
Kini Fan Tian sudah berada di ruang kerja Li Zian dan sedang berbincang-bincang dengan kakeknya itu.
Li Zian terus bertanya tentang apa yang telah dia dengar dari putranya mengenai keadaan Li Yan ibu Fan Tian serta keluarganya yang lain.
Mengetahui jika Fan Tian memiliki seorang kakak dan menggunakan bagian lain dari buah kalung yang dipakai oleh Fan Tian, Li Zian pun kini menjadi bersemangat untuk bisa menemukan juga salah satu cucunya tersebut.
Namun ia tidak mengungkapkan keinginannya tersebut kepada Fan Tian, agar pendekar muda itu tidak terbeban dengan hal tersebut.
Dan untuk situasi saat itu, Li Zian sendiri belum bisa mengungkapkan hubungan mereka didepan umum, karena situasi politik di ibu kota saat itu tidak dalam keadaan yang baik.
Sebab semua pejabat negara saling curiga satu dengan yang lain akibat pergerakan yang terjadi di kota - kota lain serta di ibu kota negeri Zhong.
Tidak hanya klan Wang, sang raja juga kini mulai mencurigai Li Zian meskipun keduanya bersaudara.
Raja berpikir bahwa Li Zian akan bekerja sama dengan klan lain untuk menggulingkan pemerintahannya agar bisa menggantikan posisinya sebagai raja.
Sehingga situasi politik yang ada semakin sulit untuk bisa ditebak oleh siapapun, karena sudah saling mencurigai.
Akhirnya Li Zian kembali berkata "Tian'er, kapan kau akan meninggalkan kota ini?" Tanya Li Zian.
"Aku bersama dengan dua wanita itu akan meninggalkan kota Guancheng ini saat pertarungan antara dua pendekar pedang itu berlangsung." Jawab Fan Tian.
"Mengapa kau berpikir untuk pergi saat pertarungan itu terjadi?" Tanya Li Zian penasaran.
"Agar fokus jenderal Wang Zijun bersama pasukannya teralihkan." Jawab Fan Tian.
"Menurut kakek, keputusan mu itu sedikit keliru, sebab mereka pasti akan merasa lebih curiga lagi jika ada orang yang ingin meninggalkan kota ini dan tidak merasa tertarik dengan pertarungan kedua pendekar pedang itu, sehingga saat itu tidak tepat bagi kalian untuk pergi." Li Zian menanggapi jawaban Fan Tian.
Pendekar muda itu pun langsung terdiam dan mulai memikirkan perkataan kakeknya.
"Benar juga...bagaimana mungkin ada orang yang tidak tertarik dengan pertarungan kedua pendekar pedang itu? Sepertinya aku harus menunda rencanaku untuk meninggalkan kota ini." Pikir Fan Tian.
"Tian'er, sebaiknya kalian bertiga meninggalkan kota ini dua atau tiga hari lagi setelah pertarungan itu terjadi, kakek akan mengaturnya untuk kalian, karena saat itu akan ada banyak bangsawan yang akan kembali ke kota mereka setelah menyaksikan pertarungan itu." Terang Li Zian.
"Baik, aku akan mengikuti apa yang kakek rencanakan." Balas Fan Tian langsung menyetujui tawaran kakeknya.
Li Zian pun tersenyum puas karena putra dari putri satu-satunya ini ingin tinggal lebih lama lagi di kediaman mereka, sehingga akan ada banyak waktu untuk bisa bersama.
Li Zian pun kembali bertanya "Apakah kau sedikitpun tidak tertarik untuk tinggal di kota Guancheng ini!?" Tanya Li Zian ingin mengetahui apa yang Fan Tian pikirkan.
"Kakek, mohon maaf sebelumnya...aku merasa lebih baik hidup bebas sebagai seorang pendekar, sebab aku tidak terbiasa dengan aturan sebagai keluarga kerajaan." Jawab Fan Tian.
"Namun kakek tidak perlu khawatir, sebab aku akan sering datang untuk mengunjungi kalian disini." Lanjut Fan Tian menghibur.
"Padahal jika kau ingin tinggal di kota ini, kakek sudah memikirkan jabatan yang sangat cocok untukmu. Tetapi karena kau tidak ingin tinggal, kakek tidak bisa memaksamu." Kata Li Zian menanggapi jawaban Fan Tian.
Keduanya pun terus berbincang-bincang mengenai klan Li hingga pada akhirnya membahas jurus pedang andalan keluarga Li yang terus diturunkan dari generasi ke generasi.
"Tian'er, jurus pedang keluarga kita adalah jurus yang sangat kuat, sehingga semua pendekar didunia persilatan sangat menghormati keluarga kita. Itulah mengapa keluarga kita bisa menjadi pemimpin di Negeri Zhong ini..."
__ADS_1
"Namun, aku bersama dengan Yang Mulia Raja, tidak satupun dari kita yang bisa menguasainya. Begitu juga dengan anak-anak dan cucu kita..."
"Mendengar kemampuanmu, kakek pikir kau adalah seorang pendekar muda yang sangat jenius...bagaimana jika kau mencoba untuk mempelajarinya terlebih dahulu sebelum kau meninggalkan kota ini!?" Tutup Li Zian dengan pertanyaan.
"Apakah jurus pedang keluarga kita sebelumnya benar-benar adalah jurus pedang nomor satu di Negeri Zhong ini?" Fan Tian tidak menjawab namun balik bertanya untuk bisa meyakinkan dirinya.
"Itu benar! Dulu kakek buyutmu adalah seorang pendekar pedang nomor satu dinegeri Zhong ini sebelum dirinya menjadi seorang raja." Jawab Li Zian meyakinkan cucunya.
"Tetapi aku sama sekali tidak memiliki dasar teknik pedang, sebab senjataku adalah sebuah tombak." Ungkap Fan Tian.
"Tian'er, itu tidak menjadi masalah...bila dibandingkan dengan sekte Shaolin, seluruh muridnya saja berlatih dengan semua jenis senjata...jadi kau bisa mencobanya juga." Tutur Li Zian menjelaskan.
"Baiklah, aku akan mencobanya...namun, sebelumnya aku mohon kakek jangan terlalu menaruh harapan yang tinggi terhadap diriku." Balas Fan Tian.
"Sepertinya hanya dengan hal itu sehingga bisa membuatnya bisa tinggal lebih lama di kota ini." Pikir Li Zian sambil tersenyum bahagia.
Pria tua itu pun segera berdiri dan berjalan menuju ke salah satu tempat didalam ruang kerjanya itu.
Fan Tian hanya bisa mengikuti dengan tatapannya dan merasa penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh kakeknya.
Tidak lama kemudian, Li Zian pun kembali sambil membawa sebuah gulungan ditangannya.
"Tian'er, ambil ini." Ucap Li Zian sambil menyerahkan gulungan tersebut.
Fan Tian pun segera menerimanya dan mulai memperhatikan gulungan itu.
"Itu adalah salinan dari kitab pedang yang asli. Dan isinya tidak ada yang berbeda sedikitpun dari kitab aslinya." Li Zian menjelaskan.
Fan Tian pun segera membuka benang yang mengikat gulungan tersebut kemudian mulai membukanya.
Fan Tian kini bisa melihat ada beberapa gambar dan diikuti dengan tulisan terpampang didepan matanya.
Setiap tulisan yang dia baca, serta gerakan yang digambar, langsung tergambar didalam pikirannya dan dengan cepat bisa dipahami.
Energi qi didalam tubuh Fan Tian perlahan mulai merembes keluar dan sangat menarik perhatian Li Zian.
"Apakah dia sedang mencoba untuk memahami jurus pedang itu!?" Pikir Li Zian heran.
"Sepertinya jurus pedang ini memang sangat dasyat...aku akan mencoba untuk bisa menguasai sampai ke tingkat yang tertinggi." Pikir Fan Tian yang telah menguasai teknik dasar jurus pedang tersebut.
Fan Tian pun segera menghentikan tindakannya dan berniat untuk mempelajari jurus pedang itu di paviliun yang dia tempati serta akan segera mempraktikkannya di halaman belakang bangunan tersebut.
"Kakek, sepertinya teknik ini sangat menarik... aku akan mencoba untuk bisa segera menguasainya..."
"Namun aku merasa ada yang kurang jika aku ingin mempelajarinya." Tutup Fan Tian.
Li Zian sempat terdiam dan memikirkan maksud dari perkataan cucunya itu.
"Apakah kau membutuhkan sebuah pedang!?" Tanya Li Zian mencoba untuk menebak maksud dari Fan Tian.
__ADS_1
"Itu benar." Jawab Fan Tian singkat.
"Ha...ha...ha...ha...ha, aku pikir hal apa yang kurang...ternyata sebuah pedang..."
"Baiklah, kakek akan memberikanmu pedang milik salah satu pamanmu yang sudah lama tidak pernah digunakan...meskipun begitu, kakek selalu merawatnya." Tutur Li Zian dan segera pergi untuk mengambil pedang tersebut.
Setelah ia kembali, Li Zian pun kembali berkata.
"Dan perlu kau ingat, pedang ini bukanlah pedang yang buruk, sebab pedang ini ditempa dari sebuah batu meteor oleh seorang pendekar agung puncak beberapa ratus tahun yang lalu, sehingga pedang ini juga adalah pedang pusaka. Meskipun hanya ditingkat pusaka bumi." Li Zian menjelaskan sambil menyerahkan kepada Fan Tian.
"Mengapa pedang ini sudah tidak dipakai?" Tanya Fan Tian penasaran.
Wajah Li Zian langsung berubah dan terlihat sedih.
Fan Tian langsung memahami apa yang dipikirkan oleh kakeknya tersebut.
"Kakek, maafkan aku jika sudah membuatmu sedih." Ucap Fan Tian tulus.
"Kakek tidak apa-apa...hanya saja aku teringat dengan pamanmu yang saat itu terlalu memaksakan dirinya untuk ikut ke medan pertempuran di usianya yang masih sangat muda."
"Dan peristiwa itulah yang merenggut nyawanya." Tutup Li Zian.
"Kakek tidak perlu menceritakannya kepadaku, sebab itu bisa membuat kakek akan semakin merasa sedih lagi." Ucap Fan Tian.
Li Zian pun mengangguk pelan mengiyakan ucapan Fan Tian dan melanjutkan pembicaraan mereka.
Setelah selesai berbincang-bincang dengan Li Zian, akhirnya Fan Tian pun segera kembali ke paviliun yang dia tempati.
Pemuda itu langsung menyimpan pedang dan gulungan salinan kitab jurus pedang yang diberikan oleh Li Zian.
Tidak butuh waktu yang lama bagi Fan Tian untuk bisa tiba di paviliun yang dia tempati.
"Fan Tian, apakah kau dan Paman Kerajaan telah membahas mengenai identitas mu?" Tanya Dong Huang langsung menyambut kedatangan Fan Tian.
Fan Tian hanya mengangguk pelan menjawab pertanyaan Dong Huang dan terus berjalan masuk.
"Dimana nona Bei Feiyan?" Tanya Fan Tian.
"Dia sedang berada dikamarnya." Jawab Dong Huang.
"Ohh...kedepannya, kau jangan sampai memanggil ku dengan nama itu, sebab kau bisa mengungkapkan identitasku." Ucap Fan Tian mengingatkan.
"Baik!" Balas Dong Huang singkat.
"Aku akan ke kamarku...sebaiknya kau segera ke kamarmu dan beristirahat juga." Ucap Fan Tian dan meninggalkan Dong Huang.
Wanita itu hanya bisa menatap kepergian Fan Tian dan segera berjalan juga untuk menuju ke kamarnya.
Setelah tiba di kamar, Fan Tian pun mulai membaca salinan kitab tersebut dan mulai menguasai satu demi satu setiap gerakan yang ada.
__ADS_1
~Bersambung~