yang tidak lain adalah ayahnya dan juga adalah kekasih dari tetua yang pergi bersamaku."
"Tetua itu menyuruhku kembali untuk melaporkan bahwa kami tidak bisa menemukan murid itu."
"Tidak itu saja, tetua itu juga berpesan kepadaku untuk mengatakan jika dia terbunuh saat bertarung dengan kelompok yang berasal dari Lembah Neraka." Tutup Dong Huang dengan raut wajah yang merasa sedikit terbeban.
"Itu berarti murid pembelot yang kalian cari itu adalah putri dari tetua itu?" Tanya Fan Tian.
"Benar! Ternyata dia adalah putri dari tetua itu hasil hubungannya dengan kekasihnya."
"Terus, bagaimana bisa hal itu tidak diketahui oleh para murid dan juga para petinggi sekte kalian?"
"Menurut pengakuannya, saat dirinya menjalankan misi yang diberikan oleh sekte, dia bertemu dan menjalin hubungan dengan pria itu sampai melahirkan putrinya.
"Karena merasa takut diketahui oleh ketua sekte, akhirnya dia membawa putrinya itu ke sekte dan mengakuinya jika putrinya itu telah dia selamatkan dan kedua orang tuanya telah tewas karena dibunuh oleh kelompok perampok."
"Dan rahasia itu tetap terjaga sampai saat ini hanya aku dan dirimu yang mengetahuinya.
Apakah kau akan menyampaikan kepada ketua sekte mu pesan tersebut!?" Tanya Fan Tian ingin memastikan.
Dong Huang hanya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Fan Tian.
"Mengapa kau ingin melakukan hal itu? Bukankah tindakan mu itu juga seperti sudah melanggar aturan dari sektemu?" Tanya Fan Tian lagi.
__ADS_1
"Itu benar! Tetapi aku juga tidak ingin menghancurkan kebahagiaan mereka!" Jawab Dong Huang dengan sedikit penekanan.
Fan Tian hanya bisa terdiam setelah mendengar alasan yang diberikan oleh Dong Huang.
Setelah beberapa saat saling diam, Fan Tian pun kembali berinisiatif untuk kembali bertanya.
"Nona Dong, apakah kau tidak merasa bahagia dengan apa yang selama ini kau jalani?"
"Siapa bilang aku tidak merasa bahagia dengan apa yang telah aku jalani selama ini? Aku merasa sangat bahagia karena memiliki orang-orang yang selalu menyayangiku!" Jawab Dong Huang.
"Apakah kau tidak berniat untuk membentuk sebuah keluarga sama seperti yang tetua itu lakukan?" Tanya Fan Tian lagi.
"Tidak! Aku tidak akan melanggar aturan sekte hanya karena untuk membentuk suatu keluarga seperti itu!" Jawab Dong Huang tegas.
Mendengar nada suara Dong Huang, Fan Tian pun tidak ingin lagi melanjutkan niatnya untuk kembali bertanya.
Keduanya pun akhirnya beristirahat dan melewatkan sisa malam itu dengan diam dan tanpa ada lagi sepatah kata pun yang terdengar.
Fan Tian tidak bisa tertidur meskipun sudah memejamkan matanya selama beberapa saat. Begitu juga dengan Dong Huang yang saat itu tidak tidur diranjang.
Wanita itu hanya duduk dan mulai memikirkan pertanyaan yang Fan Tian lontarkan kepadanya sambil mengingat kembali kehidupan yang ditunjukkan oleh tetua itu.
Saat mentari pagi baru saja mau menyinari bumi, Dong Huang segera membangunkan Fan Tian agar keduanya kembali melanjutkan perjalanan.
Fan Tian yang tidak tertidur segera bangun dari ranjang dan bertanya.
"Ada apa nona Dong?"
"Kita harus melanjutkan perjalanan kita sebelum kelompok itu kembali bisa menemukan keberadaan kita." Jawab Dong Huang.
"Baiklah, ayo kita bersiap untuk pergi." Ucap Fan Tian dan segera pergi mempersiapkan diri untuk melakukan perjalanan.
Setelah keduanya siap, mereka berdua pun segera meninggalkan penginapan itu.
"Nona Dong, bukankah lebih baik melakukan perjalanan dengan menunggang kuda?" Tanya Fan Tian.
"Benar juga yang kau katakan itu...ayo kita cari tempat untuk bisa membeli dua ekor kuda." Ajak Dong Huang sambil mencari tempat yang dia maksudkan.
Beberapa saat kemudian, akhirnya keduanya menemukan tempat yang menjual kuda.
"Tuan, berapa harga kuda itu?" Tanya Dong Huang sambil menunjuk seekor kuda.
"Tuan, kuda ini seharga sepuluh keping emas." Jawab pemilik kuda.
"Sepuluh keping emas? Sepertinya aku tidak bisa membayar dua ekor kuda, sebab aku tidak memiliki cukup uang." Pikir Dong Huang.
"Nona Dong, kenapa? Apakah uangmu tidak cukup untuk membayar dua ekor kuda?" Tanya Fan Tian.
Dengan malu-malu Dong Huang pun menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Fan Tian.
"Apakah uangmu cukup untuk membeli seekor kuda?" Tanya Fan Tian lagi.
Dong Huang pun kembali menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan tersebut.
"Jika demikian, nona Dong Huang beli saja seekor kuda untuk bisa di tunggangi."
"Tetapi bagaimana dengan dirimu?" Tanya Dong Huang.
"Biar aku sendiri yang akan membayar kuda yang akan menjadi tungganganku." Jawab Fan Tian.
__ADS_1
Dia segera merogoh saku miliknya dan sesaat kemudian sepuluh keping emas kini sudah terlihat berada di genggamannya.
"Tuan, aku membayar kuda itu untukku." Ucap Fan Tian sambil menyerahkan sepuluh keping emas miliknya.
Pemilik kuda itu segera mengambil sepuluh keping emas milik Fan Tian dan Dong Huang serta segera membawa dua ekor kuda yang mereka inginkan.
Keduanya pun segera melanjutkan perjalanan dengan menunggang kuda.
Keduanya kini sedang di buntuti oleh kelompok yang sebelumnya ingin menangkap mereka.
Setelah sudah berada lima mil di luar kota Guangfu dan mulai memasuki hutan bambu, sebuah jaring langsung jatuh dari atas mereka.
Dong Huang terlambat menyadari hal itu, sehingga dirinya langsung terjatuh dari kuda yang dia tunggangi dan terperangkap didalam jaring itu.
Sedangkan Fan Tian tidak mengalami hal itu, sebab bagi para pendekar yang memburu mereka, dirinya bukanlah suatu hambatan yang serius.
"Nona Dong!" Teriak Fan Tian saat melihat Dong Huang sudah tidak sadarkan diri dan di bawa oleh kelompok itu.
"Ha...ha...ha...ha...ha...apakah kau pikir bisa lolos dari tanganku?"
Pria yang adalah pemimpin mereka merasa sudah menang dari Fan Tian, sebab telah menangkap Dong Huang.
Fan Tian pun segera menambatkan kudanya kemudian melangkah mendekati sang pemimpin.
"Cepat lepaskan dia! Jika tidak, aku juga tidak akan melepaskan kalian semua." Ucap Fan Tian dengan sedikit ancaman.
"Ternyata baru beberapa jam saja tidak bertemu, sikapmu langsung berubah drastis...apakah semalam kau salah menelan makanan?" Balas sang pemimpin menanggapi ucapan Fan Tian.
Pendekar muda itu kini telah di kepung oleh sepuluh orang pendekar dengan menggenggam masing-masing senjata ditangan mereka.
Sedangkan sang pemimpin terlihat berdiri angkuh dihadapan Fan Tian.
"Cepat lepaskan, sebelum aku membunuh kalian semua...!" Fan Tian kembali memberikan ancaman.
"Hei bocah! Jika kau ingin membunuh kami, cepat lakukan saja, aku juga merasa penasaran untuk melihat bagaimana caranya kau membunuh."
Pemimpin kelompok itu semakin memprovokasi Fan Tian untuk melaksanakan ancamannya.
"Tuan, serahkan dia kepadaku...aku akan memberikan semua barang berharga yang aku miliki."
Sikap Fan Tian kembali berubah dan terlihat memohon seperti orang bodoh sambil mencoba untuk merogoh sakunya.
"Ha...ha...ha...ha...dasar idiot, dia pikir dengan trik yang dia pakai bisa membodohi kita semua."
Mereka pun menertawakan perubahan sikap Fan Tian dan semakin meremehkannya.
Namun beberapa detik kemudian, tubuh mereka semua kini tidak bisa digerakkan lagi serta tidak bisa mengeluarkan suara sedikitpun.
"Bagamana? Apakah kau masih penasaran dengan cara yang akan aku pakai untuk membunuh kalian?"
"Baiklah! Saat ini aku harus membunuhmu terlebih dahulu, sehingga aku bisa meringankan tekanan psikologi mu saat aku melakukannya kepada orang lain."
Fan Tian pun segera mengambil pedang milik salah satu dari mereka dan mulai meraih satu jari tangan sang pemimpin.
Saat Fan Tian baru saja ingin memotong salah satu jarinya, tiba-tiba cairan mengalir dengan deras dan membasahi kakinya.
"Ha...ha...ha...ha...lihat pemimpin kalian, awalnya terlihat sangat garang, ternyata masih ngompol juga."
Fan Tian mengejek sang pemimpin kemudian membopong tubuh Dong Huang dan keduanya bersama-sama menunggangi kuda milik Fan Tian.
__ADS_1
~Bersambung~