
Setelah berpisah dengan prajurit itu, Fan Tian segera mencari sebuah penginapan untuk bisa beristirahat.
Saat dirinya hendak memasuki penginapan keluarga Han, dia sempat melihat Chen Zhu yang sedang duduk sambil menikmati arak.
"Jika dilihat dari pakaian yang dia pakai, sepertinya dia salah satu anggota sekte Zhenwu."
"Apakah pria itu saudara seperguruan nona Sung Yunzhi?" Pikir Fan Tian.
"Jika itu benar, berarti nona Sung Yunzhi sedang beristirahat di penginapan ini juga...tetapi apakah nona Dong Huang berada di penginapan ini juga?"
"Sebaiknya aku mencari penginapan yang lain saja, sebab akan bertambah rumit jika aku bertemu dengan nona Sung Yunzhi." Pikir Fan Tian dan segera berbalik untuk pergi dari penginapan itu.
"Siapa pemuda itu? Sepertinya dia sedang memperhatikan diriku...tetapi mengapa wajahnya seperti mengingatkan ku kepada adikku?"
"Tidak mungkin! Tidak ada yang akan selamat saat terjatuh ke jurang itu...Fan Tian pasti telah meninggal!"
Hati dan perasaan Chen Zhu tergerak saat melihat sosok yang sedang memperhatikan dirinya yang tidak lain adalah adiknya sendiri.
"Tuan Zhao Yun! Mengapa kau ingin pergi? Apakah karena telah melihat pendekar Chen Zhu yang memakai atribut dari sekte Zhenwu?" Pertanyaan yang dilontarkan oleh Dong Huang yang saat itu sedang menghalangi jalan Fan Tian.
"Mengapa kau memanggilku dengan nama itu?" Balas Fan Tian bertanya.
"Kenapa? Apakah panggilan itu hanya dikhususkan untuk nona Sung Yunzhi dan nona Liu Ruyan?"
"Nona Dong, aku tidak ingin identitas ku terungkap, untuk itu aku memakai nama tersebut...ayo kita bicarakan hal ini ditempat lain." Ajak Fan Tian sambil meraih tangan Dong Huang untuk pergi dari tempat itu.
Wanita berusia 17 tahun yang memiliki wajah oval dan terlihat simetris dan memiliki mata seperti kacang almond dengan bulu mata melengkung keatas dan alis lancip, hidung kecil dan mancung, bibir tipis dan seksi serta memiliki rambut hitam dan lurus dengan tinggi badan kira-kira 168 cm dan memiliki tubuh yang langsing namun terlihat padat dan berisi, tidak memberikan perlawanan saat pria muda berusia 17 tahun yang memiliki tinggi badan sekitar 170 cm itu dengan wajah tampannya yang memiliki mata sedikit sipit dengan alis yang tebal dan hidung mancung serta memiliki bibir tipis dan lesung pipi dengan rambut hitam dan lurus serta memiliki dada bidang sehingga terlihat kekar dan memiliki kulit yang putih bersih.
Keduanya pun segera pergi untuk bisa menemukan tempat yang cocok agar bisa melanjutkan pembicaraan mereka.
"Sepertinya kedai itu sangat cocok untuk kita duduk dan melanjutkan pembicaraan kita." Ucap Fan Tian yang masih menggenggam tangan Dong Huang.
Meskipun Dong Huang sedikit menunjukkan sikap dingin terhadap Fan Tian, namun didalam hatinya sangat bahagia karena bisa bertemu lagi dengan pria muda itu.
Keduanya pun segera memasuki kedai yang Fan Tian maksudkan dan menempati posisi duduk yang menurut keduanya aman.
"Apakah ada yang ingin kalian berdua pesan?" Tanya seorang pelayan yang datang mendekat.
"Iya! Sediakan teh hangat untuk kita berdua." Jawab Fan Tian.
"Nona Dong! Aku baru saja mendapatkan informasi dari seorang prajurit, bahwa identitas ku sebaiknya dirahasiakan, sebab jika identitas ku terungkap, itu bisa mendatangkan masalah yang besar bagi diriku."
"Untuk itulah aku menggunakan nama tersebut agar bisa menyamarkan identitas ku yang sebenarnya."
"Mengapa bisa seperti itu?" Tanya Dong Huang penasaran.
"Itu berhubungan dengan pembantaian yang terjadi belasan tahun yang lalu, dimana ada sebuah kelompok yang bergerak untuk mencari keberadaan Pil Emas Kehidupan yang katanya bisa memberikan keabadian bagi orang yang memakannya."
"Apakah itu juga berkaitan dengan pembantaian keluargamu?" Tanya Dong Huang lagi.
__ADS_1
"Itu benar! Memang kelompok tersebut sangat berkaitan dengan pembantaian keluargaku. Dan ciri-ciri mereka sama seperti para perampok yang selalu melakukan kejahatan di wilayah Negeri Zhong ini."
"Jika demikian, berarti dalang dari semua itu adalah sekte Lembah Neraka!" Dong Huang berkesimpulan.
"Tidak! Para perampok itu bukanlah anggota ataupun bagian dari sekte Lembah Neraka." Fan Tian menepis kesimpulan Dong Huang.
"Mengapa kau terlihat yakin jika itu tidak ada hubungannya dengan sekte Lembah Neraka? Bukankah mereka adalah sekte aliran hitam yang sangat wajar jika melakukan hal itu?"
"Apa yang kau katakan itu tidak ada salahnya. Namun yang aku tahu, sekte Lembah Neraka sejak belasan tahun yang lalu telah menutup diri dan sudah tidak lagi ikut campur dalam dunia persilatan."
"Aku tidak sependapat denganmu, sebab mereka mungkin bisa menyebarkan rumor itu agar pergerakan mereka lebih leluasa lagi." Ucap Dong Huang tidak menerima pemikiran Fan Tian.
"Jika memang apa yang kau pikirkan itu benar, terus mengapa para perampok itu selalu mengungkapkan identitas mereka sebagai anggota dari sekte Lembah Neraka? Bukankah percuma mereka menyebarkan rumor untuk mundur dari dunia persilatan!?" Fan Tian menanggapi.
Dong Huang pun langsung terdiam setelah mendengar tanggapan yang diberikan oleh Fan Tian.
"Benar juga yang dia katakan...bukankah tindakan itu seperti ingin bunuh diri!?" Pikir Dong Huang.
"Jika benar yang dikatakan oleh Fan Tian, berarti ada pihak yang memang sengaja untuk melimpahkan tanggung jawab atas setiap kejahatan yang telah mereka lakukan kepada sekte Lembah Neraka." Lanjut Dong Huang berpikir.
"Apakah kau sudah tahu siapa dalang dari semua itu?" Tanya Dong Huang.
"Belum, aku masih menyelidiki hal itu." Jawab Fan Tian.
"Untuk itu, aku berharap kau juga bisa menjelaskan kepada tetua Dui Buqi dan dua orang lainnya mengenai nama Zhao Yun yang aku gunakan itu, sebab hanya mereka bertiga yang mengetahui identitas ku yang sebenarnya."
"Baiklah, saat aku kembali ke penginapan, pasti aku akan memberitahukan hal ini kepada tetua Dui Buqi dan juga kepada tuan Fei serta putranya."
Hingga akhirnya mereka berdua mengakhiri kebersamaan itu dan Dong Huang segera kembali ke penginapan.
Fan Tian pun beberapa saat kemudian segera berjalan juga ke penginapan yang sama untuk memesan satu kamar untuknya.
Setibanya di penginapan, Fan Tian melihat Dong Huang sedang duduk menemani Chen Zhu yang saat itu sudah terlihat sangat mabuk.
Tatapan mata Dong Huang dan Fan Tian langsung bertemu dan pria muda itu segera memberikan isyarat untuk pergi.
Dong Huang yang bisa mengerti dengan isyarat Fan Tian segera berpamitan.
"Pendekar Chen! Sebelumnya aku minta maaf kepada anda karena tidak bisa menemanimu lagi, sebab aku harus segera beristirahat."
"Nona Dong! Mengapa setiap wanita seperti tidak ada yang memahami apa yang aku rasakan saat ini? Apakah aku ini terlihat tidak menarik?" Balas Chen Zhu menanggapi ucapan Dong Huang.
"Pendekar Chen! Permisi!" Tutur Dong Huang dan segera pergi meninggalkan Chen Zhu.
"Ha...ha...ha...ha...ha...ternyata murid sekte Qingyin benar-benar tidak ingin dekat dengan seorang pria...sungguh sangat disayangkan, wanita secantik nona Dong Huang hanya menyia-nyiakan hidupnya untuk berkultivasi." Gumam Chen Zhu setelah ditinggal pergi Dong Huang.
Fan Tian segera membayar biaya sewa kamarnya dan segera pergi dengan diantarkan seorang pelayan ke kamar yang telah disewanya.
Dong Huang pun tidak segera kembali ke kamarnya, melainkan dirinya ingin memastikan dimana kamar yang disewa oleh Fan Tian.
__ADS_1
"Nona Dong, mengapa belum beristirahat?" Tanya Chen Song yang membuat Dong Huang merasa terkejut.
"Tetua Chen! Aku baru saja mau menuju ke kamarku!" Jawab Dong Huang.
"Tetua Chen, aku baru saja meninggalkan pendekar Chen Zhu yang saat ini sudah sangat mabuk di ruangan lantai dasar...sebaiknya tetua Chen segera pergi untuk menyamperinya." Lanjut Dong Huang.
"Apa? Chen Zhu saat ini sedang mabuk?"
"Benar tetua Chen!"
"Baiklah! Aku akan segera pergi untuk menemuinya...nona Dong, terima kasih atas informasinya!"
Chen Song segera pergi untuk menyamperi anak angkatnya yang saat itu sudah sangat mabuk.
Sedangkan Dong Huang segera pergi ke kamarnya untuk kembali beristirahat.
Fan Tian yang memperhatikannya segera mengikuti gadis itu dari belakang.
Setelah Dong Huang memasuki kamarnya dan hendak menutup kembali pintu kamarnya, tangan Fan Tian segera mencegahnya.
"Siapa i...tu!?" Seru Dong Huang namun segera melihat siapa sosok yang mencegahnya untuk menutup pintu kamarnya.
"Ssssttt! Jangan berisik!" Bisik Fan Tian dan segera masuk dan dengan cepat menutup pintu kamar itu.
"Mengapa kau kesini?" Tanya Dong Huang dengan berbisik.
"Memangnya kau tidak ingin jika aku ada disini untuk bersama dengan mu?" Tanya Fan Tian sambil tersenyum menggoda.
"Kau ini! Apakah kau sedang menggoda ku?" Balas Dong Huang.
"Memangnya kenapa jika aku menggodamu? Bukankah itu tidak akan berpengaruh sedikitpun bagimu!?" Jawab Fan Tian.
"Memang benar! Aku memang tidak akan terpengaruh sedikitpun dengan rayuan seorang pria hidung belang seperti dirimu ini." Balas Dong Huang.
"Mengapa kau mengataiku pria hidung belang? Apakah sudah ada seorang gadis yang aku permainkan!?" tutur Fan Tian ingin membela diri.
"Terus, mengapa kau masuk ke kamarku? Bukankah sudah tidak ada lagi hal yang harus kita bicarakan!?" Ucap Dong Huang.
"Baiklah, sepertinya kehadiranku tidak diharapkan oleh mu, untuk itu sebaiknya aku pergi saja." Ucap Fan Tian dan segera berbalik untuk keluar.
"Kau...!" Dong Huang tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
"Kenapa? Apakah kau ingin mencegahku untuk pergi?" Tanya Fan Tian dengan nada menggoda.
"Ti...tidak! Aku tidak akan mencegahmu!" Jawab Dong Huang dengan tergagap.
Fan Tian hanya tersenyum menatap Dong Huang dan segera pergi meninggalkannya.
Sedangkan jantung Dong Huang kini berdegup kencang karena sikap Fan Tian.
__ADS_1
~Bersambung~