
Sial! Siapa yang melakukannya!?" Gerutu seorang diantara pendekar yang mengejar Fan Tian setelah melihat tiga orang rekannya telah tumbang.
Sedetik kemudian, terlihat ada satu sosok yang berdiri tepat didepan pria itu dan segera menebasnya dengan sebuah pedang.
Pria itu langsung menghindar dan segera membalas serangan itu dengan golok ditangannya.
Trang...trang...trang
Bunyi dua benda yang terbuat dari logam saling berbenturan.
"Siapa kamu yang berani ikut campur dengan urusan kami!?" Tanya pria itu sambil terus menangkis dan menyerang sosok yang bertarung dengannya.
Fan Tian segera menghentikan larinya dan berbalik untuk melihat siapa sosok yang telah membantunya.
"Sial! Bukankah itu nona Dong Huang!?"
"Aku harus kembali untuk membantunya!"
Gumam Fan Tian dan kembali berlari ke arah dimana Dong Huang bertarung.
Tindakan Fan Tian itu membuat konsentrasi Dong Huang sedikit terganggu dan membuatnya lengah.
Buk
Tendangan pria itu langsung bersarang di perut Dong Huang dan membuat wanita bertopi caping itu terdorong ke belakang.
Fan Tian segera membantu Dong Huang agar tidak terjatuh.
"Mengapa kau kesini untuk membantu ku lagi? Bukankah kita sudah berpisah!?"
Kata-kata yang dilontarkan oleh Fan Tian sambil menyanggah tubuh Dong Huang agar tidak roboh.
"Dasar bodoh! Mengapa kau kembali lagi kesini? Cepat pergi dari tempat ini!" Perintah Dong Huang.
"Mana mungkin aku tega meninggalkanmu sendiri ditempat ini untuk menghadapi mereka!? Aku harus membantumu" Balas Fan Tian.
"Tindakanmu ini hanya akan membuat kita ditangkap oleh mereka!" Ujar Dong Huang menanggapi.
"Nona Dong, sebenarnya aku bisa bela diri meskipun tidak terlalu mahir...tetapi aku harus memiliki alat seperti tombak." Ungkap Fan Tian.
Dong Huang tersenyum merendahkan dan berkata.
"Jika demikian, silahkan kau hadapi sendiri mereka." Dengan maksud mengejek Fan Tian.
"Ha...ha...ha...ha...ha...ternyata hari ini kita akan mendapatkan tangkapan yang bisa memberikan keuntungan yang sangat besar untuk kita...apa lagi jika di lihat - lihat, sepertinya dia adalah seorang wanita yang cantik juga." Tutur pria yang mengajak Fan Tian karena sudah tiba juga ditempat itu.
Kini keduanya telah dikepung oleh dua belas orang pendekar.
Karena tidak memiliki tombak, Fan Tian pun segera menyiapkan jarum miliknya tanpa sepengetahuan Dong Huang.
"Kau tetap berdiri di belakangku, biar aku yang akan melawan mereka sambil melindungimu." Ucap Dong Huang memberi perintah kepada Fan Tian.
Keduanya pun berdiri saling membelakangi satu sama lain dan bersiap untuk bertarung dengan belasan pendekar yang ingin menangkap mereka.
"Ayo, tangkap mereka!" Teriak pria yang mengajak Fan Tian yang tidak lain adalah sang pemimpin.
Tatapan mata Fan Tian langsung tertuju ke setiap titik jalur meridian milik beberapa pendekar didepannya.
Secara bersamaan dua belas pendekar itu dengan menggunakan senjata mereka masing-masing segera menyerang keduanya.
Tombak, pedang, golok, rantai dengan bola berduri di ujungnya serta kapak mulai melesat ke arah Dong Huang dan Fan Tian.
Dong Huang dengan cekatan langsung menangkis serangan itu menggunakan pedang ditangannya sambil berputar dan diikuti oleh Fan Tian yang juga secara diam-diam telah melepaskan serangan jarum miliknya.
__ADS_1
"Nona Dong! Ayo kita melarikan diri lewat sisi itu!" Tutur Zhao Yun sambil menarik tangan Dong Huang dan menerobos kearah dimana para pendekar yang ada telah dilumpuhkan.
Dong Huang yang tangannya telah ditarik oleh Fan Tian hanya bisa mengikuti apa yang diinginkan oleh pemuda itu.
"Mengapa mereka tidak menyerang kita!? Apa yang telah terjadi dengan mereka!?" Pikir Dong Huang merasa heran setelah melihat sikap beberapa pendekar yang mereka lewati.
Keduanya pun dengan mudah melarikan diri tanpa ada halangan dari satu orang pendekar pun.
"Kejar mereka!" Teriak sang pemimpin.
"Kakak! Ada apa dengan mereka!?" Tanya seorang diantara bawahannya.
Kini mereka melihat lima orang rekan mereka hanya terdiam berdiri ditempat dan tidak bisa bergerak sedikit pun.
Sang pemimpin merasa bingung dengan apa yang dialami oleh ke lima bawahannya itu.
Mereka tidak melanjutkan pengejaran dan segera mendekati ke lima rekan mereka.
Sang Pemimpin segera menotok beberapa titik di tubuh seorang bawahannya untuk bisa membuka jalur meridian yang menurutnya telah tertutup.
"Sial! Mengapa aku tidak bisa membuka jalur meridiannya? Sebenarnya apa yang telah terjadi dengan mereka!?" Gumam sang pemimpin merasa bingung.
"Tetapi siapa yang melakukannya?"
"Mengapa aku tidak melihat satu pun dari keduanya melakukan sesuatu terhadap mereka!?"
Sang pemimpin segera menajamkan indera pendengaran serta indera penglihatannya untuk bisa menemukan sesuatu yang dia cari.
"Kakak! Apa yang kau cari?" Tanya seorang diantara bawahannya.
"Sepertinya mereka berdua sedang dibantu oleh orang lain...dan mungkin orang itu adalah seorang pendekar yang memiliki basis kultivasi diatas kita." Ucap sang pemimpin sambil terus mencari.
Mendengar ucapan pemimpin mereka, tujuh orang lainnya pun ikut melakukan apa yang dilakukan oleh pemimpin mereka.
"Mengapa kau mengikuti pria itu?" Tanya Dong Huang.
"Itu karena dia mengatakan kepadaku jika dia mengetahui keberadaan kakakku." Jawab Fan Tian.
"Kau jangan mudah percaya kepada siapapun yang baru saja kau temui, karena itu akan membuatmu mengalami hal yang sama dengan apa yang baru saja kau alami." Tutur Dong Huang.
"Terus, bagaimana dengan dirimu? Bukankah kita berdua juga baru saja bertemu?" Balas Fan Tian.
"Kau...!" Dong Huang tidak bisa melanjutkan perkataannya akan tetapi raut wajahnya terlihat sangat kesal.
Keduanya pun berjalan dan Dong Huang kembali bertanya.
"Apakah kau melihat sikap lima sosok pendekar yang kita lewati?"
"Iya! Memangnya kenapa?" Jawab Fan Tian dan balik bertanya dengan tatapan yang terlihat penasaran.
"Aku hanya merasa heran saja, mengapa mereka tidak menghalangi kita saat melewati mereka!?" Ucap Dong Huang heran.
"Mungkin mereka sedikit berbaik hati dan melepaskan kita." Fan Tian menanggapi.
"Aku pikir apa yang terjadi dengan mereka tidak sesederhana itu." Dong Huang menanggapi.
"Sudahlah, tidak usah dipikirkan...yang terpenting kita berdua sudah terlepas dari mereka." Ucap Fan Tian. .
"Sepertinya kita harus mencari tempat yang aman agar tidak ditemukan lagi oleh mereka." Ucap Dong Huang.
"Ayo kita pergi ke sana untuk mencari penginapan yang berada di dekat gerbang kota ini." Lanjut Dong Huang.
"Untuk apa kita kesana?" Tanya Fan Tian.
__ADS_1
"Dasar bodoh...! Kita harus beristirahat terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan!" Ujar Dong Huang.
"Tetapi mengapa harus mencari penginapan disana? Bukankah itu juga adalah penginapan!?" Balas Fan Tian sambil menunjuk ke salah satu bangunan.
"Mengapa kau terlalu bodoh seperti itu!? Apakah kau ingin mereka menemukan kita lagi?" Tutur Dong Huang sambil menatap tajam.
"Terus, apakah pencarian ku harus dihentikan?" Tanya Fan Tian lagi.
"Apakah belum cukup kau menanyakan nama kakakmu kepada setiap orang yang kau temui beberapa waktu yang lalu!? Dan apakah mereka mengenalinya!?"
"Sudahlah, hentikan pencarianmu di kota ini, sebab kakakmu tidak berada di kota ini." Tutup Dong Huang dengan nada jengkel.
Fan Tian pun mengikuti Dong Huang dari belakang untuk mencari penginapan bagi keduanya.
"Tadi baru saja melarikan diri dari pendekar yang ingin menangkapnya...setelah itu masih berniat untuk mencari keberadaan kakaknya...dasar bocah bodoh!" Dong Huang mengumpat.
"Bagaimana bisa mereka mengejar kita jika rekan-rekan mereka sudah aku lumpuhkan." Pikir Fan Tian sambil tersenyum seakan meledek wanita yang berjalan didepannya itu.
"Nona Dong, apakah aku boleh bertanya!?" Tutur Fan Tian.
"Silahkan! Apa yang ingin kau tanyakan? Tetapi ingat, jangan bertanya hal yang tidak-tidak!" Balas Dong Huang.
"Apakah semenjak kita berpisah, kau tetap mengawasiku?"
"Tidak! Untuk apa aku mengawasi dirimu? Apa untungnya bagiku!?" Jawab Dong Huang dengan wajah yang memerah
"Terus, mengapa kau bisa secepat itu datang untuk menolong ku? Apakah itu hanya kebetulan saja?" Tanya Fan Tian lagi.
"Iya! Boleh dikata itu hanya kebetulan saja." Jawab Dong Huang dengan nada ketus.
"Jika itu kebetulan, sebenarnya apa yang sedang kau lakukan ditempat sesunyi itu?"
"Sudahlah! Tidak perlu dibahas lagi...apa gunanya kita membahas hal seperti itu?" Ujar Dong Huang dengan nada suara yang terdengar sangat jengkel.
"Mendengar dari nada suaramu, sepertinya kau sedang marah...apakah kau marah jika aku bertanya seperti itu?" Fan Tian mencoba untuk menggoda Dong Huang.
"Hentikan bualanmu itu! Lihat, sepertinya penginapan itu cocok untuk kita gunakan beristirahat." Tutur Dong Huang mengalihkan pembicaraan.
"Apakah kita akan menggunakan satu kamar saja?" Tanya Fan Tian lagi.
"Iya! Jika kau menggunakan kamar terpisah denganku, nantinya itu akan menimbulkan kecurigaan dan bisa mengungkapkan penyamaranku." Jawab Dong Huang.
"Jika kita menggunakan satu kamar saja, siapa yang akan tidur di ranjang?" Tanya Fan Tian lagi.
"Aku yang akan tidur diranjang! Dan kau tidur dilantai saja!" Jawab Dong Huang dengan nada yang sedikit membentak.
"Bagaimana jika aku sakit karena semalaman tidur dilantai?" Tanya Fan Tian lagi.
"Kau ini, semakin lama ternyata kau semakin membuatku kesal...hentikan bualanmu itu dan cepat pesan satu kamar untuk kita!" Perintah Dong Huang.
"Selamat datang tuan-tuan...apakah kalian ingin menyewa kamar untuk beristirahat?" Tanya pelayan yang menyambut keduanya.
"Iya! Siapkan satu kamar untuk kami." Jawab Fan Tian.
"Baik tuan...mari, silahkan selesaikan dahulu pembayarannya." Ucap ramah pelayan itu.
Dong Huang pun segera merogoh kantongnya dan memberikan sekeping perak kepada Fan Tian.
"Jangan sampai terlihat kantongmu itu, karena itu bisa mengungkapkan penyamaranmu." Bisik Fan Tian.
Dong Huang dengan perasaan malu secepatnya menyimpan lagi kantong miliknya yang memang milik seorang wanita
~Bersambung~
__ADS_1