
Fan Tian dan dua wanita yang bersama dengannya saat mengetahui bahwa bawahan Wang Zijun mulai berjalan menuju ke arah mereka, segera pergi meninggalkan tempat itu.
"Tuan muda, kemana kita harus pergi?" Tanya Bei Feiyan.
"Sebaiknya kita coba keluar dari kota ini saja agar perseteruan diantara keluarga pangeran Li Ying dan keluarga jenderal Wang Zijun tidak akan bertambah rumit lagi." Jawab Fan Tian.
"Memangnya ada perseteruan diantara kedua keluarga itu?" Tanya Dong Huang terlihat terkejut setelah mendengar apa yang Fan Tian katakan.
"Sial! Mengapa aku bisa keceplosan!" Fan Tian mengumpat terhadap dirinya sendiri.
Dong Huang yang terus menatap Fan Tian untuk mendapatkan jawaban darinya, membuat pria itu pun segera menjawab.
"Sudahlah, kita tidak perlu membahas hal itu, karena saat ini sebaiknya kita memikirkan cara agar bisa keluar dari kota ini."
"Bagaimana jika kita dicegat oleh prajurit yang berjaga saat ingin melewati gerbang kota? Apakah kita harus bertarung dengan mereka?" Sambung Bei Feiyan bertanya.
"Hanya itu yang bisa kita lakukan untuk bisa lepas dari tangan jenderal Wang Zijun." Ucap Fan Tian menanggapi perkataan Bei Feiyan.
"Jika kita melawan prajurit penjaga gerbang kota, bukankah tindakan itu melawan penguasa Negeri Zhong ini!? Dan secara otomatis, kita bertiga akan menjadi buronan seluruh pasukan di negeri Zhong ini." Dong Huang memberikan tanggapan.
"Hal itu pasti akan dijelaskan oleh Paman Kerajaan, sebab beliau memang mengetahui apa yang kita alami saat ini." Tutur Fan Tian menanggapi apa yang Dong Huang utarakan.
"Apakah kau yakin jika hal itu akan dilakukan oleh Paman Kerajaan!?" Tanya Dong Huang ingin memastikan.
"Aku sangat yakin dengan apa yang aku pikirkan itu." Jawab Fan Tian.
"Setahuku, politik di dalam istana itu sangat sulit untuk bisa kita tebak, sehingga aku masih meragukan ucapan mu itu." Ucap Dong Huang menyampaikan apa yang dia pikirkan.
"Memang benar seperti itu...akan tetapi aku sangat yakin jika Paman Kerajaan pasti akan melakukan hal itu." Fan Tian menanggapi.
"Sebaiknya kita lebih mempercepat langkah kita agar bawahan jenderal Wang Zijun tidak bisa mengejar kita." Sela Bei Feiyan.
"Kita kesana saja dan segera mengambil kuda tunggangan kita agar bisa secepatnya pergi dari sini." Tutur Fan Tian sambil menunjukkan ke salah satu arah dan berlari ke arah tersebut.
Tidak jauh dibelakang mereka bertiga, puluhan prajurit sedang mencari keberadaan ketiganya menemukan keberadaan mereka.
"itu mereka! ayo kita kejar!" perintah seorang prajurit yang menjadi pemimpin.
Sedangkan prajurit yang lain kini sudah menyebar ke seluruh pintu gerbang kota untuk mengantisipasi agar tiga sosok yang mereka kejar tidak bisa keluar dari kota itu.
Mereka bertiga segera memacu kuda yang mereka tunggangi agar bisa secepatnya keluar dari kota Guancheng itu.
hal yang sama juga dilakukan oleh puluhan prajurit yang mengejar mereka.
__ADS_1
Pergerakan mereka sempat dilihat oleh Sung Yunzi yang memang terus mencari keberadaan Fan Tian.
"Yun'er, kau mau kemana!?" Teriak Chen Zhu yang saat itu telah melihat wanita yang dia cintai telah pergi meninggalkan mereka dengan menunggangi kudanya.
Chen Zhu yang tidak ingin membiarkan Sung Yunzi berada dalam bahaya, segera melompat untuk menunggangi kudanya dan menyusul wanita itu.
"Tetua Chen, ada apa dengan mereka?" Tanya Bian Que.
"Sepertinya nona Sung Yunzi telah melihat pendekar Zhao Yun dan mengejarnya..."
"Sedangkan Zhu'er sendiri hanya ingin memastikan keselamatan nona Sung Yunzi." Tutup Chen Song menjawab pertanyaan Bian Que.
"Jadi bagaimana dengan kita? Apakah hari ini kita akan pergi juga dari kota ini?" Tanya Bian Que.
"Bagaimana dengan tuan Fei?" Tanya Chen Song ingin memastikan sebelum menjawab pertanyaan Bian Que.
"Menurutku, apa pun yang tetua Chen putuskan, asalkan itu demi kebaikan kita, aku pasti akan menyetujuinya." Jawab Fei Bin.
"Jika demikian, sebaiknya kita meninggalkan kota Guancheng besok pagi saja, sebab saat ini waktunya sudah tidak tepat lagi, sehingga kita bisa mempersiapkan dengan matang perjalanan kita nanti." Tutur Chen Song.
"Ayo kita kembali ke tempat keluarga Han" Lanjut Chen Song mengajak yang lain.
Di gerbang kota Guancheng, kini Fan Tian dan dua wanita yang bersama dengannya telah tiba.
Prajurit yang bertugas di gerbang kota merasa terkejut dengan perintah tersebut, sebab saat itu mereka sedang melayani orang-orang yang akan memasuki kota tersebut.
Kedatangan mereka bertiga langsung disambut oleh puluhan prajurit yang adalah bawahan Wang Zijun dengan puluhan anak panah.
Hal yang sama juga secara spontan dilakukan oleh prajurit yang berada diatas tembok kota Guancheng ikut melepaskan tembakan ratusan anak panah mereka ke arah tiga sosok tersebut.
"Zhao Yun! Apa yang harus kita lakukan!?" Teriak Dong Huang.
"Kalian berdua ikuti aku dari belakang!" Balas Fan Tian yang segera mengeluarkan pedang miliknya dan mulai menepis setiap anak panah yang melesat kearahnya.
Sedangkan Dong Huang dan Bei Feiyan kini posisi keduanya tepat berada di belakang Fan Tian, sehingga hanya sedikit anak panah yang harus mereka tepis.
Di belakang mereka kini mulai terlihat ada puluhan prajurit juga yang sedang datang untuk mengejar mereka dan langsung bersiap untuk menyerang dengan senjata mereka masing-masing.
Dan bersamaan dengan itu, dibelakang puluhan prajurit tersebut, terlihat dua sosok yang menunggang kuda juga sedang menuju ke arah gerbang kota Guancheng.
Sung Yunzi yang melihat jika Fan Tian sedang diserang oleh puluhan prajurit bawahan Wang Zijun dan ratusan prajurit yang berada diatas tembok kota Guancheng, segera memacu kudanya agar bisa berlari lebih cepat lagi.
Hal yang sama juga yang dilakukan oleh Chen Zhu dengan kuda yang dia tunggangi.
__ADS_1
"Sial! Zhao Yun ini benar-benar telah meracuni pikiran Sung Yunzi, sehingga ia tidak memperdulikan lagi keselamatannya sendiri." Chen Zhu mengumpat.
Prajurit yang berjaga di pintu gerbang serta prajurit yang berada diatas tembok kota Guancheng, setelah melihat pedang yang di pegang oleh Fan Tian, segera menghentikan tindakan mereka.
Hal itu karena mereka bisa mengenali pedang ditangan Fan Tian yang adalah milik pamannya yang telah meninggal.
"Apakah dia telah mencuri pedang milik mendiang pangeran Li Jinbu?" Gumam seorang komandan pasukan dan didengar oleh seluruh bawahannya.
"Itu mungkin saja terjadi, sebab saat ini semua petinggi sedang berada di arena pertarungan karena sedang menyaksikan pertarungan antara pendekar Xiao Lingchen dan pendekar Chang Tian." Seorang prajurit menanggapi.
"Bagaimana jika kita keliru dan melukainya!?" Sang komandan balik bertanya.
Prajurit itu pun hanya bisa terdiam dan tidak menjawab pertanyaan Sang komandan.
"Karena jika dia telah mencuri pedang itu dari kediaman Paman Kerajaan, sudah pasti para pendekar yang menjaga kediaman tersebut akan mengejar mereka...tetapi yang terlihat saat ini hanyalah prajurit jenderal Wang Zijun yang mengejar mereka." Sang komandan lanjut mengungkapkan apa yang dia pikirkan.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan saat ini?" Tanya prajurit itu lagi.
"Kita lihat saja perkembangannya. Jika mereka sudah mengalahkan puluhan prajurit itu, baru kita bertindak untuk mengepung mereka dan menanyakan identitas yang mereka miliki" Jawab Sang komandan singkat.
"Tetapi, bagaimana jika mereka membunuh semua prajurit itu? Bukankah kita akan di persalahkan oleh jenderal Wang Zijun?" Seorang prajurit mengomentari keputusan sang komandan.
"Sebaiknya kita segera turun untuk mengepung mereka dan mempertanyakan identitas yang mereka miliki." Lanjut prajurit itu menyarankan.
"Baiklah, sepertinya hal itu sangat tepat untuk kita lakukan." Tutur sang komandan menyetujui saran prajurit itu.
"Kalian ikut aku! Dan yang lainnya tetap bersiap di tempat kalian masing-masing agar bisa mengantisipasi jika mereka ingin meloloskan diri dari dengan melompati tembok kota ini." Perintah sang komandan dan segera turun bersama dengan pasukannya yang lain.
Prajurit yang berjaga di gerbang kota Guancheng pun melakukan hal yang sama dengan pasukan yang berada diatas tembok kota Guancheng. Mereka pun hanya mengepung dan bersiap dengan tombak mereka untuk bisa melumpuhkan Fan Tian dan dua wanita yang bersama dengannya.
Karena serangan anak panah yang dilepaskan sebelumnya oleh bawahan Wang Zijun dan pasukan penjaga, sehingga membuat kuda yang ditunggangi oleh Fan Tian serta dua wanita yang lain kini sudah terbaring tidak bernyawa lagi.
Pertarungan jarak dekat pun kini terjadi antara kedua kubu yang memiliki jumlah yang tidak seimbang.
Karena serangan anak panah sudah tidak ada lagi sehingga Fan Tian segera mengeluarkan tombak miliknya untuk bisa melumpuhkan puluhan prajurit yang menghadang mereka serta puluhan prajurit yang baru saja bergabung setelah mengejar mereka.
Sesaat kemudian, akhirnya Sung Yunzi pun bergabung untuk bertarung dan diikuti oleh Chen Zhu untuk melindungi wanita yang dicintainya itu dari serangan puluhan prajurit bawahan Wang Zijun itu.
Tindakan Fan Tian tersebut agar hanya melumpuhkan puluhan prajurit itu dan tidak sampai membunuh mereka.
Tombak Fan Tian pun mulai memukul dan menangkis setiap serangan tombak dan pedang milik pasukan Wang Zijun.
"Berhenti! Jika kalian masih ingin melanjutkan pertarungan, jangan salahkan kami untuk membunuh kalian semua!" Teriak komandan pasukan yang bertanggung jawab di gerbang kota Guancheng setelah melihat kemampuan lima sosok pendekar tersebut.
__ADS_1
~Bersambung~